

inNalar.com – Berdasarkan keterangan dari Kementerian Kesehatan Indonesia, jumlah total kasus Covid di Indonesia per tanggal 5 Februari 2022 telah mencapai 4.446.694 kasus yang terkonfirmasi.
Sedangkan untuk kasus aktif saat ini berjumlah 140.254 kasus. Telah terjadi penambahan jumlah kasus harian sebanyak 32.221 yang dilaporkan pada hari ini.
Kenaikan jumlah kasus aktif yang terus terjadi selama beberapa pekan terakhir di Indonesia memicu terjadinya gelombang ketiga virus Covid di Indonesia. Namun angka kenaikan kasus Covid tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di berbagai belahan negara di dunia.
Baca Juga: Hari Valentine 2022, Simak Kumpulan Ucapan Paling Romantis untuk Pasangan di Sini
Hal ini tidak lain karena dipicu oleh virus Covid varian Omicron yang disinyalir memiliki penyebaran yang tinggi. Bahkan daya tular varian ini lima kali lebih tinggi dari pada varian delta. Varian Omicron ini pertama kali ditemukan di negara-negara Afrika bagian selatan.
Di Indonesia, masuknya virus Covid varian Omicron tersebut diduga terjadi sejak 27 November 2021. Virus Covid varian Omicron tersebut diduga berasal dari warga negara Indonesia (WNI) yang baru tiba dari Nigeria dan melakukan karantina di Wisma Atlet.
Menurut Dr Maria Van Kerkhove yang dilansir dari video WHO yang diunggah pada tanggal 17 Desember 2021, varian Omicron ini memiliki penyebaran dan transmisi yang tinggi dibanding varian lainnya.
Dilansir dari video tersebut, orang-orang yang telah terserang varian Omicron memiliki spektrum penyakit yang lengkap mulai dari infeksi tanpa gejala, infeksi ringan, orang yang membutuhkan rawat inap, hingga orang yang meninggal akibat Omicron.
Disampaikan oleh Dr Maria Van Kerkhove di dalam video tersebut, “kami memiliki laporan awal yang menunjukkan bahwa Omicron kurang parah dibandingkan dengan Delta. Namun, jika sekali lagi, jika kita memiliki lebih banyak kasus, lebih banyak kasus berarti lebih banyak rawat inap, dan jika sistem perawatan kesehatan terbebani, orang akan mati karena tidak mendapatkan perawatan yang sesuai yang mereka butuhkan.
Jadi, masih terlalu dini untuk mengetahui apakah Omicron lebih parah atau tidak, tetapi kami memiliki beberapa laporan awal bahwa itu tidak terlalu parah. Sekarang, jangan tertipu. Bahkan jika kita memiliki virus yang menyebabkan penyakit yang tidak terlalu parah, virus ini dapat menyerang populasi yang rentan. Apabila mereka terinfeksi varian SARS-CoV-2, termasuk Omicron, mereka berisiko lebih tinggi terkena penyakit parah.”
Hal ini diperkuat dengan keterangan dari Kementerian Kesehatan bahwa meskipun Omicron memiliki penularan yang tinggi, namun tingkat keparahannya lebih rendah.
Dari banyaknya kasus yang ada, sebagian besar kasus Omicron tersebut adalah tanpa gejala atau asimptomatik. Sehingga lebih banyak pasien yang melaksanakan isolasi mandiri dibanding rawat inap di rumah sakit.
Varian Omicron tersebut diketahui kerap memicu gejala ringan, diantaranya flu, demam, pilek dan batuk sehingga dapat diobati tanpa perlu ke rumah sakit.
Baca Juga: Jangan Bingung, Ini 10 Ucapan Romantis Hari Valentine 2022 Bahasa Inggris dan Terjemahan
Dengan demikian, rumah sakit dapat diprioritaskan untuk lansia ataupun penderita yang memiliki penyakit komorbid.***