[Cerpen] Tabir

 

Suasana café yang berada di tengah rimbunnya pepohonan terlihat sepi di hari Jumat ini. Hanya terlihat beberapa pengunjung yang tengah menikmati kudapan khas café tersebut. Suara gemericik gerimis perlahan terdengar, tetesannya sedikit demi sedikit membasahi jendela di samping tempat Nara duduk.

Nara sangat menyukai café ini. Letaknya agak tersembunyi dari jalan besar. Membuatnya jauh dari kebisingan yang dibenci Nara.

“Aku ingin berhenti.” Ucapan Nara mengagetkan seseorang yang ada di depannya.

“Apa maksudmu?” Tommy menghentikan jari-jemarinya dari pena dan tumpukan buku. Pandangannya beralih kepada wajah Nara yang datar seperti biasanya.  Gadis itu meraba buku novel tebal berjudul ‘Tabir’ yang sejak tadi berada di hadapannya.

Baca Juga: [Cerpen] The Same Person

“Ini novel terakhirku. Setelah ini aku tidak akan menulis lagi,” ujarnya tanpa ragu. “Terima kasih karena telah membantuku selama tiga tahun ini, Tommy. Entah apa jadinya aku jika kau tidak ada,” lanjutnya.

Tommy terdiam demi mendengar keputusan Nara. Diyanara Sastriaka. Penulis lima belas novel best seller yang telah menghasilkan berbagai penghargaan bergengsi dari dunia sastra Indonesia, kini berniat berhenti dari dunia kepenulisan yang telah melambungkan namanya.

Sebagai asisten sekaligus editor yang sudah lama membersamai perjalanan Nara, sangat sulit bagi Tommy untuk mencerna keputusan Nara yang tiba-tiba.

“Sayang sekali, Nara. Banyak pembaca menyukai tulisanmu. Karyamu sangat unik.  Kamu bisa melihat dunia dengan cara yang berbeda meskipun kamu … “ Tommy tidak melanjutkan  ucapannya. Nara mendengus. “Maaf,” ucap Tommy pelan.

“Tak apa. Lanjutkan saja. Memang itu kenyataannya. Kenyataan pahit yang harus aku tanggung selama tiga tahun ini.” Nara beranjak dari kursinya.

“Nara, kamu mau kemana?” Tommy mencoba menghentikan langkah Nara.

“Jangan halangi aku,” jawabnya singkat.

“Kamu tidak bisa pulang sendiri. Biar aku antar.”

“Aku bisa memanggil taksi.” Dengan mata yang selalu tertuju ke depan dan langkah yang tertatih, Nara pergi dengan keyakinannya yang sudah bulat.

“Maafkan aku, Ayah. Aku sudah tidak sanggup lagi,” pekik Nara dalam hati. Mata bulatnya tergenang oleh cairan kesedihan. Namun karena hujan turun, tidak ada yang bisa melihat Nara menangis.

Baca Juga: Review Buku ‘Tak Masalah Jadi Orang Introver’ Karya Sylvia Loehken, Wajib Dimiliki Oleh Kaum Anti Basa-basi

***

Tiga tahun lalu …

“Ayah! Ayah!!! Bangun, Ayah!” Nara menggoncang-goncangkan tubuh orang yang sangat dicintainya yang sudah terbujur kaku. Kecelakaan mobil parah yang menimpa Nara dan ayahnya, telah merenggut nyawa orang  yang disayanginya. Tidak hanya nyawa ayahnya, insiden itu juga telah mengambil hal yang sangat berharga dari diri Nara.

Pasca kecelakaan tragis tersebut, hidup Nara bagai terombang-ambing di samudera nan luas. Tak tentu arah, tak tahu kemana ia harus menuju. Padahal, ia baru saja menyelesaikan novel ke sepuluhnya. Novel itu terbit tepat sebulan setelah meninggalnya sang ayah.

“Padahal … padahal novel itu Nara persembahkan untuk Ayah, tapi Ayah belum sempat membacanya,” lirih Nara berkata dalam hati.

Sebagai penulis muda, Nara mendapatkan banyak inspirasi dari sang ayah. Ayahnyalah yang menurunkan bakat menulis kepada Nara. Pekerjaan ayahnya sebagai jurnalis dan pengisi kolom artikel sebuah koran, sedikit banyak membuat Nara termotivasi untuk mengikuti jejak sang ayah meski di jalur yang berbeda.

Baca Juga: Malu-Malu, Park Solomon Ungkap Adegan Favorit dalam All of Us Are Dead

***

“Nara, barusan ada surat dari kantor pos. Sepertinya undangan untuk mengisi seminar kepenulisan. Ibu bacakan, ya?”

Stop, Bu!” Nara mencegah ibunya untuk membuka amplop coklat tersebut. “Nara sudah bilang kepada Ibu, jangan pernah ingatkan Nara lagi untuk kembali ke dunia kepenulisan.” Kali ini suara Nara meninggi tidak seperti biasanya.

Ibu Nara bukannya tidak tahu penderitaan yang dialami putrinya. Tetapi terus terjebak dalam kepedihan masa lalu juga tidak akan pernah bisa memperbaiki keadaan. Sekelam apapun masa-masa sulit yang telah dilewati, ibunya mencoba untuk terus menepis kenangan-kenangan buruk itu. Hanya Nara yang ia miliki saat ini. Hanya Nara harapan satu-satunya selepas kepergian suaminya.

Lagi-lagi sungai kecil membasahi mata bulat Nara. Dengan susah payah Nara mencoba mencari tissue untuk menghalau lelehan air matanya. Sang ibu membiarkan sang anak melepas emosinya berharap agar hati Nara segera tenang.

***

Sudah seminggu ini hampir seluruh media massa di kota tersebut membicarakan perihal novel ‘Tabir’ karangan Nara yang menduduki puncak teratas dalam penjualan di toko buku mengalahkan penulis-penulis lainnya. Berbagai komentar muncul tidak hanya dari pembaca tetapi juga dari beberapa pengamat literasi dan sastrawan-sastrawan terkenal.

Kepiawaian Nara dalam kalimat-kalimat yang ditulisnya mampu menyihir siapa saja yang membacanya. Tak ayal novel tersebut meraih penghargaan sebagai buku dengan jumlah penjualan terbanyak di tahun ini. Nama Nara terus menggema seantero negeri. Bukan hanya karena bagusnya cerita yang ada di novel itu, tetapi juga karena penulisnya merupakan seorang gadis buta.

***

Rekomendasi