

inNalar.com – Inilah saran Ustadz Abdul Somad (UAS) disaat merasa dilema terkait perbedaan keputusan penetapan awal bulan suci Ramadhan 2022.
Seperti yang diketahui, dalam penetapan awal puasa, Idul Fitri, maupun Dzulhijah, di Indonesia memiliki berbagai cara atau metode yang digunakan.
Sehingga, lantaran metode penetapan awal puasa Ramadhan 2022 yang digunakan pemerintah dan sejumlah organisasi islam di Indonesia berbeda-beda, maka hasilnya juga kadang bertentangan.
Termasuk salah satunya menurut ormas Muhammadiyah, awal Ramadhan 2022 jatuh pada tanggal 2 April 2022.
Sedangkan pemerintah melalui sidang isbat yang dilakukan hari Jum’at tanggal 1 April 2022 dipimpin langsung oleh Menteri Agama menetapkan bahwa1 Ramadhan 2022 jatuh pada tanggal 3 April 2022.
Lantas sebagai orang awam, bagaimana dalam menanggapi kasus tersebut? apakah ikut keputusan pemerintah atau ormas?
Kata Ustadz Abdul Somad (UAS), muslim dituntut untuk mengikuti pendapat sesuai apa yang dianggap dan diyakini benar menurut diri sendiri.
“Saya pribadi menyarankan ikutilah yang kamu yakini benar menurut engkau, walau pun seribu orang memberikan fatwa kepada mu,” kata UAS dikutip inNalar.com dari kanal Youtube Lentera Aswaja.
“Fatwa yang dikeluarkan Muhammadiyah benar, Fatwa yang dikeluarkan MUI benar,” sambungnya.
Sebab menurut UAS, keputusan dari kedua belah pihak sama-sama benarnya dan tidak menyimpang dari jalur hukum Islam.
UAS juga menjelaskan titik perbedaan dari keputusan penetapan awal Ramadhan 2022 antara pemerintah dan Muhammadiyah adalah terkait angka minimal.
Ia menyebutkan, pemerintah memegang patokan angka dua derajat sebagai minimal dalam melihat hilal.
Baca Juga: PBNU Tetapkan 1 Ramadhan 1443 Hijriah Jatuh Pada Minggu 3 April 2022
Di sisi lain, Muhammadiyah menggunakan angka minimal yang cukup rendah yaitu, 0,5 derajat, dan itu sudah dianggap hilal.
Sebagai perbandingan, UAS bahkan juga mengatakan di negara Turki malah sangat jauh berbeda, yaitu syarat hilal harus enam derajat.
“Turki lebih tinggi lagi, angka enam derajat baru hilal, kalau dua atau tiga belum hilal,” ucap Ustadz Abdul Somad.
Dengan demikian, perbedaan penentuan awal puasa Ramadhan 2022 merupakan hasil ijtihad dari masing-masing pihak menurut Ustadz Abdul Somad.
Sehingga, silahkan pilih salah satu keputusan sesuai dengan keyakinan hati masing-masing, jangan sampai pilih keduanya.***

inNalar.com – Inilah saran Ustadz Abdul Somad (UAS) disaat merasa dilema terkait perbedaan keputusan penetapan awal bulan suci Ramadhan 2022.
Seperti yang diketahui, dalam penetapan awal puasa, Idul Fitri, maupun Dzulhijah, di Indonesia memiliki berbagai cara atau metode yang digunakan.
Sehingga, lantaran metode penetapan awal puasa Ramadhan 2022 yang digunakan pemerintah dan sejumlah organisasi islam di Indonesia berbeda-beda, maka hasilnya juga kadang bertentangan.
Termasuk salah satunya menurut ormas Muhammadiyah, awal Ramadhan 2022 jatuh pada tanggal 2 April 2022.
Sedangkan pemerintah melalui sidang isbat yang dilakukan hari Jum’at tanggal 1 April 2022 dipimpin langsung oleh Menteri Agama menetapkan bahwa1 Ramadhan 2022 jatuh pada tanggal 3 April 2022.
Lantas sebagai orang awam, bagaimana dalam menanggapi kasus tersebut? apakah ikut keputusan pemerintah atau ormas?
Kata Ustadz Abdul Somad (UAS), muslim dituntut untuk mengikuti pendapat sesuai apa yang dianggap dan diyakini benar menurut diri sendiri.
“Saya pribadi menyarankan ikutilah yang kamu yakini benar menurut engkau, walau pun seribu orang memberikan fatwa kepada mu,” kata UAS dikutip inNalar.com dari kanal Youtube Lentera Aswaja.
“Fatwa yang dikeluarkan Muhammadiyah benar, Fatwa yang dikeluarkan MUI benar,” sambungnya.
Sebab menurut UAS, keputusan dari kedua belah pihak sama-sama benarnya dan tidak menyimpang dari jalur hukum Islam.
UAS juga menjelaskan titik perbedaan dari keputusan penetapan awal Ramadhan 2022 antara pemerintah dan Muhammadiyah adalah terkait angka minimal.
Ia menyebutkan, pemerintah memegang patokan angka dua derajat sebagai minimal dalam melihat hilal.
Baca Juga: PBNU Tetapkan 1 Ramadhan 1443 Hijriah Jatuh Pada Minggu 3 April 2022
Di sisi lain, Muhammadiyah menggunakan angka minimal yang cukup rendah yaitu, 0,5 derajat, dan itu sudah dianggap hilal.
Sebagai perbandingan, UAS bahkan juga mengatakan di negara Turki malah sangat jauh berbeda, yaitu syarat hilal harus enam derajat.
“Turki lebih tinggi lagi, angka enam derajat baru hilal, kalau dua atau tiga belum hilal,” ucap Ustadz Abdul Somad.
Dengan demikian, perbedaan penentuan awal puasa Ramadhan 2022 merupakan hasil ijtihad dari masing-masing pihak menurut Ustadz Abdul Somad.
Sehingga, silahkan pilih salah satu keputusan sesuai dengan keyakinan hati masing-masing, jangan sampai pilih keduanya.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi