

inNalar.com – Cerebral Palsy atau dalam Bahasa Indonesia biasa disebut lumpuh otak adalah suatu kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan hingga kemampuan berpikir.
Kata Cerebral berarti berhubungan dengan otak, sedangkan Palsy berarti kelemahan atau masalah dengan gerakan tubuh.
Cerebral Palsy adalah penyakit paling umum yang menyerang anak-anak menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), karena mempengaruhi 1 hingga 4 dari setiap 1.000 anak di seluruh dunia.
Baca Juga: Mengenal Apa itu Penyakit Takikardia, Mulai dari Gejala Hingga Cara Mengatasinya
Lantas, apa saja gejala, penyebab, diagnosis, dan pengobatan Cerebral Palsy? Berikut penjelasan lengkap yang dilansir inNalar.com dari berbagai sumber.
Gejala Cerebral Palsy yang dirasakan berbeda-beda oleh setiap orang dan berkisar dari ringan hingga berat.
Beberapa di antaranya mungkin mengalami kesulitan berjalan dan duduk, sementara yang lainnya mengalami kesulitan menggenggam benda.
Baca Juga: Biodata dan Profil dr Aisah Dahlan Lengkap dengan Riwayat Pendidikan Beserta Akun Media Sosialnya
Efek dari gejala tersebut dapat membatasi tumbuh kembang anak-anak dalam mengembangkan keterampilan motorik mereka.
Adapun gejala umum Cerebral Palsy yaitu:
– Keterlambatan dalam mencapai tonggak keterampilan. motorik, seperti berguling, duduk sendiri atau merangkak.
– Kesulitan berjalan.
– Otot terlalu terkulai atau terlalu kaku.
– Kelenturan atau otot kaku dan refleks berlebihan
– Ataksia atau kurangnya koordinasi otot
– Tremor atau gerakan yang tidak disengaja
Baca Juga: Pratama Arhan Kembali Tak Masuk Skuad kala JEF United vs Tokyo Verdy
– Keterlambatan perkembangan bicara dan kesulitan berbicara
– Air liur berlebihan dan masalah menelan
– Menyukai satu sisi tubuh seperti meraih dengan satu tangan
– Masalah neurologis seperti kejang, cacat intelektual dan kebutaan.
Sebagian besar anak-anak dengan Cerebral Palsy dilahirkan dengan gejala tersebut dan biasanya muncul dalam beberapa bulan setelah lahir, menurut Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development.
Lebih lanjut, dalam beberapa kebanyakan kasus, penyebab pasti dari Cerebral belum dapat diketahui.
Namun terdapat beberapa kemungkinan penyebab lainnya seperti:
– Cedera kepala akibat kecelakaan mobil, jatuh dan lain sebagainya.
– Pendarahan intrakranial atau pendarahan ke dalam otak
– Infeksi otak, seperti ensefalitis dan meningitis.
Baca Juga: Viral Seorang Ibu Butuh Ganja Medis untuk Pengobatan Anaknya yang Menderita Cerebral Palsy
– Infeksi yang didapat di dalam rahim, seperti campak Jerman (rubella) dan herpes simpleks.
– Asfiksia neonatorum, atau kekurangan oksigen ke otak selama persalinan.
– Mutasi gen yang mengakibatkan perkembangan otak atipikal.
– Penyakit kuning pada bayi.
Lalu, bagaimana cara mendiagnosis Cerebral Palsy? Seorang dokter akan mendiagnosis Cerebral Palsy dengan mengambil riwayat medis lengkap dan melakukan pemeriksaan fisik.
Pengujian tambahan berikut juga dapat digunakan seperti:
– Elektroensefalogram (EEG)
– MRI
– CT-scan
– USG
– Tes Darah
Adapun pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Penyakit Cerebral Palsy yaitu:
– Memberi resep obat yang terkandung baclofen, dantrolen (Dantrium), diazepam (Valium), tizanidine (Zanaflex).
– Suntikan lokal toksin botulinum tipe A (Botox) atau terapi baclofen intratekal (Gablofen, Lioresal), di mana obat diberikan melalui pompa implan.
– Operasi
Baca Juga: Kalvin Phillips Resmi Didatangkan oleh Manchester City Seharga £42 Juta
Adapun jenis perawatan lain seperti:
– terapi berbicara
– terapi fisik
– terapi rekreasi
– psikoterapi
Demikian informasi terkait Penyakit Cerebral Palsy yang Menyerang Anak-Anak. Semoga bermanfaat!***