[Fiksi Mini] Senyum Itu Dulu Milikku

inNalar.com – Fiksi mini, Senyum itu dulu milikku. 

1. Senyum Itu Dulu Milikku

Aku tak pernah melarang siapapun untuk menyukainya, termasuk kamu. Orang yang tiba-tiba menggamit lengannya untuk berada di pelukmu. Orang yang begitu narsisnya menyebut dirinya “aku bisa membahagiakan dia.”

Tapi tunggu, siapa pun kamu dan apa pun kelebihan kamu, selamanya kamu tak akan pernah bisa menyamai kepedulian yang selama ini kuberikan kepadanya yang nyaris tanpa sisa.

Jangan bercanda. Kamu hanya orang ketiga yang seharusnya mengetuk pintu pagar ketika hendak masuk ke pekarangan rumah orang. Seniat itukah kamu sebagai pengemis cinta jika kau tidak mau disebut pencuri?

Baca Juga: [Fiksi Mini] Di Gerbong Panjang

Jangan bertingkah. Menyentuh milikku dengan seenaknya seakan kaulah yang lebih tahu tentang dirinya. Tak usah bermimpi untuk membahagiakannya karena aku sudah khatamkan hal itu.

Jangan belagu, karena senyum itu dulu milikku. 

2. Adikku

Adikku baru menginjak usia 10 bulan dan sedang aktif-aktifnya. Aku seringkali disuruh ibu menjaganya karena adikku sudah bisa naik ke meja. Aku harus mengawasinya setiap saat karena takut dia terjatuh. Adikku juga suka berteriak-teriak ketika bermain. Berisik sekali. Dia juga sering menangis kencang.

Pada suatu hari, aku dan adikku sedang bermain di ruang tamu. Aku capek karena sejak tadi aku menjaganya. Aku menuju kamar karena mengantuk, jadi aku biarkan saja dia bermain sendirian.

Baca Juga: [Fiksi Mini] Minggu Horror Part 2: Jenazah

Setengah jam berlalu, aku tidak mendengar suara adikku yang biasanya berisik. Aku terbangun dan menuju ruang tamu. Dan aku kaget melihat adikku sedang bermain air dan makanan yang ia tumpahkan ke lantai. Bajunya basah dan wajahnya kotor karena makanan. Pantas saja dia anteng sejak tadi. Tinggal aku yang siap-siap dimarahi ibu.

3. Jika Ia yang Kau Sayangi Harus Pergi

Jika ia yang kau sayangi harus pergi meninggalkanmu, membiarkanmu menata hidupmu dalam kesendirian. Saat kehadirannya masih kau butuhkan, kau merasa dunia sedang tidak berpihak padamu hari itu.

Matahari terlihat kelabu di tengah awan yang biru. Tiada pelangi meski hujan menyiram bumi sesaat lalu. Yang ada hanyalah deraian air mata yang menggenangi matamu.

Dia yang kau cintai telah pergi ke pangkuan Illahi. Berpisah denganmu dan juga dunia ini. Menuju tempat terakhir, terkubur dalam perut bumi.

Baca Juga: [Fiksi Mini] Minggu Horror Part 1: Pelayat

Kadang hidup securang ini, teman. Sependek jarak antara kehidupan dan kematian. Yang bisa kau lakukan hanyalah merelakan.

Tak usah kau ratapi berlebihan. Otakmu tak dapat menjangkau kuasa Tuhan. Bisa jadi yang kau anggap buruk, itu adalah peringatan. 

Hanya ketabahan sebagai senjata, demi melanjutkan hidup yang fana. Hingga Tuhan berkata “Pulanglah.” ***

Rekomendasi