Jelang Ramadhan 2022 atau 1443 Hijriah, Simak Penjelasan Gus Baha Terkait Metode Hisab dan Rukyah

inNalar.com – Ramadhan 2022 atau 1443 H akan segera tiba menyapa kaum muslimin di belahan bumi manapun berada.

Termasuk di negeri Indonesia tercinta, sebelum Ramadhan umumnya akan diadakan sidang isbat penentuan awal bulan hijriah.

Penyelenggaranya adalah Kementerian Agama (Kemenag), selaku penanggung jawab dari urusan terkait kepercayaan semua warga negara.

Baca Juga: Liverpool vs Inter di Leg Pertama Babak 16 Besar Liga Champions, Simak Ulasan dan Prediksinya Berikut Ini

Ada dua cara yang sering terdengar ketika berbicara penentuan awal Ramadhan, yaitu hisab dan rukyah.

Ada sebagian kalangan yang memiliki kecenderungan kepada salah satu yaitu rukyah saja misalnya, sehingga menganggap yang lain tidak benar.

Dilansir inNalar.com dari video yang diunggah di akun Facebook Ngaji Sarjana pada 1 September 2020, Gus Baha menjelaskan tentang hisab dan rukyah.

Baca Juga: Real Madrid vs PSG, Sergio Ramos Tak Masuk dalam Daftar Skuad PSG, Simak Ulasan Selengkapnya

Pada fiqih Mazhab Syafi’i, hisab menentukan awal Ramadhan sebenarnya bisa digunakan dengan syarat pasti dan konsensus.

Meskipun ada tradisi dilakukan sebagian kalangan pesantren seolah menolak metode hisab dalam menentukan awal Ramadhan.

Ternyata itu tidak dibenarkan oleh Gus Baha, dirinya menerangkan sebabnya yaitu  Al Quran menyebutkan tentang hisab.

Baca Juga: Kenali 7 Ciri-ciri Orang Berkelas, Salah Satunya ‘Tidak Butuh Pengakuan’

Seperti firman Allah SWT berikut:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ

Artinya: Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). (QS. Yunus 5).

Hanya saja masalahnya yaitu ketika yang melakukan metode hisab tersebut satu atau dua orang saja.

“Itu kadang ada subjektivitas atau kurang ahli, sehingga salah (menentukan hisab), disini dibutuhkan konsensus (hisab qath’i).” Ujar Gus Baha.

Misalnya kasus beberapa tahun lalu, ketika pemerintah memutuskan hari raya tetapi Muhammadiyah dan NU sudah mengeluarkan hasil hisabnya.

Baca Juga: Dzikir Hasbunallah Wanikmal Wakil Lengkap dengan Teks Arab, Latin dan Arti, Simak Manfaat serta Keutamaanya

Muhammadiyah mengumumkan hasil hisab 3 derajat, sementara NU hampir sama yakni di bawahnya sedikit yaitu 2,5.

Menurut Gus Baha, bila terjadi begitu maka sudah tidak perlu lagi sidang isbat penentuan awal Ramadhan. Karena sudah jelas hasil hisab derajatnya tinggi, dan bisa diambil sebagai dasar memasuki awal Ramadhan.

Berbeda dengan penentuan hisab bulan Dzulhijjah yang akan terkait dengan ibadah haji pada beberapa tahun lalu.

Di mana ada yang mengatakan hasil hisab 1,5 dan belum sampai 2 derajat, jika tidak terlalu rendah dan subjektif maka boleh diikuti dan boleh tidak.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]