

inNalar.com – Tahukah kamu jika dii kaki Gunung Rinjani terdapat sebuah desa yang sangat kaya akan budaya dan tradisi unik?
Tempat tersebut adalah Desa Senaru, yang masyarakatnya memiliki berbagai tradisi unik yang mencerminkan kearifan lokal dan identitas budaya mereka.
Salah satu yang mencolok dari tradisi unik milik masyarakat Desa Senaru adalah eratnya tradisi mereka dengan konsumsi alkohol.
Baca Juga: 6 Fakta Menarik Jembatan Terpanjang di Indonesia, si Penghubung Dua Daratan Terpisah Jawa Timur
Hal bisa dikatakan demikian karena konsumsi alkohol dalam masyarakat Senaru sering kali dihubungkan dengan berbagai upacara adat dan perayaan.
Salah satu jenis alkohol yang paling dikenal adalah tuak, yang dibuat dari fermentasi nira pohon enau.
Bagi mereka tuak bukan hanya sekadar minuman yang memabukan saja, namun juga merupakan sesuatu yang memiliki makna sosial yang sangat mendalam.
Baca Juga: Banyak yang Belum Tahu, Leluhur Suku Madura Ternyata Bukan Berasal dari Indonesia
Masyarakat Senaru percaya bahwa alkohol dapat menjadi media untuk mempererat hubungan sosial antar warga.
Dalam konteks sosial, minum tuak bersama-sama menciptakan suasana akrab dan meningkatkan solidaritas di antara mereka.
Meskipun demikian masyarakat tetap sadar tentang potensi dampak negatif dari alkohol jika dikonsumsi secara berlebihan.
Baca Juga: Bikin Nostalgia! Kuliner di Pasar Tradisional Terbesar di Yogyakarta Ini Penuh Nuansa Tempo Dulu
Selain konsumsi alkohol terdapat tradisi unik lain yang ada di tempat ini, yaitu kawin lari atau yang dikenal juga dengan nama merariq.
Dalam tradisi ini, seorang pria akan melarikan gadis yang dicintainya tanpa sepengetahuan keluarga gadis tersebut.
Proses ini dianggap sebagai bukti kesungguhan dan keberanian sang laki-laki untuk mempersunting gadis tersebut.
Tradisi merariq dimulai dengan proses penjajakan antara kedua calon pengantin. Sesudah saling jatuh cinta, sang pria akan mengambil inisiatif untuk melarikan gadis yang menjadi pasangannya.
Setelah melarikan diri, mereka kemudian memberitahukan keluarga gadis dalam waktu maksimal tiga hari sebelum melangsungkan pernikahan.
Hal ini dapat menjadi cerminan nilai-nilai dari sifat keberanian dan komitmen dalam suatu hubungan.
Baca Juga: 7 Wisata Malam di Jakarta, Cocok Buat Para Pekerja 9-5
Sehingga banyak masyarakat yang menganggap bahwa prosesi ini adalah budaya yang harus dilestarikan.
Dan hal terakhir yang menjadi bagian unik pada tradisi desa ini, adalah keyakinan masyarakat terhadap Dewi Rinjani.
Dewi ini adalah sosok penting yang menjadi penguasa sekaligus pelindung dan memiliki kekuatan untuk memberikan berkah serta perlindungan dari bahaya.
Masyarakat setempat biasanya akan mengadakan ritual dan persembahan sebagai bentuk penghormatan sembari meminta perlindungan kepada Dewi Rinjani.
Ritual ini biasanya melibatkan sesajen yang diletakkan pada tempat-tempat tertentu yang dianggap suci di sekitar gunung.
Masyarakat percaya bahwa dengan menghormati Dewi Rinjani, mereka tidak akan hanya mendapatkan perlindungan tetapi juga mendapatkan hasil panen yang baik.***