

inNalar.com – Daulah Abbasiyah adalah dinasti kedua Islam, kekuasaannya berlangsung dalam rentang tahun 750-1258 Masehi.
Secara umum, munculnya daulah atau dinasti Abbasiyah disebabkan oleh pertentangan antar etnis, ketidakpuasan orang-orang Mawali karena dinasti Umayyah menekankan adanya Arabisme.
Kerinduan masyarakat akan adanya juru selamat dalam hidup mereka, ketidak sukaan mereka pada sifat khalifah dinasti Umayyah yang hidup dalam kemewahan dan lemahnya militer menjadi efek domino nya.
Pendiri Abbasiyah adalah Abu Abbas As Saffah, yang masih keturunan Al-Abbas, paman Rasulullah.
Bani Abbasiyah merasa lebih pantas berkuasa karena mereka merupakan keturunan dari Bani Hasyim.
Pada awalnya, Abu Abbas memusatkan pemerintahannya di Kuffah, kemudian penggantinya yaitu Abu Ja’far Al Mansur memindahkannya ke Baghdad.
Masa bani Abbasiyah dapat dikelompokkan menjadi tiga periode yang didasarkan pada corak pemerintahan. Namun ada beberapa ilmuan yang mengatakan terbagi menjadi lima periode atau empat periode, disini masih terjadi perbedaan pendapat.
Baca Juga: Beginilah Kehidupan Bangsa Arab Pra Islam, Alasan Disebut Sebagai Jahiliyah dan Asal Mula Suku Badui
Periode pertama merupakan masa-masa dimana Abu As-Saffah meletakkan dasar-dasar berdirinya bani Abbasiyah (awal mula berdirinya).
Pada periode kedua, kekuasaan politik berpindah dari tangan khalifah kepada golongan orang Turki, Bani Buwaih dan Bani Saljuk.
Periode ketiga ditandai dengan lemahnya sultan-sultan bani Saljuk, kerajaan mereka mulai mengalami keruntuhan dan perpecahan.
Sehingga pemerintahan dilanjutkan oleh Ar Radi, Al Muttaqi, Al Mustaqfi, Al Muti’ dan seterusnya.
Baca Juga: 10 Daftar Orang Terkaya di Indonesia, Beneran Kaya dan Nggak Butuh Julukan Crazy Rich!
Selama 508 tahun berdirinya, daulah Abbasiyah mengalami tiga kali pregantian kekuasaan, dimulai dari bani Abbas, kemudian Bani Buwaih dan Bani Saljuk.
Sebenarnya sejak periode pertama, dinasti Abbasiyah telah mencapai kejayaan. Para khalifah cerdas dalam mengatur permasalahan politik, agama, ilmu pengetahuan, filsafat maupun kesejahteraan.
Prestasi yang dilakukan oleh bani Abbasiyah antara lain adalah menambah kementrian yang pernah ada pada masa Umayyah, yaitu Diwan al-Azimah, Diwan al-Nazri fi al-Mazalim, Diwan al-Nafaqat, Diwan al-Safawi, Diwan al-Diya’, Diwan al-Sirr dan Diwan al-Taqwi’.
Baca Juga: Ekspresi Doni Salmanan yang Cengengesan Jadi Sorotan, Ini Kata Pakar Ekspresi
Pada masa Abbasiyah, masjid dijadikan sebagai pusat pengembangan keilmuan dan tekhnologi, ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat.
Hal tersebut tidaklah mengherankan karena beberapa pemimpin Abbasiyah seperti Al-Mansur, Harun Al-Rasyid dan Al-Ma’mun merupakan kutu buku dan sangat mencintai ilmu pengetahuan, sehingga berpengaruh pada kebijakan-kebijakannya.
Pada masa Al Mahdi perekonomian mulai meningkat terutama dari sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil tambang seperti perak, emas, tembaga dan besi.
Ketika dipimpin oleh Harun Ar Rasyid, wilayahnya membentang dari negeri-negeri timur seperti Khawarzm Iran, Afganistan, hingga perbatasan India di Timur.
Masa emas dinasti Abbasiyah berlangsung hingga pertengahan masa pemerintahan Al Ma’mun pada awal abad ketiga hijriyah. Setelah itu, dinasti Abbasiyah melemah.
Kemunculan negeri-negeri pecahan di berbagai wilayah seperti Turki, Mongolia, Persia dan India, serta memisahnya sebagian wilayah dari pengaruh Abbasiyah menjadi tanda mulai lemahnya dinasti ini.
Pada tahun 1258 Masehi, ibu kota Abbasiyah dikuasai oleh bangsa Mongolia. Hal itu sekaligus menjadi akhir dari kekuasaan gemilang dinasti Abbasiyah.***