Cantik Eksotis! Standar Kecantikan Wanita di Desa Mentawai, Sumatera Barat Ini Sungguh Tak Biasa


inNalar.com –
Penduduk wanita di desa terpencil Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat ini memiliki standar kecantikan paling beda, bahkan dapat dikatakan super unik nan eksotis.

Pantas bisa dibilang unik dan eksotis. Pasalnya, cara mempercantik diri para kembang desa di pelosok Sumatera Barat ini bukan dengan operasi plastik atau pun skincare mahal.

Standar kecantikan wanita di pedalaman kampung Mentawai ini hanya terfokus pada salah satu bagian tubuhnya, yaitu gigi. Tolok ukur kecantikan ini persis dengan Suku Bagobo, Filipina.

Baca Juga: Transaksi Nasabah BRI Makin Aman dan Nyaman Berkat Fitur Unggulan BRImo QRIS Transfer

Cantiknya seorang perempuan dinilai dari seberapa uniknya bentuk gigi mereka. Rupanya, konsep ini telah membudaya secara turun-temurun sejak nenek moyang mereka.

Jika Thailand memiliki konsep kecantikan dengan leher panjangnya, maka Indonesia memiliki budaya lokal di mana gigi menjadi komponen penting dalam mencitrakan kecantikan mereka.

Tradisi kerik gigi menjadi cara unik wanita asli Suku Mentawai ini mempercantik diri dan membuktikan kedewasaan seseorang. Konsep inilah yang kemudian menjadi standar kecantikan mereka.

Baca Juga: Bukan Cuma Pengaruh Fisik! Suhu Udara Ternyata Bisa Menjelaskan Kepribadian Seseorang

Menariknya, para perempuan suku adat di pelosok Sumatera Barat ini melewati proses pengerikan gigi tanpa obat bius penghilang rasa sakit.

Bisa jadi, standar kecantikan ini bagimu terkesan membuatmu linu tetapi inilah saktinya para wanita cantik nan eksotis dari Kepulauan Mentawai.

Agar para wanita di desa eksotis semakin cantik, gigi mereka pun akan dikerik hingga runcing. Ya, semakin runcing semakin cantik begitulah konsepnya.

Baca Juga: Tenang dan Bebas Sampah, Desa di Dolomites Italia Ini Bak Surga Tersembunyi

Tradisi kerik gigi akan membuat tampilan gigi mereka unik dan eksotis mirip bentuk ketupat. Bagian bawah giginya tidak lagi merata sebagaimana kebanyakan perempuan.

Sebagian menggambarkan bentuk giginya seperti taring runcing ikan hiu, itulah tolok ukur kecantikan wanita desa yang ada di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Mereka amat bersemangat melakukan tradisi kerik gigi meski harus menahan sakitnya proses peruncingan karena hal tersebut diyakini mampu memudahkan mereka menemukan jodohnya.

Baca Juga: Arborek, Desa Wisata Tersembunyi di Raja Ampat dengan Keindahan Laut yang Membius Mata

Sebagai gambaran, tradisi kerik gigi ini dilakukan dengan sebuah alat pahat. Para perempuan yang akan dikerik giginya diminta untuk membuka lebar mulutnya.

Sementara pemahat akan mengikir 23 gigi si wanita dari posisi atas. Standar kecantikan yang diyakini masyarakat asli pedalaman Mentawai ini ternyata juga dilakukan oleh suku asli Mindanao, Filipina.

Wanita yang berasal dari suku asli Bagobo Filipina pun juga meyakini bahwa standar kecantikan kaum hawa terletak pada bentuk gigi yang runcing.

Baca Juga: Menilik Kopi Desa Segaran Ekspansi Nasional: Produk Lokal, Cita Rasa Global

Bagi masyarakat lokal, tradisi kerik gigi adalah bagian dari keniscayaan fase hidup mereka demi mendapatkan kecantikan dan kedewasaan.

Meski begitu, tradisi yang dinamakan pula dengan Pasipiatsot ini sebenarnya semakin ditinggalkan di pedesaan Mentawai.

Hal tersebut terungkap dari penelitian yang dilakukan oleh para mahasiswa KKN UGM di daerah Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Baca Juga: Dihuni 180 KK, Desa Tanpa Daratan di Pedalaman Hutan Kalimantan Timur Ini Buat Warganya Sholat Mengapung

“Keberadaannya masih ada di Dusun Buttui,” dikutip dari laman resmi UGM.

Fakta terang diungkap oleh sekumpulan mahasiswa KKN di bawah bimbingan Dr. Ir. Bilal Ma’ruf, S.T., M.T, diketahui ternyata Dusun Buttui menjadi salah satu desa yang masih melestarikan tradisi kerik gigi tersebut.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]