

inNalar.com – Isra Miraj 2022 akan segera diperingati dalam waktu dekat, setiap tahun juga akan selalu terulang.
Bila peristiwa besar tersebut hanya dianggap seremonial belaka, tujuan peringatan menjadi hampa tak bernilai.
Untuk itu penting bagi umat Islam mengetahui ilmu dan hikmah dari Isra Miraj 2022 yang dahulu dilakukan Rasulullah.
Baca Juga: Waspada Hari Valentine 2022 Jadi Perayaan Seks Bebas, Simak Daftar Kasusnya di Indonesia
Masih banyak rahasia ilmu dan hikmah yang belum diketahui dari perjalan istimewa yang dilakukan Rasulullah SAW itu.
Termasuk dengan kata langit, apakah yang dimaksud dengan Rasulullah SAW naik ke atas tersebut sama dengan makna saat ini?.
Dilansir inNalar.com dari video yang diunggah di kanal YouTube Al-Bahjah TV pada 26 Februari 2021, Buya Yahya menjelaskan makna langit yang dimaksud.
Baca Juga: PTM 100 Persen di Cianjur Dihentikan Untuk Sementara, Ketua FPKBM Cianjur Angkat Bicara
“Langit adalah termasuk yang ghaib, memang karena langit itu adalah ghaib maka diarahkan ke atas,” jelas Buya Yahya.
Padahal yang di atas itu sebenarnya hanya warna saja, dan tidak ada benda atau wujud yang disebut langit.
Maka ada warna yang kemudian disebut dengan biru langit, jadi yang benar yang dimasud Rasulullah SAW naik ke atas adalah ghaib.
Ketika diarahkan langit itu ke atas dan semakin naik terus, maka di sanalah terdapat Sidrotul Muntaha.
Baca Juga: Viral Debt Collector Diduga Aniaya dan Rebut Paksa Mobil Milik Seorang Pria di Surabaya
Buya Yahya kemudian menegaskan sesuai pemahaman dirinya bahwa perlu hati-hati juga ketika mendengar Sidratul Muntaha.
Menurut Buya Yahya, Sidratul Muntaha bukanlah tempat Allah SWT berada seperti yang diyakini sebagian orang.
Buya Yahya kemudian melanjutkan penjelasan terkait makna langit yang dimaksud dalam perjalan Isra Miraj Rasulullah SAW.
Sampai ada disebutkan bahwa wahyu diturunkan kepara Rasulullah SAW di langit terendah yaitu dunia, itu juga ghaib.
Hal yang ghaib walaupun tidak diketahui tetap harus dipercaya. Lalu bila ada gambaran bahwa langit itu seperti rak bertingkat tidak benar.***