

inNalar.com – Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kaum Kolonial maupun Pendudukan Jepang, karena gerakan perempuan tumbuh dari pengaruh pendidikan barat yang diantaranya diilhami, salah satunya oleh Kartini dan Dewi Sartika.
Pada awal abad ke-20, mulai muncul benih-benih kebangkitan perempuan di Indonesia. Kegiatan pertama perempuan awal abad ke-20 dibuka dengan didirikannya sekolah perempuan sebagaimana dilakukan Kartini di rumah orangtua dan suaminya, disusul Dewi Sartika yang mendirikan sekolah Isteri di Bandung pada 1904.
Dasawarsa kedua abad ke-20 berdiri organisasi-organisasi perempuan yang tidak hanya terletak di Jawa, di Sumatera sebagaimana dilakukan Roehana Koddoes dengan mendirikan Perkumpulan Kerajinan Amal Setia di Kotagadang pada 1911 (masih berdiri hingga sekarang).
Tahun 1914 muncul organisasi perempuan berbasis agama, embrio organisasi itu bernama Sopo Tresno yang kemudian berubah menjadi Aisyiyah pada 1917, keberadaannya tidak luput dari peran K.H Ahmad Dahlan dan Siti Walidah (Nyai Dahlan) yang menginsyafi pentingnya keterlibatan perempuan dalam masyarakat.
Mayoritas gerakan perempuan sebelum tahun 1920 lebih menekankan perjuangannya pada perbaikan kedudukan sosial dalam perkawinan, keluarga dan peningkatan kecakapan sebagai ibu dalam pengelolaan rumah tangga.
Persoalan politik belum menjadi konsentrasi gerakan, mengingat baik laki-laki maupun perempuan sama-sama tidak memiliki hak politik karena berlakunya sistem kolonial.
Baca Juga: Ironi Perempuan Masa Kolonial sampai Pendudukan, Dijadikan Nyai hingga Stigma Ransum Jepang
Baru sesudah tahun 1920, kesediaan kaum wanita untuk terlibat dalam kegiatan organisasi serta kecakapan berorganisasi lebih meningkat.
Organisasi pergerakan dan partai memberikan perhatian besar pada perempuan, mereka memberikan ruang dan porsi bagi perempuan untuk merpolitik.
Partai politik seperti Partai Komunis Indonesia, Serikat Islam, Partai Nasional Indonesia dan Permi memiliki bagian perempuan dalam partainya.
Perempuan Serikat yang sebelumnya didirikan oleh Siti Fatimah di Garut pada pada 1918 dan Wanoedyo Oetomo yang didirikan pada 1920 kemudian berfusi menjadi Sarekat Putri Islam atau Sarekat Perempuan Islam Indonesia pada 1925.
Baca Juga: 10 Tulisan Motivasi dalam Bahasa Inggris dan Terjemahan untuk Hari Perempuan Internasional 2022
Sarekat Rakyat, sayap “merah” dari Sarekat Islam juga memiliki organisasi perempuan yang anggotanya cukup banyak, yang kemudian tergabung dalam PKI. Dalam kongres PKI di Jakarta tanggal 7-10 Juni 1924 terdapat sesi bagi perempuan untuk berbicara mengenai kewajiban perempuan dalam menentang kaum pemodal.
Masa-masa setelah tahun 1920 organisasi perempuan tumbuh subur, kepentingan gender disuarakan meluas, dan peran perempuan dalam membangun negara khususnya berpolitik mulai menonjol.
Setelah diselenggarakannya Konggres Pemuda Pada 28 Oktober 1928, organisasi-organisasi perempuan lantas memiliki kesadaran untuk mempersatukan organisasi perempuan se-Indonesia untuk tujuan persatuan cita-cita dan usaha untuk memajukan perempuan Indonesia.
Untuk tujuan persatuan dan kesadaran nasional diadakanlah Konggres Perempuan Indonesia pertama di Pendopo Joyodipuran Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928.
Pertengahan dekade ketiga abad-20, Konggres Perempuan Indonesia yang menyatakan diri sebagai organisasi non-politik, mulai menggarap isu-isu politik praktis seperti hak pilih bagi perempuan. Saat itu terpilih empat perempuan untuk duduk di Dewan Kota (Gemeenterad).***