

inNalar.com – Polemik yang menimpa Ustad Yusuf Mansur terkait videonya yang viral masih menjadi pembicaraan hangat warganet. Video yang bertajuk “1 Triliun” itu dibicarakan hingga dibuat meme oleh warganet.
Terkait video yang viral tersebut, anak Yusuf Mansur yakni Wirda Mansur pun angkat bicara melalui Insta story. Hal ini terungkap dari cuitan akun Twitter @mazzini_gsp. Begini cuitannya:
“Tercerahkan sekali dari penjelasan Kak Wirda, ternyata sudah ada yang mau beli PayTren seharga 4 Triliun. Tentu tidak sulit untuk Pak Yusuf Mansur mendapatkan 1 Triliun, apa lagi mengembalikan kerugian korban investasi dan menggaji karyawan PayTren yang tidak dibayar 20 bulan,” tulis akun @mazzini_gsp
Bagaimana isi Insta story Wirda Mansur yang berjudul “1 T” tersebut? Wirda mengawali Insta storynya dengan pertanyaan bagaimana perasaan seorang anak ketika video ayahnya dijadikan bahan konten oleh banyak orang.
Soal “1 T”
“Gue yakin, semua orang udah tau, semua orang juga udah liat, beberapa dijadiin bahan konten, dan banyak yang nanya: “Sebagai anak, gimana perasaan lo?” Jawabannya, IKUT KEHIBUR. Urusan diomongin orang, perkara di’ramein’ orang, udah bukan hal yang biasa buat kami. Jadi kalo sampe bab ini, insya Allah kita udah khatam, no hard feelings, dan malah fine-fine aja, dan seneng karena pada kreatif, hihi,” tulis Wirda.
Selanjutnya, Wirda menuturkan bahwa Paytren sempat dilirik oleh investor besar. Investor tersebut adalah pioneer dari aplikasi transportasi.
“Tahun 2018, dan gue menyaksikan sendiri, real di depan mata, mendengar dan bertatap muka langsung. Pada saat itu, kami bertemu dengan calon investor Paytren di hotel Grand Mahakam. Investor ini GEDE BANGET, salah satu pioneer apps transportasi yang kalo disebut mereknya kalian pasti taulah siapa. Dengan tema pembicaraan: Paytren pengen dibeli sahamnya sekian persen, dengan angka 4 TRILIUN RUPIAH. Dengan valuasi Paytren di tahun tersebut,” lanjutnya.
Baca Juga: Hari Kopassus 2022: Sejarah Terbentuknya Komando Pasukan Khusus dan Link Twibbon HUT Kopassus ke-70
Wirda juga sempat bimbang apakah harus menjual datau mempertahankan Paytren saat itu.
“Paytren gagah bukan main, beli klub sepak bola Lechia Gdansk, kalo main FIFA, ada tuh di kaosnya, logo Paytren dulu, hihi. Segitu aja gak ada investor. Sampe sini, semua ribut, dan di ambang kegalauan. Haruskah jual? Atau pertahankan? Paytren hadir sebagai e-wallet pada saat belum marak ada e-wallet. Bisa dibilang, salah satu yang pertama di indo,” tuturnya.
Wirda juga mengklaim bahwa Paytren adalah satu-satunya e-wallet yang 100% milik Indonesia.
Baca Juga: Logo icoin Milik Wirda Mansur Diduga Kuat Hasil Jiplak dari Salah Satu Perusahaan di Korea Selatan
“Dan HANYA 1 YANG REAL 100% INDONESIA SECARA KEPEMILIKAN. Gue bisa kena pasal, tapi bodo amat. Yang katanya 100% Indonesia, silakan dicek, rata-rata pasti ada asing disitu. Dan yang MURNI punya “kita” as pribumi, paling banyak sahamnya paaaalingggg 10% intinya bukan mayoritas aja judulnya,” imbuhnya.
Namun akhirnya Wirda tampak menyesal karena tidak jadi menjual Paytren.
“Gue yang saat itu NGOTOT BANGET buat “JANGAN DIJUAL PAH” dan i would say, gue seumur-umur gak pernah menyesal, tapi untuk kali ini gue akui… Gue… m e n y e s a l… Bokap termasuk yang kekeh untuk gak jual. Karena pengen biar umat yang bener-bener punya. Bener-bener lahir dari muslim. Dan gue termasuk yang berprinsip sok tau seperti itu jaman dulu. Hati gak boleh kotor, tapi gue akhirnya jadi melihat. Umat kita belum kuat, belum bisa menerima kalangan sendiri,” aku Wirda.
Wirda merasa bahwa kapitalis menguasai hampir seluruh sektor di masyarakat.
Baca Juga: Wirda Mansur Dituding Bohong soal Kuliah di Oxford, Ini Klarifikasinya
“Jadi biarlah, biar aja. Biar kapitalis aja yang menguasai. Toh, ga ada yang peduli. Yang ada malah maki-maki. Andai tau, betapa berat perjuangan buat sampe di titik ini. Dan gua rasa banyak yang bisa merasakan paitnya ketika merjuangin orang, tapi yang diperjuangin mlengos aja, boro-boro bantuin, doain aja kaga. Maki iya, cemooh iya, ngatain iya, ya gitu dah. Itulah “KITA” hehe.. ga usah sakit hati, emang itu faktanya.” Wirda mengakhiri ceritanya.***