

inNalar.com – Hari Kartini yang selalu diperingati bangsa Indonesia setiap tanggal 21 April bisa dilakukan dengan beragam cara dan kegiatan bermanfaat, diantaranya bisa ke museum atau bangunan bersejarah.
Salah satu bangunan bersejarah di Aceh yang sangat cocok untuk dijadikan peringatan hari Kartini yaitu rumah Pahlawan Nasional Wanita asa daerah tersebut, ada kediaman peninggalan dari Cut Nyak Dien.
Rumah Cut Nyak Dien memiliki nilai sejarah yang tinggi karena dari sanalah dirinya mengatur strategi perang melawan penjajah Belanda, tempat tinggal itu pun juga pernah dibakar oleh musuh saat perang.
Bangunan bersejarah tersebut kemudian dibuat lagi dengan replika yang sangat mirip dan tidak kurang sedikitpun nilai perjuanan sebagai pelajaran yang bisa diambil oleh generasi pelanjut masa depan.
Dikutip inNalar.com dari artikel Flores Terkini berjudul “Rumah Cut Nyak Dien di Desa Lampisang Aceh Besar, Tempat Pejuang Wanita Aceh Menyusun Strategi Perang“ pada Senin, 18 April 2022 peninggalan asli yang bisa disaksikan adalah sumur.
Rumah Pahlawan Nasional Wanita asal daerah berjuluk Serambi Mekah tersebut terletak di Jalan Cut Nyak Dien, Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Pada tahun 2004 ketika terjadi tsunami dahsyat, tempat ini termasuk menjadi perlindungan bagi pengungsi.
Adapun yang asli dari rumah ini adalah sumurnya. Sumur dibuat tinggi, di mana bibir sumur mencapai lantai dua.
Baca Juga: Mencuat Wacana Jualan Rokok Eceran Bakal Dilarang oleh Pemerintah, Begini Tanggapan dari BPOM
Bibir sumur yang tinggi dibuat dengan tujuan agar tidak ada musuh (Belanda) yang bisa memasukkan racun ke dalam sumur.
Rumah ini dibangun oleh Belanda ketika Teuku Umar berpura-pura menyerah kepada Belanda (dalam hal strategi perang) sehingga Belanda kemudian menyediakan segala fasilitas, baik senjata maupun bangunan rumah untuk tempat berteduh.
Saat itu, masyarakat Aceh menganggap Teuku Umar sebagai pengkhianat karena bekerja sama dengan Belanda.
Setelah fasilitas itu lengkap dan mencukupi, Teuku Umar mengumpulkan orang-orangnya membagikan senjata dan menyerang Belanda.
Pada tahun 1981 rumah ini dibangun kembali oleh Depdibud dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hasan pada tanggal 4 Februari 1987.
Rumah ini berukuran 25 x 17 meter, konstruksi bangunan kayunya memiliki 65 tiang, di mana dalam bahasa Aceh disebut Tameh, dan didominasi oleh cat hitam.
Rumah pusaka ini selalu terlihat bersih dan rapi, serta selalu dirawat dengan baik oleh para petugas.
Rumah Cut Nyak Dien buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00, di mana pengunjung rata-rata mencapai 1000 hingga 12.000 orang per bulan.***
(Eto Kwuta/Flores Terkini)
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi