Mengenal Sosok Mohammad Toha, Kusuma Bangsa yang Gugur dalam Peristiwa Bandung Lautan Api

inNalar.com – Bandung Lautan Api merupakan peristiwa yang terjadi 24 Maret 1946 di Bandung. Sekutu mengultimatum dan menuntut agar rakyat mengosongkan seluruh kota Bandung dan kembali tidak diindahkan dan disambut dengan pertempuran.

Aksi membumihanguskan ini disepakati pada tanggal 23 Maret 1946, melalui musyawarah Bersama MP3 (Majelis Persatoean Perdjoangan Priangan).

Hingga akhirnya TRI (Tentara Republik Indonesia) dan rakyat membumihanguskan kota Bandung Selatan 24 Maret 1945 dengan tujuan untuk memperlambat laju pasukan sekutu.

Baca Juga: Hari Bersejarah Bandung Lautan Api 24 Maret, Simak Kronologi Perlawanan Mempertahankan Kemerdekaan!

Pasukan TRI melanjutkan aksinya dengan meledakkan gedung-gedung dan membakar rumah-rumah warga di Bandung Utara. Dalam peledakan gedung mesiu, terdapat seorang tokoh yang gugur, ialah “bunga pangsa” Bandung bernama Mohammad Toha.

Siapa sebenarnya Mohammad Toha?

Moh Toha kerap dikenal sebagai pemimpin perjuangan oleh sebagian masyarat Bandung terutama di Dayeuhkolot, Bandung Selatan.

Moh Toha lahir tahun 1927 di desa Suniaradja, Bandung. Toha lahir dari ayah yang bernama Ganda dan seorang ibu yang bernama Narijah binti Nesah.

Baca Juga: 7 link Twibbon dan Ucapan Keren untuk Menyambut Ramadhan 2022, Cocok Dijadikan Postingan Media Sosial

Meski sekolahnya harus terhenti semasa Perang Dunia II yang pecah, jejak perjuangan Toha berlanjut hingga akhirnya ia bergabung menjadi anggota pasukan Seinendan.

Selain pernah menjadi montir motor, ia juga belajar menjadi montir mobil, lantas bekerja di bengkel kendaraan militer milik Jepang. Berkat hal tersebut, ia menjadi mahir berbahasa Jepang. 

Mohammad Toha melanjutkan perjuangannya dengan bergabung dalam kesatuan bernama Barisan Rakyat Indonesia (BRI) yang dipimpin oIeh Ben Alamsyah, pamannya sendiri.

Saat itu tugas BRI difokuskan pada upaya menggalang aksi masa dan upaya pengamanannya saat berlangsung pidato-pidato tokoh Nasionalis.

Baca Juga: Hari Bersejarah Bandung Lautan Api 24 Maret, Simak Kronologi Perlawanan Mempertahankan Kemerdekaan!

Pada usia nya yang ke 19 tahun, Toha mengemban tugas sebagai Komandan Seksi I Penggempur dan dilantik pada 17 Agustus 1945.

Dalam tugasnya, Toha banyak terlibat dalam berbagai pertempuran untuk melawan NICA dan sekutu.

Mohammad Toha sangat geram dengan perlakuan yang dilakukan oleh tentara Belanda. Dari sini, Toha berambisi untuk memasuki dan menghancurkan gudang mesiu agar Belanda terkalahkan dari misi pertempurannya.

Oleh karena itu, Toha menyampaikan amarahnya kepada atasannya, namun niat meledakkan gudang mesiu tersebut ditolak dan menyebabkan Toha memutuskan untuk pergi ke Garut menemui orang tuanya.

Baca Juga: 10 Link Twibbon Hari Bandung Lautan Api 24 Maret 2022, Cocok Dibagikan ke Media Sosial

Di Garut, Toha merencanakan penyerangan secara diam-diam. Hal ini membuat tekad Toha untuk menghancurkan gudang mesiu ini semakin kuat

Sebelum tiba di Dayeuhkolot, pasukan Toha bersinggah terlebih dahulu ke daerah Pasir Cina untuk beristirahat.

Setelah beristirahat, pasukan Toha mulai
menyebar bergerak hingga tempat penyebrangan Dayeuhkolot yang letaknya berdekatan dengan gudang mesiu Belanda.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Menu Berbuka Puasa Ramadhan 2022, Pas Banget untuk Hidangan Keluarga

Toha meledakkan gudang amunisi yang berisi 1.100 ton mesiu dan senjata sehingga timbul ledakan dahsyat, yang kemudian membuat Toha harus kehilangan nyawanya.

Penyerangan ini dampaknya nasional karena gudang mesiu dan amunisi itu adalah gudang perbekalan untuk NICA se-Priangan. Jadi, dengan hancurnya gudang itu, tentu pasukan NICA bingung karena amunisinya hancur.***

 

Rekomendasi