

inNalar.com – Setiap muslim tentunya mengenal yang namanya puasa, baik itu yang hukumnya wajib maupun yang sunnah.
Salah satu puasa yang wajib yaitu Puasa di Bulan Ramadhan, karena sifatnya yang wajib maka akan bernilai dosa jika ditinggalkan.
Disamping itu ada puasa–puasa lainnya yang momentumnya berada pasca Bulan Ramadhan meskipun sifatnya sunnah.
Salah satu puasa tersebut yaitu Puasa Arafah yang pelaksanaannya dilakukan pada awal Bulan Dzulhijjah.
Baca Juga: 8 Kombinasi Makanan Umum yang Mengancam Kesehatan Perut, Cek Apa Saja Kombinasinya!
Seringkali ditemukan seorang muslim memiliki hutang puasa di Bulan Ramadhan karena mungkin saat itu ada kendala atau berhalangan.
Jika hal tersebut terjadi, maka wajib hukumnya bagi muslim tersebut untuk mengganti puasanya di lain hari sebelum Ramadhan yang akan datang.
Namun bagaimana jika seorang muslim masih punya tanggungan hutang Puasa Ramadhan tapi ingin berpuasa lainnya seperti Puasa Arafah, simak penjelasannya berikut.
Dikutip inNalar.com dari buku Amalan Awal Dzulhijjah Hingga Hari Tasyrik karya Muhammad Abduh Tuasikal terdapat beberapa pendapat dari tokoh dan ulama terkait masalah tersebut.
Baca Juga: Tahukah Kamu Arti Kata TTYL? Simak Penjelasannya di Sini
Menurut ulama Hanafiyah, diperbolehkan bagi seorang muslim melakukan puasa sunnah sebelum qadha’ puasa Ramadhan. Alasannya karena qadha’ puasa tidak mesti dilakukan sesegera mungkin.
Ibnu ‘Abdin memiliki pendapat bahwa melakukan puasa sunnah diperbolehkan meskipun belum melakukan qadha’ puasa Ramadhan. Namun seandainya wajib qadha’ puasa dilakukan sesegera mungkin, tentu akan hukumnya berubah menjadi makruh.
Para ulama Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat tentang bolehnya namun disertai makruh jika seseorang mendahulukan puasa sunnah dari qadha’ puasa. Karena jika melakukan seperti ini berarti seseorang mengakhirkan yang wajib demi mengerjakan yang sunnah.
Sementara itu Ad-Dasuqi mengatakan jika seseorang mendahulukan puasa sunnah padahal masih memiliki tanggungan puasa wajib seperti puasa nadzar, qadha’ puasa, dan puasa kafarat maka hukumnya makruh.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca di Banjarmasin Menurut BMKG, Minggu, 26 Juni 2022: Waspadai Hujan Petir!
Dikatakan lebih lanjut bahwa makruh yang dimaksudkan untuk puasa sunnah yang dilakukan dari puasa wajib berupa 24 amalan awal Dzulhijjah hingga Hari Tasyrik puasa.
Hal tersebut dikarenakan puasa pada waktu itu tidak begitu dianjurkan atau justru puasa sunnah tersebut adalah puasa yang amat ditekankan seperti puasa Asyura’ dan puasa pada 9 Dzulhijjah.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan, boleh melakukan puasa sunnah sebelum qadha’ puasa selama waktunya masih lapang. Jika seseorang melakukan puasa sunnah sebelum qadha’ puasa, puasanya sah dan ia pun tidak berdosa. Karena analogi (qiyas) dalam hal ini benar.
Itulah beberapa pendapat terkait hukum melakukan Puasa Arafah jika belum melunasi hutang Puasa Ramadhan.***
Sumber: Amalan Awal Dzulhijjah Hingga Hari Tasyrik karya Muhammad Abduh Tuasikal
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi