

inNalar.com – Rebana atau dalam istilah Jawa lebih akrab disebut “terbang”, dikenal sebagai salah satu instrument khas pengiring alunan musik atau syair-syair Arab.
Rebana kemudian digunakan sebagai sarana dakwah para penyebar Islam. Dengan lantunan syair-syair indah diiringi rebana, pesan-pesan mulia agama Islam mampu dikemas dan disajikan lewat sentuhan seni artistik musik Islami yang khas.
Disamping alat musik rebana, terdapat kegiatan membaca qasidah-qasidah dan pujian-pujian kepada Rasulullah yang diiringi dengan rebana disebut dengan Hadrah.
Baca Juga: 10 Ungkapan Manis untuk Merayakan Hari Perempuan Internasional 2022
Di Indonesia, kesenian ini mulai masuk sekitar abad 13 Hijriyah. Dimana seorang ulama’ besar dari Yaman yang bernama Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi (1259 – 1333H / 1839 – 1913M) datang ke tanah air dalam misi berdakwah menyebarkan agama Islam.
Didalam misinya itu, beliau juga membawa sebuah kesenian Arab berupa pembacaan qasidah yang diiringi rebana ala Habsyi dengan cara mendirikan majlis sholawat dan pujian-pujian kepada Rasulullah sebagai sarana mahabbah (kecintaan) kepada Rasulullah SAW.
Selang beberapa waktu, majlis itu pun menyebar ke seluruh penjuru daerah terutama Banjarmasin Kalimantan dan Jawa.
Beliau, Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi juga sempat mengarang sebuah buku yang berjudul “Simthu Al Durar” yang di dalamnya memuat tentang kisah perjalanan hidup dari sebelum lahir sampai wafatnya Rasulullah SAW.
Sejarah singkat tentang kitab “Simthu al Durar fi Akhbar Mawlid Khair al-Basyar min Akhlaqi wa Awshaafi wa Siyar” atau disingkat “Simthu al Durar” dan sering juga disebut dengan “Maulid Habsyi”.
Diawali ketika kitab ini telah diimla’kan oleh Habib Ali, tatkala beliau berusia 68 tahun dalam beberapa majlis mulai pada hari Kamis 26 Shafar al-khair 1327 H dan disempurnakan 10 Rabi`ul Awwal pada tahun tersebut.
Kemudian dibacakan secara resminya di rumah murid beliau Habib ‘Umar bin Hamid al-Saqqaf pada malam Sabtu tanggal 12 Rabi`ul Awwal.1327 H atau sekitar tahun 1907 M.
Baca Juga: 10 Ungkapan Manis untuk Merayakan Hari Perempuan Internasional 2022
Beberapa jenis Hadrah yang populer di Indonesia berdasarkan ketukan pada rebana adalah
a). Hadrah al-Banjari
memiliki jenis pukulan Hadrah ini sangat pelan dalam ketukan. Hal ini terdengar pada ketukan pembukaan dalam suatu lagu atau syair yang dilantunkan.
b).Hadrah Pekalongan/Dema’an
Pada jenis ini, ketukan terdengar lebih cepat jika dibandingkan dengan ketukan Hadrah al-Banjari, akan tetapi ketukan ini tidak secepat Hadrah Habsyi. Inilah jenis yang sering digunakan dalam perlombaan di kalangan grup Hadrah di Indonesia.
c).Hadrah Habsy
Pukulan yang terdapat dalam Hadrah Habsyi ini terdengar cepat, dikarenakan adanya ritme di dalam lagu-lagu yang diiringinya berirama cepat. Jenis ini umum digunakan di dalam majelis-majelis Maulid Nabi.
Itulah tadi sejarah singkat mengenai perkembangan dakwah Islam lewat kesenian, khususnya rebana dan hadrah***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi