Zaman Neolithikum dan Megalithikum: Ciri-Ciri, Manusia Pendukung dan Hasil Kebudayaan

inNalar.com- Dalam kajian sejarah, pembabakan zaman Praaksara berdasarkan arkeologi dibagi menjadi Zaman Batu dan Zaman Logam.

Zaman Batu sendiri terbagi lagi menjadi, Paleotikum (zaman batu tua), Mesolitikum (Zaman batu tengah), Neolitikum (zaman batu muda), dan Megalitikum (zaman batu besar).

Pada masa Neolithikum atau zaman batu muda terjadi revolusi dalam berbagai aspek kehidupan manusia purba. Masa ini amat penting dalam sejarah peradaban, karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam secara cepat. 

Baca Juga: Mataram Kuno Jawa Timur: Berdirinya Wangsa Isyana, Prasasti Mpu Sindok dan Kebijakannya

Setelah cara hidup berburu dan mengumpulkan makanan dilampaui, manusia menginjak pada masa kehidupan bercocok tanam (food producing).

Pada zaman ini telah hidup jenis Homo sapiens sebagai pendukung kebudayaan zaman batu baru. Mereka mulai mengenal bercocok tanam dan beternak sebagai proses untuk menghasilkan atau memproduksi bahan makanan

Pada masa ini, mereka memanfaatkan hutan belukar dengan cara slash and burn sehingga terbentuklah ladang-ladang yang memberikan hasil pertanian.

Kegiatan berburu dan menangkap ikan masih terus dilakukan disamping mata pencaharian bercocok tanam, selain itu mereka mulai memelihara dan menjinakkan hewan.

Baca Juga: Zaman Palaeolithikum dan Mesolithikum: Peninggalan, Manusia Pendukung dan Ciri Zaman

Masa bercocok tanam berkembang seiring dengan kemahiran mengupan (mengasasah) alat batu dan dikenalnya pembuatan gerabah.

Alat-alat seperti beliung, kapak lonjong, alat-alat obsidian, dan mata panah yang berguna sebagai alat berburu dan bercocok tanam.

Dalam masa bercocok tanam, perhiasan berupa gelang dari batu dan kulit kerang juga sudah mulai dikenal. Gelang tersebut terbuat dari manik-manik kulit kerang yang dipilih dari jenis kerang tridacna

Pada masa ini, kehidupan manusia sudah menetap berkelompok di suatu perkampungan yang terdiri atas tempat tinggal sederhana dan dihuni oleh beberapa keluarga.

Dalam kelompok tersebut, dipilihlah seorang kepala suku dengan cara primus interpares yang berarti “Utama diantara sesama”. Hidup menetap di suatu tempat juga memberikan kemungkinan bertambah pesatnya populasi penduduk saat itu.

Baca Juga: 5 Teori Masuknya Agama dan Budaya Hindu Budha di Nusantara serta Ahli yang Mengungkapkannya

Selain itu, hidup gotong royong juga mulai dilakukan sebagai suatu kewajiban. Mereka bahu membahu dalam menebang hutan, membakar semak, menabur benih, memetik hasil, membuat gerabah dan menangkap ikan.

Meskipun demikian, pembagian kerja antara kaum laki-laki dan perempuan sudah tampak, misalnya pekerjaan berburu dilakukan oleh laki-laki dan menangkap ikan di perairan dangkal dilakukan oleh wanita.   

Masyarakat zaman Neolithikum mempercayai adanya kekuatan di luar manusia, mereka mengenal animisme, yaitu kepercayaan terhadap roh yang memiliki kekuatan gaib, dan kepercayaan dinamisme, yaitu kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan karena ditempati atau perwujudan dari roh.

Pada masa ini, pemujaan terhadap arwah dan roh nenek moyang mendapat tempat yang penting. Mereka percaya bahwa ada kehidupan lain bagi seseorang yang sudah meninggal.

Baca Juga: Indianisasi di Nusantara: Awal Mula Masuknya Pengaruh Hindu Budha dalam Bidang Agama, Politik, Sosial, Budaya

Untuk itu diadakan upacara dan penguburan bagi seseorang yang telah meninggal, terlebih lagi bagi kepala suku.

Penguburan dilaksanakan di tempat yang dianggap sebagai asal usul anggota masyarakat tersebut, mayat yang dikubur disertai dengan bekal-bekal kubur seperti perhiasan, kapak yang indah dan periuk.

Sebagai puncak dari upacara penguburan tersebut, didirikanlah bangunan dari batu-batu besar yang kemudian muncul kebudayaan megalitik (batu besar).

Sistem kepercayaan pada masa megalitikum berkaitan erat dengan kebudayaannya yang menghasilkan bangunan monumental yang terbuat dari batu-batu besar dan masif.

Baca Juga: Saudi Media Group Siap untuk Akuisisi Chelsea, Apakah Ancaman Krisis The Blues Segera Berakhir?

Penemuan bangunan megalitik tersebar di hampir seluruh kepulauan Nusantara.

Hasil dari kebudayaan Megalitik adalah Menhir atau tugu batu yang berfungsi sebagai tempat memperingati seseorang yang telah meninggal, dan tempat penampungan roh.

Dolmen sebagai meja batu tempat sesaji, punden berundak yang merupakan bangunan pemujaan yang bertingkat-tingkat, peti kubur batu, sarkofagus atau keranda yang berbentuk lesung, waruga atau peti jenazah kecil yang berbentuk kubus dan arca-arca yang menggambarkan manusia dan hewan.

Bangunan-bangunan Megalitik sebagai tempat dan sarana pemujaan tersebut sering ditemukan bersama dengan alat-alat dari zaman Neolitikum.***

Rekomendasi