

inNalar.com – Siapa sangka bambu, tanaman khas Asia digunakan untuk membangun jalan tol. Inilah inovasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak di Jawa Tengah.
Jalan tol ini dibangun di atas laut dengan memanfaatkan bambu di bagian pondasi untuk memperkuat struktur tol di atasnya.
Jalan tol yang menggunakan bambu ini khususnya pada Seksi 1 Semarang-Sayung. Pasalnya, ruas pada seksi 1 membentang di atas laut sepanjang 10,64 km.
Baca Juga: Langka! Suku Tertua di Kalimantan Tengah Ini Punya Ritual Sakral Pelepas Gelar Janda Duda
Berbeda dengan Seksi 2 Sayung-Demak yang berdiri di daratan sepanjang 16,31 km.
Sebelumnya, Balai Bahan dan Struktur Bangunan Gedung, Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan, Direktorat Jenderal Cipta Karya telah melaksanakan pengujian guna mengukur kelayakan penggunaan bahannya.
“Pengerjaan konstruksi jembatan pada paket 1B sepanjang kurang lebih 10 Km yang berada di atas laut memakai bambu sebagai pondasinya, karena itu diperlukan sekitar 10 juta batang bambu yang telah dianyam oleh 1.500 pekerja yang sudah mahir,” tulis siaran pers Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Semarang.
Baca Juga: Satu-Satunya di Indonesia! Warga Desa Unik di Kalimantan Timur Ini Hidupnya Gak Napak Tanah
Bukan berasal dari Semarang, BPJT menyebut ribuan bambu yang akan dipakai dalam pembangunan jalan tol Semarang ini berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah, yaitu seperti Purworejo, Wonogiri, dan Magelang.
Bahan dari alam yang dipilih pun tidak sembarangan. Ada kriteria spesifik yang harus diperhatikan yaitu bentuknya lurus dengan panjang 8 meter dan diameternya antara 8-10 centimeter.
Jarak antara satu rakit dengan rakit lainnya kurang lebih 40 sentimeter. Lebarnya nanti akan mengikuti cerucuk yang telah dibentuk, yaitu 150 meter.
Baca Juga: Terpencil di KM 0 RI, Pulau Terluar Sulawesi Utara Ini Pernah Jadi Rebutan Filipina-Malaysia
Setiap satu lapis rakit batangnya akan dihamparkan selebar 150 meter, kemudian diberi lapisan pasir laut setebal 20 cm di atasnya.
Tidak sampai di situ, rakit akan dihampari kembali dengan rakit batang dan ditutup kembali oleh lapisan keras pasir laut, begitu berulang-ulang hingga total 17 lapis.
Teknik penyiraman pasir laut di atas struktur rakit bambu yang digunakan untuk melapisi, menggunakan Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD), sejenis kapal isap pasir laut.
Baca Juga: Salah Tapak Pindah Alam! Desa Terpencil Klaten Ini Bertengger di Tengah Jurang Setinggi 1.158 Mdpl
Dilansir dari Youtube YPM Journey, pembangunan jalan tol baru kali ini menggunakan fondasi dasar rakit batang dari pohon alami yang sangat lebar yakni mencapai 150 m padahal lebar tolnya sendiri hanya 50 m.
Artinya, jalan itu akan seperti berada di atas segitiga yang terpotong
BPJT menyatakan penggunaan material ini tidak hanya berfungsi sebagai pondasi, tetapi juga dapat digunakan untuk memastikan keberlanjutan ekosistem laut.
Baca Juga: Terbengkalai 10 Tahun Lebih, Proyek Kota Mangkrak Rp1,2 Triliun di Lampung Kini Jadi Kebun Singkong
Bambu yang telah digunakan sebagai matras dari jalan ini nantinya diharapkan akan terendam dan akan menjadi bagian dari terumbu karang. Hal ini sekaligus akan menambah kekuatan struktural di bawah air.*** (Aliya Farras Prastina)