

inNalar.com – Puasa Rajab diyakini sebagian umat Islam sangat istimewa sehingga menimbulkan pertanyaan, apa perbedaannya dengan Ramadhan?.
Pada bulan Ramadhan pun umat Islam diwajibkan beribadah lebih banyak, berpuasa, i’tikaf, tarawih, sedekah, dan lain sebagainya.
Maka sebenarnya yang disebutkan di dalam riwayat hadits dilakukan oleh Rasulullah SAW bagian dari peningkatan ibadah.
Baca Juga: Bagaimana Hukumnya Berwudhu di Kamar Mandi atau Toilet? Berikut Penjelasan Ustadz Adi Hidayat
Aisyah dan Ibnu Abbas menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW sering puasa Rajab seakan tidak pernah berbuka.
Tetapi Rasulullah SAW juga disebutkan bahwa ketika memasuki bulan istimewa ini selalu makan seakan tidak berpuasa.
Dilansir inNalar.com dari video yang diunggah di kanal YouTube Media Dakwah Hikmah TV pada 13 Februari 2021 inilah penjelas Ustadz Adi Hidayat.
Baca Juga: PBNU Resmi Tetapkan Awal Rajab 1443 Hijriah Jatuh Pada Tanggal 3 Februari 2022, Simak Alasannya
“Maksudnya apa?, maksudnya kalau anda ingin meningkatkan puasa di bulan-bulan haram (Muharram, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab) boleh saja,” ujar Ustadz Adi Hidayat.
Jika dasar yang digunakan untuk beribadah di puasa Rajab sama dengan bulan haram lainnya, maka ini benar.
Pahala puasa di bulan Rajab dengan tujuan untuk menghindari maksiat, maka akan berlipat ganda yang didapatkan.
Puasa di bulan Rajab bisa dilakukan pada hari Senin, Kamis, ayyamul bidh, dan daud seperti biasanya bagi yang mengerjakan.
Bisa juga bagi yang ingin puasa Senin saja, hanya Kamis, dan bisa juga hari Selasa serta Rabu lalu selanjutnya istirahat.
Tidak hanya saat Rajab saja, puasa tersebut bisa dikerjakan juga di bulan-bulan haram lainnya yang empat tersebut.
Tetapi jika puasa dengan tujuan khusus meyakini puasa Rajab bisa mengampuni dosa, ini tentu salah dan menjadi soal.
Pertanyaannya jika amalan saat Rajab bisa mengampuni dosa, maka untuk apa lagi berpuasa di bulan Ramadhan?.
Puasa di bulan Ramadhan yang hukumnya wajib memiliki tingkatan lebih tinggi jelas lebih utama dari saat Rajab.
Walaupun sebenarnya semua ibadah sama-sama sangat dianjurkan, dan memiliki keutamaannya masing-masing bagi orang yang melakukannya.***