Ironi Perempuan Masa Kolonial sampai Pendudukan, Dijadikan Nyai hingga Stigma Ransum Jepang

inNalar.com – Dahulu, budaya patriarki menempatkan perempuan pada posisi yang lebih mengutamakan peran-peran domestik.

Perempuan dibebani tanggung jawab dalam ranah home maker atau kepengurusan rumah tangga yang meliputi perawatan, pengasuhan dan pendidikan anak dalam menjaga moral.

Padahal harus disadari bahwa perempuan turut menjadi tulang punggung negara, sebagaimana kata pujangga “Perempuan adalah tiang negara, bila perempuannya insyaf baik, maka negara itupun akan baik, sebaliknya jika perempuannya buruk, maka buruk pula keberadaan negara.

Baca Juga: 10 Tulisan Motivasi dalam Bahasa Inggris dan Terjemahan untuk Hari Perempuan Internasional 2022

Sekali lagi, perempuan tidak dapat dipisahkan dari pergaulan masyarakat.

Eksistensi kaum perempuan di seluruh aspek kehidupan masyarakat tentunya tidak dapat dipisahkan dari peristiwa historis yang menyertai di masa-masa sebelumnya.

Peristiwa kelam maupun peristiwa membanggakan akan selalu mengiringi sepanjang jalan menuju kebangkitan perempuan.

Sejarah menjadi saksi bisu ketidakadilan yang terjadi pada para perempuan Indonesia, diawali pada masa kolonial tercatat banyak perempuan pribumi yang dijadikan sebagai gundik atau nyai.

Baca Juga: Derby Manchester antara Manchester City vs Manchester United akan Hadir Malam Ini, Berikut Rekor Pertemuannya

Pergundikan dan pelacuran menjadi realitas sehari-hari dalam masyarakat, perempuan pribumi dijadikan ‘komoditas’ bagi lelaki kulit putih.

Jelas bahwa keberadaan kolonial dalam masyarakat Hindia Belanda menempatkan perempuan pribumi dan Indo (campuran) pada kedudukan yang lebih rendah dibanding perempuan Eropa.

Kemudian pada masa pendudukan Jepang, prajurit-prajurit memanfaatkan perempuan pribumi sebagai bahan eksploitasi.

Banyak perempuan pribumi yang diculik kemudian “dimanfaatkan” oleh prajurit Jepang yang datang tanpa Istri. Perempuan yang menjadi korban perbudakan seksual dicap dengan julukan jugun ianfu atau perempuan penghibur pada masa pendudukan tentara kekaisaran Jepang selama Perang Dunia Kedua.

Baca Juga: Jangan Salah, Ternyata Seni Rebana dan Hadrah jadi Sarana Dakwah Islam, Diawali dengan Kitab Simthu Al-Durar

Para perempuan itu harus mengalami stigmasi lewat beragam sebutan oleh masyarakat seperti “cacat moral”, “tidak tahu malu”, “bekas pelacur”, “ransum Jepang” atau “bekas Jepang”.

Ungkapan tersebur merupakan gambaran yang bisa menimbulkan traumatis berkepanjangan. Perempuan-perempuan itu menanggung rasa malu selama sisa hidup mereka. Masyarakat tidak memberikan dukungan kepada para jugun ianfu, bahkan keluarga mereka sendiri mengucilkannya

Sebelum adanya gerakan perempuan, citra yang berkembang saat itu cenderung menempatkan wanita pada golongan kelas kedua.

Baca Juga: 10 Ungkapan Manis untuk Merayakan Hari Perempuan Internasional 2022

Wanita dipandang memiliki kodrat yang lebih rendah dibanding pria, berkembang juga image bahwa wanita harus selalu mendapat perlindungan dari pria.

Anggapan tersebut memunculkan konsekuensi bahwa wanita adalah makhluk lemah. Terdapat dalam ungkapan Jawa swarga nunut nraka katut, swarga adalah lambang kehidupan dunia maupun akhirat yang menunjukkan kebahagaiaan, ketenangan, ketentraman, dan kesejahteraan.

Nraka menyimbolkan kehidupan yang penuh dengan kesengsaraan dan penderitaan. Sehingga maksud ungkapan tersebut adalah kebahagiaan maupun kesengsaraan seorang istri tergantung pada kesejahteraan dan penderitaan suaminya.

Seorang wanita kala itu ibarat tidak memiliki daya untuk berusaha dan menentukan nasibnya sendiri. Doktrin bahwa wanita diciptakaan dari tulang rusuk pria juga semakin memojokkan wanita kala itu.

Doktrin tersebut menciptakan superioritas dan anggapan bahwa pria lebih unggul dan wanita hanya berperan sebagai pelengkapnya.***

Rekomendasi