Film Kukira Kau Rumah Banjir Kritikan di Media Sosial TikTok, Ternyata Ini Penyebabnya


inNalar.com – Film kukira kau rumah yang ramai menjadi pembicaraan publik terutama di platform TikTok tidak hanya menuai pujian namun juga menuai kritikan.

Salah satu kritik yang dilayangkan oleh penonton adalah kurangnya fokus terhadap isu yang diangkat film tersebut yakni kesehatan mental yang membuat penonton tidak menemukan titik terang terhadap masalah tersebut.

Salah satu konten kreator, Fuadh Naim, yang juga ahli di bidang pembuatan video pernah membahas mengenai unsur penting yang dimiliki oleh film maupun series yang ada di Korea, yakni pentingnya penempatan planting dan pay-off yang baik.

Baca Juga: Ririe Fairus Bongkar Aib Rumah Tangganya, Ibunda Ayus: Mama yang Salah

Planting dalam dunia perfilman adalah adegan atau informasi yang diberikan kepada penonton dengan tujuan agar penonton paham dengan baik jalan ceritanya. Sementara itu, pay-off adalah reaksi penonton yang diinginkan oleh pembuat film akibat dari planting yang sudah diberikan sejak awal.

Unsur tersebut sangat penting. Pembuat film pun sudah seharusnya memikirkan secara matang reaksi penonton yang diharapkan di setiap adegan atau episodenya, sehingga penempatan maupun gerak-gerik aktornya harus diatur sedemikian rupa.

Namun, pada film Kukira Kau Rumah ini banyak yang mempertanyakan maksud dari beberapa adegan, contohnya, mengapa ayah Kala sangat posesif?

Baca Juga: Podcast Bareng Atta Halilintar, dan Aurel Hermansyah, Pernyataan Fuji Ini Bikin Nyali Thariq Halilintar Ciut

Mengapa Pram bisa mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya? Dan banyak pertanyaan lainnya.

Hal ini tentu saja sangat disayangkan karena ketertarikan penonton untuk lebih mengetahui dan ikut merasakan orang-orang yang memiliki isu kesehatan mental terutama Bipolar Disorder tidak terlaksana dengan baik.

Film ini hanya membingkai orang-orang tersebut menjadi mudah marah dan tantrum. Meskipun begitu, film ini sangat terbantu oleh akting Prilly Latuconsina yang sangat baik.

Baca Juga: Hari Internet Aman se Dunia 10 Februari 2022, Keamanan Data Pribadi di Platform Digital Tanggung Jawab Siapa?

Ketidaksesuaian film tersebut dengan isu kesehatan mental yang diangkat juga menggambarkan bagaimana industri perfilman mengeksekusi film mereka.

Planting yang seharusnya diletakkan di setiap adegan tidak dilakukan dengan baik, sehingga pesan yang ingin disampaikan terlewat ataupun tidak disadari oleh penonton.

Padahal dengan minat penonton yang begitu besar, film ini dapat menjadi ikonik karena film yang mengangkat isu kesehatan mental yang kemudian meledak dimana-mana sangat sedikit.

Baca Juga: Promo Valentine 2022, Beli Tiga Menu di Gokana Cuma di Bawah 50 ribu, Jangan Sampai Kehabisan!

Harapan kedepannya, semoga seluruh industri film yang ada di Indonesia lebih memperhatikan kembali peletakan planting, dan merencanakan dengan baik pay-off yang diharapkan dari penonton sehingga perasaan dan pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton.***

Rekomendasi