Hari Bersejarah Bandung Lautan Api 24 Maret, Simak Kronologi Perlawanan Mempertahankan Kemerdekaan!

inNalar.com – Peristiwa Bandung Lautan Api merupakan puncak dari berbagai rangkaian peristiwa yang terjadi dalam Agresi Militer Belanda II.

Bandung Lautan Api merupakan salah satu upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui kekuatan bersenjata, di samping Pertempuran Surabaya, Pertempuran Ambarawa, Pertempuran Merah-Putih di Manado dan sebagainya.

Peristiwa yang diabadikan dalam lagu perjuangan Indonesia ciptaan Ismail Marzuki itu menjadi bagian dari sejarah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tahun ini adalah peringatan 76 tahun Bandung Lautan Api yang pecah pada 24 Maret 1946.

Baca Juga: 10 Link Twibbon Hari Bandung Lautan Api 24 Maret 2022, Cocok Dibagikan ke Media Sosial

Peristiwa Bandung Lautan Api dipicu masuknya pasukan RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Interness) yang dipimpin Kapten Gray dan Intercross (Palang Merah Internasional).

Hal itu juga menjadi momentum awal kedatangan Inggris di kota Bandung. Kedatangan mereka dilanjutkan dengan keluarnya perintah kepada Inggris.

Masuknya Inggris, RAPWI dan NICA otomatis memicu serangan-serangan rakyat Bandung terhadap NICA maupun pasukan Inggris yang dianggap membantu NICA.

Dalam suasana kalut akibat musibah banjir besar yang kala itu menerjang Bandung pada 27 November 1945. Brigjen MacDonald mengeluarkan ultimatum penduduk pribumi di Bandung Utara, dengan batas rel kereta api, harus pindah ke selatan.

Baca Juga: Kilas Ramadhan 2022, Pesona Masjid Dian Al-Mahri atau Masjid Kubah Emas di Depok

Batas ultimatum adalah 29 November 1945. Apabila sampai batas waktu tersebut ada penduduk pribumi yang masih di utara, maka mereka akan ditangkap dan ditembak mati.

MacDonald juga menegaskan bahwa markas RAPWI dan Jepang tidak boleh didekati dalam jarak 200 meter.

Ultimatum pertama tidak berhasil karena dihiraukan oleh rakyat Bandung. Ultimatum kedua pun dikeluarkan pada 17 Maret 1946.

Panglima Tertinggi AFNEI di Jakarta. Letnan Jenderal Montagu Stophord, memberikan ultimatum kepada Perdana Menteri Sutan Sjahrir supaya memerintahkan pasukan bersenjata RI meninggalkan Bandung Selatan sampai radius 11 km dari pusat kota.

Baca Juga: Benarkah Kerajaan Sriwijaya Hanya Fiktif Belaka?

Hanya pemerintah sipil, polisi, dan penduduk sipil yang diperbolehkan tinggal. Apabila ultimatum tersebut tidak dilaksanakan Inggris akan membombardir Bandung Selatan.

Saat pertempuran belangsung, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan instruksi agar TRI mengosongkan kota Bandung dengan tujuan untuk memperlambat laju pasukan sekutu dan supaya sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas militer.

Menindaklanjuti ultimatum tersebut, pada 24 Maret 1946 pukul 10.00, Tentara Republik Indonesia (TRI) di bawah pimpinan Kolonel A.H. Nasution memutuskan untuk membumi hanguskan Bandung.

Baca Juga: Fikih Ramadhan 2022: 5 Amalan Sunnah Saat Ramadhan 2022, Siap-Siap Panen Pahala!

Pembumi hangusan ini dinilai sebagai langkah yang tepat untuk melindungi aset-aset penting yang ada di Bandung agar tidak dimanfaatkan oleh Sekutu.

Rakyat mulai diungsikan dengan bantuan TRI. Sebagian besar bergerak dari selatan rel kereta api ke arah selatan sejauh 11 kilometer.

TRI memiliki rencana pembakaran total yang akan dilakukan pada 24 Maret 1946 pukul 24.00, sayangnya rencana ini tidak berjalan mulus karena pada pukul 20.00 dinamit pertama telah meledak di Gedung Indische Restaurant.

Karena diluar rencana, pasukan TRI melanjutkan aksinya dengan meledakkan gedung-gedung dan membakar rumah-rumah warga di Bandung Utara.

Baca Juga: Kajian Ramadhan 2022: Cak Nun Jelaskan Makna Sesungguhnya dari Berpuasa di Bulan Pengampunan Dosa

Namun ketika hendak menghancurkan sebuah gedung persenjataan milik Tentara Sekutu di daerah Dayeuhkolot, terjadi perlawanan dari pasukan penjaga.

Moh Toha meninggal dalam kebakaran dalam misi penghancuran gudang amunisi tersebut setelah meledakkan dinamit dari dalam gedung.

Malam itu, Bandung terbakar dan peristiwa itu kemudian dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api.***

 

Rekomendasi