Isra Miraj 2022, Berikut Kisah Muawiyah Bin Abu Sufyan, Pendiri Dinasti Umayyah yang Meninggal Pada 22 Rajab


inNalar.com – Jelang peringatan Isra Mi’raj, pendiri Dinasti Umayyah, Muawiyah Bin Abu Sufyan meninggal karena sakit di Damaskus pada 22 Rajab 60 H (April atau Mei 680 M), dalam usia 80 tahun.

Catatan abad pertengahan bervariasi mengenai tanggal spesifik kematiannya, dengan Hisham Bin al-Kalbi mencatatnya pada 7 April, al-Waqidi pada 21 April, dan al-Mada’ini pada 29 April.

Yazid (Putra Muawiyah) yang sedang berada jauh dari Damaskus pada saat kematian ayahnya, kemudian meminta Abu Mikhnaf untuk menggantikan perannya pada 7 April.

Baca Juga: Khutbah Jumat Singkat Tema Isra Miraj 2022 Masehi atau 1443 Hijriyah

Sementara penulis sejarah Nestorian Elias dari Nisibis mengatakan hal itu terjadi pada 21 April. Dalam wasiat terakhirnya, Muawiyah mengatakan kepada keluarganya “Takutlah kepada Allah Yang Maha Esa dan Agung, karena Allah, pujilah Dia, lindungi siapa pun yang takut akan Dia, dan tidak ada pelindung bagi orang yang tidak takut akan Allah”.

Sang Khalifah dimakamkan di sebelah gerbang Kota Bab al-Saghir. Pemakamannya dipimpin oleh al-Dahhak Bin Qais. Dahhak mengatakan, “(Muawiyah adalah) tongkat orang Arab dan pedang orang Arab, yang Allah menyertainya, Yang Mahakuasa dan Agung, memutuskan perselisihan, yang Dia jadikan berdaulat atas umat manusia, yang dengannya dia menaklukkan negara-negara, tetapi sekarang dia telah wafat”.

Makam Muawiyah diziarahi setidaknya hingga akhir abad ke-10. Al-Mas’udi berpendapat bahwa terdapat sebuah makam dibangun di atas tanah nan terbuka untuk pengunjung pada hari Senin dan Kamis.

Baca Juga: Isra Miraj 2022 atau 1443 Hijriah, Inilah Bentuk Buraq Tunggangan Nabi Muhammad dalam Peristiwa Agung

Ibnu Taghribirdi menegaskan bahwa Ahmad Bin Thulun, penguasa otonom Mesir dan Suriah abad ke-9, mendirikan sebuah struktur untuk makam tersebut pada tahun 883 atau 884 Masehi, dan mempekerjakan anggota masyarakat untuk secara teratur membaca Al-Qur’an dan menyalakan lilin di sekitar makam.

Muawiyah I, yang punya nama lengkap Muawiyah Bin Abu Sufyan, lahir pada 602 Masehi (22 tahun sebelum Hijrahnya Rasulullah) di Mekah. Ia adalah pendiri dinasti khalifah Umayyah Agung.

Muawiyah berperang melawan khalifah keempat, Ali Bin Abi Thalib (menantu Rasulullah), merebut Mesir, dan mengambil alih kekhalifahan setelah pembunuhan Sayyidina Ali pada tahun 661 Masehi.

Baca Juga: Berikut 15 Link Twibbon Keren Tema Isra Miraj 2022 atau 1443 Hijriah, Cocok Dibagikan di Media Sosial

Muawiyah berhasil memulihkan persatuan Kekhalifahan Muslim, dan menjadikan Damaskus sebagai ibu kotanya. Dia memerintah dari tahun 661 hingga 680 Masehi.

Muawiyah lahir dari sebuah klan (ʿAbd Syams) yang menolak kenabian Rasulullah Muhammad di kota kelahirannya, Mekah. Dan terus menentangnya di medan perang setelah kemudian Rasulullah hijrah ke Madinah.

Muawiyah tidak menjadi seorang Muslim sampai Nabi Allah Muhammad menaklukkan Mekah dan mendamaikan mantan musuhnya tersebut.

Baca Juga: Kesedihan Rasulullah Sebelum Isra Miraj, Ini Hikmah yang Bisa Diambil dan Cara Mengatasi Rasa Kehilangan

Sebagai bagian dari kebijakan Rasulullah, Muawiyah diangkat menjadi juru tulis dalam pelayanannya. Tapi kontribusi Muawiyah untuk sejarah Islam sepenuhnya terkait dengan karirnya di Suriah, yang dimulai tak lama setelah wafatnya Rasulullah. Dia bersama saudaranya Yazid bertugas dalam Brigade Tentara Suku yang dikirim untuk melawan pasukan Bizantium di Suriah.

Setelah kematian Yazid Bin Abu Sufyan pada 640 Masehi, Muawiyah diangkat menjadi gubernur Damaskus oleh khalifah Umar Bin Khattab, dan secara bertahap menguasai wilayah lain di Suriah. Pada 647 Masehi, Muawiyah telah membangun pasukan suku Suriah yang cukup kuat untuk menangkis serangan Bizantium.

Dan pada tahun-tahun berikutnya Muawiyah melakukan serangan terhadap Bizantium dalam kampanye yang mengakibatkan direbutnya Siprus (649 M), dan Rhodes (654 M), serta kekalahan telak atas Angkatan laut Bizantium di lepas pantai Lycia di Anatolia (655 M). Pada saat yang sama, MuAwiyah secara berkala mengirimkan ekspedisi darat ke Anatolia. Semua kampanye ini kemudian terhenti dengan aksesi Ali Bin Abi Thalib ke kekhalifahan, ketika fase baru yang menentukan awal karir Muawiyah.

Baca Juga: Isra Miraj 2022, Ini Penjelasan Buya Yahya Terkait Surga dan Neraka yang Rasulullah SAW Langsung Saksikan

Sebagai kerabat dari Khalifah Utsman yang terbunuh, Muawiyah memiliki kewajiban untuk membalas dendam. Karena Khalifah Ali dinilai telah lalai menangkap dan menghukum para pembunuh Utsman, Muawiyah menganggapnya sebagai kaki tangan pembunuhan itu, dan menolak mengakui kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib.

Setelah itu Ali dan prajuritnya berangkat ke perbatasan Efrat Suriah, dan terlibat dalam bentrok dengan pasukan Muʿāwiyah di Pertempuran Siffin (657 M).

Selama 20 tahun kepemimpinannya di Suriah dan selama perang melawan Ali, Muawiyah telah berhasil merekrut dan melatih pasukan yang besar dan sangat setia kepadanya. Oleh karena itu, wajar jika ia mendasarkan kekhalifahannya di Suriah, dengan Damaskus sebagai ibu kota baru Islam.

Baca Juga: Jelang Isra Miraj dan Ramadhan 2022 Tren Covid Naik, Menag Terbitkan Aturan Terbaru soal Pelaksanaan Ibadah

Namun, jika dukungan utama Muawiyah datang dari suku-suku di Syria, suku-suku di daerah lain menjadi ancaman utama bagi pemerintahannya. Maka tidak mengherankan jika pemerintahan awal Umayyah mengikuti prinsip-prinsip kesukuan tertentu, sebagai sarana untuk mempertahankan dan memenangkan kesetiaan orang-orang Arab.

Nama Muʿāwiyah menonjol sebagai salah satu dari sedikit khalifah yang digambarkan baik dalam historiografi Muslim maupun dalam keilmuan modern, sebagai kekuatan yang menentukan dalam sejarah Islam.

Tidak diragukan lagi salah satu alasan untuk keunggulan yang diberikan kepadanya adalah bahwa dia adalah seorang tokoh yang kontroversial.

Baca Juga: Jadwal Sholat Wilayah Kota Jambi dan Sekitarnya, Kamis 24 Februari 2022 atau 23 Rajab 1443 Hijriah

Hingga saat ini, pertentangan sejarah hidup Muawiyah masih bergulir dalam kalangan umat Islam sendiri. Beberapa Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah berpendapat bahwa Muawiyah telah melakukan penyimpangannya dari pola kepemimpinan yang ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Sedangkan sebagian besar Ulama Syiah berkeyakinan bahwa Muawiyah telah merebut kekhalifahan dari Sayidina Ali.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]