

inNalar.com – Budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun) pernah menjelaskan makna sesungguhnya dari berpuasa di bulan Ramadhan.
Mengingat bulan Ramadhan tahun 2022 atau 1443 Hijriyah sudah semakin dekat dan tinggal menghitung hari saja.
Sehingga, alangkah baiknya bagi sebagai kita umat islam untuk memahami lebih dalam lagi terkait makna yang sebenarnya dari berpuasa di bulan Ramadhan.
Baca Juga: 20 Link Twibbon Religius untuk Menyambut Ramadhan 2022
Tujuannya tidak lain yaitu, sebagai dasar dan landasan kita agar puasa Ramadhan 2022 kali ini, lebih bermakna, tentunya bisa mendapatkan ridho dari Allah SWT.
Cak Nun, sapaan akrab budayawan tersebut menjelaskan, hakikat dari puasa adalah bukan cuma sekedar menahan makan dan minum.
Akan tetapi, hasil dari ibadah tersebut juga harus bisa berlangsung. Dalam artian nilainya terus berlanjut dan ditanamkan di kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Rekomendasi Sahur di Bulan Ramadhan 2022, Resep Pancake Gandum untuk Anak-Anak, Simpel dan Cepat
“Puasa itu berlangsung di setiap diri manusia. Yang melakukan itu mulutnya, perutnya, jasadnya. Tapi dia berlangsung nilainya dalam arus kesadaran manusia, arus rohani manusia, arus cintanya manusia di dalam dirinya masing-masing,” jelasnya.
Selain itu, Cak Nun juga mengistilahkan bulan Ramadhan yaitu sebagai aktivitas lokakarya atau workshop untuk menuju manusia yang bersih (fitri).
Oleh karenanya, di bulan mulia ramadhan sangat dianjurkan untuk melatih seluruh anggota tubuh berpuasa, menahan segala hawa nafsu yang ada.
Mulai dari mulut, dituntut untuk menahan dari ucapan-ucapan yang terbilang kotor, mengumpat dan perilaku buruk lain.
Perut, selain menahan lapar, dalam puasa juga dilatih untuk merasakan kepedihan sebagaimana orang miskin yang kekurangan makan, serta lainnya.
Dengan demikian, ketika sudah mengetahui makna yang sesungguhnya dari puasa di bulan ramadhan, kita akan lebih mantab dan bersungguh-sungguh menjalaninya.
Baca Juga: Hikmah Ramadhan 2022: Tiga Tingkatan Derajat Orang yang Berpuasa Menurut Imam Ghazali
Dan juga terakhir, puasa adalah sarana umat islam untuk mendewasakan diri. Hal ini merujuk pada makna puasa sebagai sarana merenung.
Tubuh akan melakukan refleksi diri dalam renungan tersebut, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa umat Islam yang menjalankan puasa akan menjadi pribadi yang lebih baik atau dewasa.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi