

inNalar.com – Kehidupan Majapahit disebutkan dalam kitab Pararaton dan Nagarakertagama, diawali dengan pembukaan hutan Tarik oleh Raden Wijaya yang terletak di Delta Sungai Brantas, peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1293. Majapahit secara umum dapat dianggap sebagai titik puncak kebudayaan Hindu Jawa.
Pada masa Kerajaan Majapahit, kesusatraan dibedakan berdasarkan bahasa yang digunakan. Pada abad ke-14 bahasa yang digunakan yaitu bahasa Jawa kuno.
Sedangkan setelah abad ke-15 bahasa yang digunakan yaitu bahasa Jawa Pertengahan. Kitab sastra tersebut ditulis oleh para pujangga keraton.
Baca Juga: Mengulik Kegiatan Pariwisata Masa Kolonial, Ternyata Sudah Dikenal Biro Perjalanan Wisata
Berikut ini merupakan karya sastra yang menggunakan bahasa Jawa kuno, antara lain :
1. Kitab Negarakertagama
Kitab ini dikarang oleh Mpu Prapanca. Kitab ini menceritakan tentang riwayat Singasari dan Majapahit.
2. Kitab Sutasoma
Kitab ini dikarang oleh Mpu Tantular. Isi kitab ini menceritakan tentang Sutasoma, yaitu seorang anak raja yang keluar dari Istana untuk menjadi seorang Pendeta Buddha. Dalam kitab ini terdapat ungkapan ” Bhinekka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrawa “.
3. Kitab Arjunawijaya
Kitab ini karangan Mpu Tantular, didalam kitab ini menceritakan tentang cerita Mahabharata.
Baca Juga: Perang Rusia dan Ukraina Disebut Pakar Hukum Internasional dapat Berhenti Asalkan Satu Hal Ini
4. Kitab Kunjarakarna
Kitab ini dikarang oleh Mpu Dusun. Isi kitab ini menceritakan tentang raksasa yang berkeinginan untuk menjadi manusia.
5. Kitab Parthayajna
Kitab ini tidak diketahui siapa penulisnya, berisi teantang para Pandawa yang kalah dalam bermain dadu, sehingga mendapat penghinaan dari Kurawa.
Karya sastra pada masa akhir kekuasaan kerajaan Majapahit banyak ditulis dengan bahasa Jawa Tengahan dan dalam bentuk Kidung ( Tembang ) serta dalam bentuk Prosa (Gancaran). Berikut ini karya sastra Majapahit berbahasa Jawa Tengahan, antara lain :
6. Kitab Tantu Panggelaran
Berisi tentang asal muasal Pulau Jawa yang ditempati manusia dan dewa, serta sejumlah gunung yang ada di Pulau ini.
7. Serat Calon Arang
Serat ini menceritakan tentang seseorang janda yang bernama Calon Arang dari desa Girah yang dipercaya mempunyai ilmu hitam.
8. Kitab Korawacrama
Kitab yang menceritakan setelah perang besar, para Kurawa dihidupkan kembali.
Baca Juga: Wajib Dikomsumsi Ketika Sahur, Simak 6 Manfaat Buah Kurma, Salah Satunya Sumber Energi
9. Bubhuksah
Berisi tentang kisah dua bersaudara Bubhuksah dan Gagang Aking. Dua bersaudara ini memiliki ketidaksepakatan tentang bagaimana cara mencapai kesempurnaan.
10. Serat Pararaton
Serat ini juga disebut Katuturanira Ken Arok karena menceritakan tentang asal usul Ken Arok sebagai pendiri Kerajaan Singhasari, namun dengan balutan dongeng.
11. Kitab Sundayana
Berisi tentang Peristiwa Bubat, yaitu rencana pernikahan antara Raja Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka, putri Sri Baduga Maharaja.
12. Kitab Sorandaka
Dalam kita ini diceritakan tentang kisah pemberontakan Sora terhadap Raja Majapahit.
Baca Juga: Beberapa Makanan yang Enak Dimakan Saat Batuk
13. Kidung Ronggolawe
Isinya menceritakan tentang pemberontakan Ronggolawe yang berasal dari Tuban terhadap Raja Jayanegara, karena ia merasa kecewa akibat ketidakadilan Raja Jayanegara.
14. Kitab Panjiwijayakarma
Isi kitab ini adalah menceritakan tentang perjalanan hidup Raden Wijaya hingga menjadi Raja Majapahit.
15. Kitab Usana Jawa
Kitab ini menceritakan tentang keberhasilan Gajah Mada dan Arya Damar menaklukkan kerajaan bali menjadi daerah kekuasaan Majapahit.
16. Kidung Harsawijaya
Berisi tentang didirikannya Majapahit oleh Raden Wijaya dengan gelar Kertarajasa, saat pemerintahan Wijaya tersebut kerajaan lebih sejahtera.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi