

inNalar.com – 24 Maret diperingati sebagai peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api. Momentum ini merupakan upaya mempertahankan Republik Indonesia umumnya dan Bandung khususnya dari intervensi asing.
Peristiwa ini diwarnai dengan peledakan gudang mesiu milik Belanda, setelah warga Bandung membumihangguskan kota Bandung. Dalam peledakan tersebut dua bunga bangsa gugur, mereka adalah Mohammad Toha dan Mohammad Ramdhan.
Sebelum tiba di Dayeuhkolot, pasukan Toha singgah terlebih dahulu ke daerah Pasir Cina untuk beristirahat.
Baca Juga: Mengenal Sosok Mohammad Toha, Kusuma Bangsa yang Gugur dalam Peristiwa Bandung Lautan Api
Setelah beristirahat, pasukan Toha menyebar bergerak hingga tempat penyebrangan Dayeuhkolot, yang letaknya
tidak jauh dengan gudang mesiu Belanda, sasaran utama mereka.
Menurut wawancara dengan Bapak H.M. Djuhiya (salah satu pelaku sejarah Bandung Lautan Api), pasukan Toha menyebrang dengan cara menyelam ke Sungai Citarum.
Tujuannya agar kedatangan mereka tidak dapat dideteksi oleh pihak kolonial Belanda. Mereka berjalan dengan selamat dan berhasil memasuki wilayah gudang mesiu.
Sementara itu, pasukan BRI (Barisan Republik Indonesia) lainnya mulai berjaga di belakang desa Dayeuhkolot.
Baca Juga: Hari Bersejarah Bandung Lautan Api 24 Maret, Simak Kronologi Perlawanan Mempertahankan Kemerdekaan!
Dalam waktu yang cukup singkat, terdengar suara ranjau meledak bersamaan dengan suara baku tembak antara pihak Belanda dan pasukan Mohammad Toha.
Setelah terdengar suara ledakan tersebut, terdapat kontak antara pihak Belanda dan pihak Toha yang menyebabkan gugurnya beberapa anggota dari pasukan.
Toha dan pasukan diminta untuk mundur. Namun Mohammad Toha dan Muhamad Ramdan tetap bertahan meskipun kondisi mereka luka parah. Keduanya terus merangsek ke gudang mesiu tersebut.
Toha meminta pasukan lainnya mengadakan serangan ke tentara Belanda dan membuat taktik lain agar pasukan
Belanda terpecah fokus dan memudahkan Toha untuk menghancurkan gudang mesiu.
Pasukan mulai bergerak sekitar pukuI 09.00 pagi dengan strategi baru, yakni penghindaran ke arah timur sekitar 100 m.
Toha dengan mudah memasuki wilayah gudang mesiu untuk memasang bom granat.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Sahur di Bulan Ramadhan 2022, Enak dan Simple
Kemudian sekitar pukul 12.30 terdengar suara dahsyat yang mengejutkan seluruh warga kota, bahkan terdengan hingga 70 km dari pusat ledakan.
Ketika ledakan gudang mesiu ini, Toha dan Ramdan gagal melarikan diri dari tempat dikarenakan kondisi nya yang luka parah.
Akhirnya Mohammad Toha dan Muhammad Ramdan gugur sebagai kusuma bangsa ditempat ketika kejadian meledaknya gudang mesiu milik Belanda.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi