

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan mengenai fenomena hujan es ini.
Hujan es berasal dari awan Cumulonimbus dengan suhu puncak es hingga -80°C. Terdapat updraught atau aliran udara yang naik ke dalam awan dengan sangat kuat, sehingga menyebabkan awan tumbuh menjulang tinggi hingga lebih dari 5 KM.
Awan yang tumbuh tersebut membawa uap air dari bagian bawah awan, kemudian tertarik ke atas melewati freezing level. Akibatnya, terjadi pengembunan secara tiba-tiba membentuk bongkahan es dengan ukuran besar yang jatuh seiring dengan aliran udara ke bawah atau downdraft dengan sangat kuat.
Baca Juga: 8 Santri Tewas Dalam Insiden Kebakaran di Ponpes Miftahul Khoirot Karawang, Berikut Identitasnya
Es tersebut tidak sempat mencair hingga mencapai permukaan tanah, karena rendahnya suhu udara lingkungan. Kejadian hujan es sangat singkat dengan durasi 3-5 menit dan disertai dengan angin kencang.
Perlu diingat bahwa partikel es dari hujan es tidak dapat dikonsumsi karena kemungkinan besar mengandung polutan yang ikut terlarut saat terjadinya proses kondensasi.
Kondisi yang rawan bencana ini, tetap untuk selalu menjaga keselamatan dimanapun kita berada.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi