

inNalar.com – RA Kartini atau Raden Ajeng Kartini yang banyak dikenal sebagai tokoh wanita di negeri ini, ternyata memiliki beberapa hal yang jarang diketahui orang.
Berbeda dengan Pahlawan Nasional Indonesia wanita lain yang berjuang langsung melawan penjajah seperti Cut Nyak Dien dari Aceh.
Tak sama pula perjuangannya dengan Raihanal Kudus El Yunusiah perintis sekolah wanita pertama dari Padang, RA Kartini lebih banyak bertarung gagasan.
Baca Juga: Simak 10 Link Twibbon Pilihan Terbaik Ucapan Hari Kartini 2022 yang Diperingati Setiap 21 April
Berikut ada 5 fakta dari RA Kartini atau Raden Ajeng Kartini yang perlu diketahui:
1. Keturunan Bangsawan
Dikutip inNalar.com dari artikel Kalbar Terkini berjudul “Fakta Menarik R.A Kartini Yang Perlu Diketahui, Pencipta Buku Habis Gelap Terbitlah Terang Yang Kontrovesionl” pada Senin, 4 April 2022 dari ibu mengalir darah ulama.
Sementara sang ibu, M.A. Ngasirah, merupakan putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.
Baca Juga: Jokowi dan PM Malaysia Sepakat Jadikan Melayu Sebagai Bahasa Resmi ASEAN, Ini Alasannya
2. Buku Habis Gelap Terbitlah Terang
Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa.
Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.
Paling tidak inilah efek yang terasa ketika surat-surat Kartini dibukukan dalam bentuk Bahasa Belanda dengan judul “Door Duisternis Tot Licht”.
Baca Juga: Kutipan Inspiratif Raden Ajeng Kartini, Kado untuk Seluruh Wanita Indonesia di Hari Kartini 2022
Mereka yang membacanya pasti tersentuh akan ketidakadilan yang harus diterima kaum perempuan pribumi di tanah Jawa.
Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.
Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.
3. Belanda Mengabadikan Nama Kartini Sebagai Nama Jalan
Perjuangan Kartini memang tak hanya menginspirasi kaum perempuan Indonesia saja, melainkan kaum perempuan Belanda juga ikut merasakan hal yang sama.
4. Meninggal di Usia Muda
Sayangnya, perjuangan Kartini tidak bertahan lama. Kartini meninggal di usia belia, yaitu 25 tahun.Disebutkan, Kartini meninggal empat hari setelah melahirkan anak pertamanya yang bernama Raden Mas Soesalit Djojodiningrat.
Diduga, Kartini meninggal karena penyakit preeklampsia yang dideritanya pasca melahirkan sang buah hati.
Baca Juga: Hari Kartini 21 April, Menelisik Geliat Pendidikan Khusus Wanita yang Digaungkan Raden Ajeng Kartini
5. Sempat Bersekolah dan Mahir Bahasa Belanda
Dikalangan perempuan Indonesia saat itu Kartini merupakan anak perempuan yang beruntung karena ia mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di ELS (Europese Lagere School).
Meskipun hanya bersekolah sampai umur 12 tahun karena sudah harus dipingit untuk menikah, Kartini selalu semangat untuk belajar dan mengetahui hal baru.
Dari pendidikan yang ia tempuh, Kartini berkesempatan untuk mempelajari bahasa hingga ia mahir berbahasa Belanda.
Dan saat sedang didpingit, Kartini banyak membaca dan belajar dengan sesama teman perempuannya untuk mengisi waktu luangnya.
Kartini juga sering berkirim surat dengan teman-teman korespondensi dari Belanda salah satunya Rosa Abendanon dan Estelle “Stella” Zeehandelaar.
Dari sinilah Kartini semakin mahir Bahasa Belanda hingga akhirnya ia terinspirasi untuk memajukan perempuan Indonesia.***(Syaifullah/Kalbar Terkini)
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi