

inNalar.com – Berdasarkan hasil kebudayaannya, para arkeolog membagi kehidupan masa Praaksara menjadi dua zaman, yakni Zaman Batu dan Zaman Logam.
Pembagian tersebut didasarkan pada alat-alat yang dominan digunakan oleh masyarakat Praaksara pada masa itu. Zaman Batu sendiri terbagi atas Zaman Batu Tua (Palaeolitikum), Zaman Batu Madya (Mesolitikum), Zaman Batu Muda (Neolitikum) dan Zaman Batu Besar (Megalitikum).
Perkembangan kehidupan budaya pada masa Palaeolitikum dapat dilihat dari penemuan benda-benda peninggalan yang dibuat oleh masyarakat pendukung zaman tersebut.
Alat-alat batu yang dibuat pada masa Palaeolitikum masih kasar karena dalam proses pembuatannya masih sederhana, cara pembuatannya kurang lebih hanya dengan cara membenturkan antara batu satu dengan batu lainnya.
Orang-orang pada zaman Palaeolitikum masih hidup secara nomaden dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang terdapat sumber makanan, pendukung kebudayaan zaman Palaeolitikum adalah kebudayaan Pacitan dan Ngandong.
Di Indonesia, tradisi pembuatan alat pada zaman Palaeolitikum dikenal dua macam bentuk pokok, yaitu teknik perkakas batu yang disebut dengan tradisi kapak perimbas dan tradisi serpih.
Alat-alat keperluan hidup tersebut dibuat dari kayu, batu, tanduk dan tulang dengan cara pembuatan yang sederhana, sekedar memenuhi tujuan gunanya.
Namun bukti alat dari kayu tidak dapat ditemukan, mengingat bahannya yang mudah lapuk. Alat itu digunakan untuk mencari bahan makanan berupa daging binatang dan umbi-umbian, mengingat pada zaman Palaeolitikum sudah dikenal food gathering.
Perkembangan kebudayaan pada masa Palaeolitikum relatif lebih lambat dibanding zaman Mesolitikum, hal itu disebabkan karena pendukung zaman Mesolitikum adalah manusia cerdas (Homo sapiens).
Setelah masa Palaeolithikum, pembabakan masuk pada zaman Mesolitikum. Terdapat tiga tradisi pokok pembuatan alat-alat di Indonesia.
Diantaranya adalah tradisi serpih bilah, tradisi tulang dan tradisi kapak genggam Sumatera, atau yang lebih dikenal dengan istilah kebudayaan Toala (flakes culture), kebudayaan tulang Sampung (Sampung Bole Culture) dan kebudayaan kapak genggam (pebble cultue).
Kebudayaan flakes datang dari Asia Daratan melalui jalan timur, yaitu melalui Jepang, Formosa (Taiwan) dan Filipina. Tradisi serpih-bilah atau flakes banyak berlangsung di gua-gua Sulawesi Selatan dan pulau NTT.
Dalam teknik pembuatannya, serpih-bilah yang berbentuk kecil dikerjakan melalui teknik yang rumit, seperti alat-alat mikrolit yang bebentuk geometrik.
Sedangkan untuk membuat serpih-bilah yang lebih besar, dilakukan pemangkasan sekunder, yaitu pengerjaan serpih setelah dilepaskan dari batu intinya.
Bahan batu yang digunakan antara lain kalsedon, batu gamping dan andesit.
Adapun temuan alat tulang yang terkenal di Indonesia adalah Goa Lawa, Sampung, Ponorogo. Alat-alat tulang tersebut berupa sudip, mata tombak dan semacam belati dari tanduk, hematit, dan alu. Perkakas tanduk digunakan sebagai pencukil atau belati.
Sedangkan kebudayaan kapak genggam atau pebble cultue berupa temuan sejumlah alat batu yang dikenal dengan istilah Sumatralith.
Di sekitar daerah berkembangnya kebudayaan Sumatralith, pada umumnya juga ditemukan kebudayaan Kyokkenmoddinger atau kebudayaan sampah dapur berupa kulit kerang.
Dari penemuan alat-alat berupa kapak genggam Sumatera dan sisa makanan di bukit-bukit kerang tersebut dapat disimpulkan bahwa kehidupan manusia saat itu berada dalam taraf berburu, mengumpulkan makanan dan pencarian makanan di laut dan hidupnya sudah semi menetap.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi