Konflik Rusia-Ukraina, Benarkah FIFA Hipokrit dan Punya Standar Ganda Terkait Ekspresi Politik di Sepak Bola?


inNalar.com
 – Dalam konflik Rusia-Ukraina banyak pihak menilai bahwa FIFA dan UEFA, yang belakangan ini mengecam invasi Rusia ke Ukraina serta telah memberi sanksi terhadap sepak bola Rusia secara keseluruhan, bersikap hipokrit dan punya standar ganda dalam ekspresi politik di lapangan hijau.

FIFA dan UEFA dianggap seolah menutup mata terhadap pengusiran warga Palestina dari Yerusalem dan Tepi Barat, yang diduduki Militer Israel. Banyak pihak juga menilai bahwa induk organisasi sepak bola dunia dan eropa tersebut, tak memberlakukan sanksi terhadap Israel yang dengan jelas telah melakukan pelanggaran HAM di Palestina, seperti sanksi mereka terhadap Rusia saat ini.

Beberapa badan pengatur utama olahraga dunia, juga dinilai tidak bertindak untuk memboikot Israel ketika negara tersebut melarang Timnas Palestina dalam aktivitasnya di sepak bola Internasional. Tidak hanya tentang Israel dan Palestina, FIFA dan induk organisasi olahraga lain juga dinilai seolah punya standar ganda dalam sikap politiknya, terkait solidaritas korban konflik di berbagai negara.

Baca Juga: Pemuda Asal Binjai Nekat Bakar Rumah Ibu Kandungnya Gegara Tak Dikasih Uang Rp50 Ribu

Sikap FIFA yang mengklaim bahwa mereka tidak ingin terlibat dalam situasi politik, dianggap oleh berbagai pihak sebagai sikap yang hipokrit. FIFA dinilai telah melakukan standar ganda terkait respon tegasnya terhadap Rusia yang menginvasi Ukraina.

Beberapa pihak berpendapat bahwa politik akan mempengaruhi setiap aspek kehidupan, termasuk di dalamnya adalah olahraga. Partisipasi timnas dan klub Israel dalam berbagai gelaran internasional dianggap sebagai sikap hipokrit dari FIFA sebagai federasi sepak bola dunia.

FIFA dinilai telah memberi kesan bahwa kekerasan yang dilakukan Israel di Palestina bukan merupakan  tragedi kemanusiaan yang dianggap serius, bahkan FIFA dinilai telah mengabaikan penderitaan warga Palestina dalam konflik Israel-Palestina yang sudah terjadi selama puluhan tahun.

Baca Juga: China akan Memblokir Siaran Liga Premier Inggris Akhir Pekan Ini, Kenapa?

Contoh sikap FIFA yang dianggap hipokrit setidaknya terjadi antara lain pada 2009. Saat itu, pesepakbola Mesir, Mohammad Abu Trika, yang mengangkat jersey-nya untuk mengungkapkan pesan simpati dan solidaritas terhadap Gaza yang saat itu mengalami serangan dari Israel, dalam selebrasi gol ke gawang Sudan di pertandingan Piala Afrika, mendapat respon keras dari FIFA.

FIFA merespon aksi tersebut dengan memperingatkan Abu Trika dan Timnas Mesir secara resmi, karena dianggap sebagai ekspresi politik. Dan FIFA  bersikeras bahwa mereka memiliki aturan dan larangan ketat terhadap ekspresi politik di lapangan hijau.

Contoh lain adalah pada 2016, Glasgow Celtic, klub asal Skotlandia, terkena sanksi denda sebesar 45 ribu poundsterling. Itu disebabkan karena Green Brigade (salah satu Suporter Celtic) memasang spanduk dan mengibarkan bendera Palestina, ketika klub kesayangan mereka bertanding melawan Hapoel Be’er-Sheva, klub asal Israel, di babak lanjutan play-off Liga Champions 2016.

Baca Juga: Tak Berselang Lama Hoshi Positif Covid-19, Kini DK dan Seungkwan Umumkan Tes PCR Tunjukkan Hasil Reaktif

Salah satu sikap hipokrit dari federasi yang paling fenomenal di dunia sepak bola adalah yang terjadi kepada Frederic Kanoute. Pada 7 Januari 2009, Kanoute membela Sevilla dalam laga kontra Deportivo La Coruna di Copa del Rey.

Sevilla menang 2-1, dan Kanoute mencetak 1 gol usai memanfaatkan assist Diego Capel. Kemudian, dalam selebrasinya, striker asal Mali itu mengangkat jersinya untuk menunjukkan kaos yang bertuliskan solidaritas atas Palestina.

Pada waktu itu, Palestina memang sedang diserang secara besar-besaran oleh Israel. Menurut BBC, sekitar 700 orang tewas akibat serangan tersebut. Akan tetapi, Kanoute justru diganjar kartu kuning oleh wasit Mateu Lahoz setelah aksi selebrasinya.

Baca Juga: 10 Kutipan Menggugah untuk Hari Perempuan Internasional 2022

Dalam aturan sepak bola modern, selebrasi mengangkat jersey memang harus diganjar kartu kuning. Namun, Frederic Kanoute kala itu disinyalir mendapat hukuman kartu kuning karena kaos bertuliskan “Palestina” itu bermuatan pesan politik.

Beberapa hari berikutnya, Raphael Schultz, Duta Besar Israel di Madrid, mengatakan bahwa selebrasi dan isyarat Kanoute telah melampaui profesinya sebagai pesepakbola, dan telah melanggar aturan FIFA. Kanoute kemudian diberi sanksi denda. Penyerang kelahiran Prancis itu didenda sebesar USD 4.000. Dan saat ini, hampir semua pesepakbola di seluruh dunia menunjukkan solidaritas mereka terhadap Ukraina.

Tindakan tersebut didukung oleh FIFA dan federasi sepak bola di berbagai negara, dengan tidak memperingatkan tentang mencampuradukkan politik dalam olahraga. Dari peristiwa tersebut, beberapa pihak menilai bahwa badan-badan olahraga internasional seperti FIFA dan UEFA, telah bersikap Hipokrit dan memakai standar ganda dalam menyikapi konstelasi politik dunia.

Baca Juga: Terkuak! Soal 4 Rekening Indra Kenz yang Diblokir, Polisi: Uangnya Ada Puluhan Miliar

Beberapa pihak mengkritik sikap tersebut, dan menuntut agar FIFA dan semua badan olahraga dunia untuk merespon semua situasi politik secara setara. Berbagai pihak juga menuntut agar keadilan dapat ditegakkan di dalam ranah olahraga yang penuh sportifitas.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]