[Cerpen] Nak, Ibu Ingin Bekerja

inNalar.com – Aku ingin bekerja! Pokoknya aku ingin bekerja! Aku sudah lelah dibilang sarjana pengangguran.

Rasanya aku tak sanggup mendengarkan ocehan tetangga yang seolah menyudutkanku kalau menjadi ibu rumah tangga itu ‘tidak ada pekerjaan’.

Padahal, siapa bilang jadi ibu rumah tangga itu tidak ngapa-ngapain? Mencuci, menyapu, mengepel, melayani suami, menyuapi anak, apakah itu disebut nganggur?

Baca Juga: Gempa Bumi Magnitudo 6,2 Terjadi di Pasaman Barat, Sumatera Barat, Ini Kata BMKG

Ya. Aku adalah seorang ibu rumah tangga yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaan sebulan sebelum anakku lahir ke dunia.

Bukan apa-apa. Rasanya aku tak tega kalau harus meninggalkan anakku sementara aku bekerja. Apalagi jika harus dititipkan ke baby sitter yang tidak sepenuhnya aku percayai.

Kalian pasti tahu sekarang banyak kasus baby sitter yang menganiaya bahkan membunuh balita yang diasuhnya. Oh, aku tidak mau hal itu terjadi kepada anakku.

“Kamu bisa meminta orang tua atau saudara dekatmu untuk menjaga anakmu,” begitu kata salah satu tetangga yang tinggal berjarak 30 meter dari rumahku. Dia adalah salah satu tetangga yang sering mengomporiku agar menjadi ibu rumah tangga yang berpenghasilan.

Baca Juga: [Cerpen] Tukang Rias Wajah

Ah, apakah semudah itu meminta bantuan orang tua atau saudara untuk menjaga anakku? Usia ibu dan ayahku sudah tua. Tak tega rasanya jika harus menitipkan anakku yang sedang lincah-lincahnya kepada mereka di usia senjanya.

Justru sebagai anak, aku harus semakin berbakti, bukan malah semakin menambahkan beban kepada mereka.

Apalagi di usia anakku yang masih golden age. Dimana peran ibu sangat penting untuk menunjang tumbuh kembang anak.

Dimana kehadiran ibu sangat penting demi menjaga kedekatan antara ibu dan anak. Aku tidak mau masa-masa itu terlewat.

Baca Juga: Kantor Bupati Pasaman Barat Rusak Berat Usai Diguncang Gempa Bumi Sebanyak Dua Kali: Magnitudo 5,2 dan 6,2

“Sayang, lho, ijazah S1-nya. Kuliah tinggi itu untuk mendapatkan pekerjaan yang bonafit dan penghasilan yang mumpuni.

Sia-sia perjuangan kamu memperjuangkan gelar sarjana kamu dulu,” ini kata istri Pak RT di lingkunganku yang sering lewat di depan rumahku kalau aku sedang menyapu halaman.

Sekarang aku jadi jarang menyapu halaman karena malas bertemu dengan dia yang selalu membahas ‘karir’ ibu rumah tanggaku. Kadang kata-kata dari orang saja bisa membuatku sakit hati.

Baca Juga: [Cerpen] Tabir

Apakah aku telah membuat keputusan yang salah? Toh, selama ini aku selalu memberikan yang terbaik untuk anakku.

Sejak baru lahir, aku rawat anakku dengan penuh kasih sayang, tak kubiarkan dia digendong oleh orang yang belum cuci tangan, kuberikan ASI eksklusif. Itu semata-mata karena aku bertanggung jawab akan anakku.

Sampai usia anakku sekarang sudah 3 tahun, ketika dia tumbuh dengan sehat dan ceria, sudah lancar berlari dan berbicara, aku kagum dan merasa ada hasil nyata sejak aku memutuskan resign bekerja. Anakku tumbuh dengan baik di tanganku.

Itulah alasanku resign bekerja. Aku ingin diriku sepenuhnya untuk anakku.

Tapi sekarang sepertinya aku ingin mengubah pemikiranku. Aku bermimpi ingin kembali menjadi wanita karir yang berpenghasilan tinggi. Aku tidak bisa menyangkal bahwa kebutuhan anak memang sangat banyak dan mahal. Anakku saat ini masih minum susu formula yang harganya tentu kalian pasti tahu.

Belum lagi diapers yang bisa ganti 3-4 kali dalam sehari. Selama ini aku sangat memperhitungkan setiap pengeluaran per bulannya. Menjadi ibu memang harus cermat membagi setiap pos-pos pengeluaran kebutuhan. Setiap bulannya aku selalu mencatat kebutuhan apa saja yang harus dibeli ketika suami gajian. Dan susu anak serta diapers selalu menduduki nomor teratas dari daftar seluruh kebutuhan.

Baca Juga: [Cerpen] The Same Person

Selain itu, aku melihat teman-teman sebayaku yang kebanyakan juga sudah menikah dan memiliki anak, namun masih bisa bekerja dan memiliki gaji tinggi. Mereka juga bisa memanajemen waktu dengan anak walaupun sambil bekerja. Tentu saja mereka menitipkan anaknya kepada orang tua atau baby sitter.

Dan yang lebih membuat aku iri melihat teman-temanku bekerja adalah, mereka terlihat terawat baik wajah maupun tubuhnya karena mereka menggunakan sebagian penghasilannya untuk perawatan. Dan mungkin juga karena tuntutan pekerjaan yang membuat mereka harus selalu tampil cantik dan rapi.

Sungguh jauh dengan keadaan fisikku yang tertanam lemak dimana-mana dan wajah yang kusam karena kurang diperhatikan. Maklum saja, semenjak ada anakku, aku sedikit abai dengan kondisi badan dan wajahku. Dan memang, semua ibu pasti lebih mementingkan kebutuhan anaknya daripada dirinya sendiri.

Aku juga sering melihat keseharian teman-temanku dan anaknya di instagram story. Mereka mengajak anaknya bermain di arena permainan anak, theme park, dan berenang. Sangat jauh dengan keseharianku yang lebih sering di rumah saja. Sekalipun keluar rumah paling hanya berbelanja di minimarket yang tidak jauh dari kediamanku. Kurasa hidupku tidak berwarna-warni seperti teman-temanku.

Baca Juga: [Fiksi Mini] Minggu Horror Part 2: Jenazah

Aku jadi teringat ketika aku masih bekerja dulu. Aku dapat menggunakan gajiku untuk bersenang-senang. Memenuhi kebutuhan pribadi, membeli make up, skincare, jalan-jalan ke mall.

Sesuatu yang sudah tidak bisa aku nikmati semenjak menjadi ibu rumah tangga. Dan kini aku ingin masa-masa itu kembali lagi. Toh, tak ada halangan bagi seorang ibu beranak satu untuk kembali berkarir, kan?

Dengan penuh keyakinan dan tekad yang bulat, aku mulai mencari-cari lowongan pekerjaan. “Mumpung anakku sedang tidur,” pikirku. Aku masih punya banyak waktu luang. Kulihat satu demi satu low

ongan yang disediakan oleh salah satu akun instagram. Tentu saja aku mencari yang paling cocok denganku. Dimana saat ini umurku sudah lebih dari 25 tahun dan sudah berkeluarga. Tapi melihat pengalamanku bertahun-tahun lalu, aku merasa aku masih layak untuk diterima kerja.

Selang 2 jam, beberapa e-mail lamaran pekerjaan sudah selesai kukirim. Aku berharap salah satu perusahaan yang aku lamar bisa memanggilku untuk menjadi karyawannya. Ketika aku hendak memindahkan laptop tiba-tiba selembar kertas jatuh ke lantai. Oh, itu rincian belanja untuk bulan depan. Pantas saja kemarin aku cari-cari tidak ada.

Kubaca beberapa item yang tertera di kertas tersebut. Susu, diapers, minyak goreng, beras, sabun cuci, bumbu dapur, pembersih muka, minyak telon, sayur mayur, telur, pembalut, token listr… Oh, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kulihat kalender duduk diatas meja. Hari ini tanggal 28. Aku hampir saja melupakan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting bagi wanita yang sudah berumah tangga sepertiku.

Baca Juga: [Fiksi Mini] Minggu Horror Part 1: Pelayat

Dengan terburu-buru aku mengambil kotak kecil berwarna biru yang masih tersegel di laci lemari pakaian. Lalu dengan segera aku menuju kamar mandi.

Di dinding kamar mandi aku bersandar.

“Tuhan, sepertinya Engkau ingin aku sepenuhnya untuk anakku. Sepertinya Engkau belum mengizinkanku untuk bekerja,” ucapku dalam hati sambil memandang dua garis merah di strip testpack.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]