inNalar.com – Khutbah Jumat singkat dengan tema merajut keluarga sakinah ini sangat tepat disampaikan karena cukup pendek dan tidak membosankan. Teks yang tersedia pada artikel ini juga lengkap dengan doa pembuka dan penutup sehingga memudahkan petugas khatib.
Tema merajut keluarga sakinah ini penting dijelaskan karena kondisi zaman saat ini dijumpai banyak rumah tangga orang tidak bahagia, tokoh agama atau ustadz bisa menasehati umat Islam melalui khutbah Jumat singkat namun lengkap dipenuhi hikmah paling bagus dan bermakna.
Khutbah Jumat singkat perlu menyentuh hati hadirin yang mendengarkan, sangat disayangkan bila kesempatan sepekan sekali tidak ada sedikitpun bekas mendalam bagi jamaah. Materi paling bagus yaitu sesuai kondisi atau menjawab lengkap persoalan dimana tengah terjadi di masyarakat.
Seperti kondisi rumah tangga yang rumit tentunya, disadari atau tidak sebenarnya banyak sekali yang memerlukan panduan dalam hal ini, maka materi paling bagus salah satunya tema merajut keluarga sakinah dan bisa menjadi khutbah Jumat singkat agar lengkap hidup bahagia.
Dikutip inNalar.com dari laman Suara Muhammadiyah pada Rabu, 18 Mei 2022 khutbah Jumat singkat bertema merajut keluarga sakinah ini tentu bertolak balakang dengan maraknya praktek gay atau LGBT yang menyukai sesama jenis, jelas itu tidak sesuai dengan Islam dan membuat rumah tangga tidak lengkap.
Khutbah Jumat singkat paling bagus dan lengkap dengan tema merajut keluarga sakinah ditulis oleh Dosen Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta Ustadz Syaifullah.
Semoga Allah senantiasa mengelompokkan kita ke dalam golongan hamba-hamba yang gigih dalam meningkatkan rasa syukur dan taat. Ibadah semakin meningkat dari segi kuantitas dan kualitas dan yang tidak kalah pentingnya selalu terpatri di dalam diri untuk senantiasa haus akan ilmu dan selalu merasa tidak cukup akan pengetahuan, baik ilmu dunia lebih-lebih ilmu agama. Dan semoga kita senantiasa dianugerakan keluarga yang sakinah, keluarga yang hadir laksana mentari pagi, menghangatkan, menyegarkan yang layu dan menumbuhkan bibit-bibit kebajikan.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan tali pernikahan sebagai tali yang kuat dalam menjalin hubungan antara lelaki dan perempuan. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan keluarga sebagai wadah yang penuh ketenangan, cinta dan kasih sayang guna melahirkan generasi yang baik dan shalih. Dan segala puji bagi Allah yang sangat membenci perceraian meski halal dilakukan agar setiap pasangan berusaha keras untuk menjaga rumah tangganya dari kehancuran.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi Muhammad, Nabi yang telah mencontohkan cara berkeluarga yang baik, cara mendidik anak yang baik dan cara menyelesaikan setiap persoalan rumah tangga dengan baik. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salamnya kepada Beliau, juga kepada keluarga Beliau, para shahabat dan para pengikutnya sampai hari kiamat.
Dalam sebuah hadits Nabi yang menyatakan bahwa godaan setan atas manusia yang paling disukai oleh Iblis sebagai pemimpin mereka adalah menceraikan pasangan suami isteri. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian Dia mengirim tentara-tentaranya. Setan yang jabatannya paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang setan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (anak Adam yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim no. 7037)
Jama’ah Jum’at Rahimakumullah
Hadist Rasulullah SAW di atas dapatlah diambil beberapa hal sebagai ibrah dalam menjalani rumah tangga yaitu betapa urgennya peran keluarga dalam membangun umat. Bahwa dalam rajutan keluarga sakinah mampu menciptakan generasi khaira ummah. Keluarga adalah batu penyusun benteng kekuatan umat. Jika keluarga rapuh, umat pun rapuh, jika keluarga hancur, umat pun akan hancur.
Pantas saja jika iblis sangat menyukai setan yang mampu memisahkan pasangan dan menceraiberaikan rumah tangga padahal cerai (talaq) hukumnya legal menurut syariat. Hal ini karena dampak negatif yang ditimbulkan dari rusaknya keluarga sangatlah besar dan bersifat turun temurun karena yang paling terkena dampaknya adalah anak-anak. Anak-anak dari keluarga broken home sangat berpotensi mudah dirusak karena tak mendapat perhatian dan pendidikan yang baik dari kedua orang tuanya. Bagaimana bisa mendapatkan pendidikan yang baik sementara dua orang yang bercerai biasanya saling membenci dan menjauhi?
Mencerai-beraikan rumah tangga benar-benar menjadi investasi setan yang laur biasa dalam merusak manusia. Bukankah jika generasi berikutnya rusak, maka setan seakan sudah tak perlu berusaha keras untuk menggoda manusia agar bermaksiat? Jika generasi muda rusak, maka di masa berikutnya, akan muncul setan-setan baru dari kalangan manusia yang bahkan bisa lebih setan daripada setan itu sendiri?
Salah satu misi setan adalah menggoda anak cucu Adam agar terjerumus ke dalam jurang yang kadang tanpa sadar dan tanpa disadari. Tidak terkecuali dengan cara menghancukan rumah tangga kaum muslimin dengan beragam cara. Membuat sang suami selingkuh, membuat isteri selingkuh juga atau membuatnya sangat boros terhadap harta suaminya hingga suaminya menceraikannya, memicu timbulnya pertikaian dan kesalah pahaman, dan beragam cara yang dapat merusak hubungan rumah tangga.
Ini demi investasi masa depan dan demi pangkat yang dijanjikan Iblis. Akan sangat merepotkan jika keluarga muslim berhasil menjaga rumah tangga mereka. Satu keluarga Najmuddin yang utuh saja mampu memporak-porandakan pasukan salibis. Satu keluarga rakyat Palestina yang baik mampu menghasilkan para penghafal al-Quran sekaligus mujahid pejuang yang kenal takut akan kematian dan siap menghancurkan kesombongan Yahudi. Keluarga-keluarga yang terjaga dengan baik melahirkan para ulama dan dai-dai yang senantiasa meredam berbagai bentuk propaganda maksiat yang dibuat setan dan tak henti-hentinya mengingatkan umat agar jangan terpedaya rayuan setan.
Marilah kita berusaha sekuat tenaga menjaga keutuhan keluarga kita. Kita tingkatkan ketakwaan diri dan keluarga dan kita eratkan hubungan kasih sayang karena Allah agar rumah tanga kita dapat melahirkan generasi yang luar biasa. Kita ingatkan diri bahwa tujuan berkeluarga bukanlah sekadar agar dapat melampiaskan kebutuhan biologis dan mempunya anak. Lebih dari itu, rumah tangga adalah madrasah-madrasah kecil, tempat para pejuang Islam, ulama, pejuang nahi mungkar, dan tokoh-tokoh Islam dilahirkan. Amiin ya rabb al-‘alamiin.