

inNalar.com – KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha pernah dalam sebuah kajiannya membahas tentang arti jihad.
Sebenarnya kalau bicara terkait jihad, kebanyakan kaum Muslim berpikir hal tersebut selalu tentang perang.
Namun menurut Gus Baha, murid kesayangan Mbah KH. Maimun Zubair itu yang dimaksud jihad tidak mesti demikian.
Kemudian Gus Baha menjelaskan terlebih dahulu arti jihad yang sesungguhnya yaitu berjuang, berasal dari kata jahada–yadhadu–jihadan.
“Jihad itu berjuang. Jihad itu tidak ada hubungannya dengan perang,” tutur Gus Baha.
“Koyok koe melarat kangelan iku yo jihad. Dalam bahasa Indonesia, (kamu berjuang dalam keadaan miskin juga jihad),” lanjutnya dikutip dari Youtube Sahabat Orchid TV.
Dengan demikian, orang yang wafat dalam keadaan berjuang di tengah kemiskinan disebut juga mati syahid karena termasuk berjihad.
Tak hanya itu, menurut Gus Baha seseorang yang meninggal ketika jatuh cinta juga masuk kategori mati syahid.
“Jadi syahid cinta itu ada. Suka wanita, mengungkapkan tidak berani, menahan tidak bisa. Itu kalau mati, mati syahid,” jelas Gus Baha diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Lebih lanjut, kyai alim asal Rembang tersebut membeberkan beberapa kriteria yang termasuk dalam keadaan mati syahid.
Antara lain, orang yang mati karena wabah menular (Pagebluk), orang yang mati karena sakit perut.
Setelah itu, seseorang yang wafat disebabkan robohnya bangunan, dan juga mati karena tenggelam.
“Di sebagian riwayat mati dalam keadaan tenggelam, itu juga syahid,” beber ulama asal Rembang tersebut.
Karena hakikatnya, arti jihad sesungguhnya merupakan orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh.
Oleh karenanya, meskipun orang mati ketika berperang saja yang bisa menyandang gelar mati syahid. Wallahu a’lam.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi