

inNalar.com – Kabar duka sekaligus miris datang kembali dari tanah Papua. Dikabarkan, ada jenazah pendeta yang terpaksa diikat dan dibawa naik motor dari Timika ke Distrik Hitadipa.
Cara itu terpaksa dilakukan karena tidak ada ambulance yang dapat digunakan untuk membawa jenazah sang pendeta.
Informasi adanya jenazah pendeta di Papua yang diikat dan diangkut dengan motor ini diunggah oleh seorang pengguna Twitter bernama Arnold Belau, melalui akun @ArnoldBelau.
Baca Juga: Jadwal Tayang Film Ranah 3 Warna di Jakarta, Kamis 30 Juni 2022, Lengkap dengan Harga Tiket Bioskop
Pada unggahannya, Arnold menyebutkan bahwa pendeta tersebut meninggal di Timika dan jenazahnya akan dikirim ke rumah duka yang berlokasi di Distrik Hitadipa.
“Seorang Pendeta asal Distrik Hitadipa meninggal di Timika. Jenazahnya dikirim ke Bilogai, Sugapa. Karena tiada mobil ambulance dan kendaraan roda 4 yang bisa antar jenazah, maka seorang pemuda ikat jasad pendeta tersebut di belakang dia di atas motor layaknya orang hidup & antar ke Hitadipa,” tulis Arnold melalui akun Twitternya pada Rabu, 28 Juni 2022 kemarin, pukul 16.20 WIB.
Dalam proses pengantarannya ke rumah duka di Distrik Hitadipa, jenazah dikirimkan ke Bilogai, Sugapa.
Dari Bilogai ke Distrik Hitadipa itulah jenazah akhirnya diikat pada punggung seseorang dan dibawa menggunakan motor.
Sekilas, cara tersebut terlihat seperti posisi membonceng seseorang pada umumnya. Padahal, yang dibawa adalah jenazah.
Jarak antara Bilogai, Sugapa dan Distrik Hitadipa sekitar 26,8 km. Selama itu, jenazah diikat ke punggung seorang pengendara dan dibawa dengan menggunakan motor.
Baca Juga: Cek Harga Sapi Qurban Jelang Idul Adha 2022 di Sini, Lengkap dengan Harga Kambing dan Domba Termurah
Kondisi ini terpaksa terjadi karena sulitnya akses jalan untuk kendaraan roda 4 agar dapat menuju ke Distrik Hitadipa dari Bilogai, Sugapa.
Arnold juga menambahkan informasi bahwa hal ini bukan pertama kalinya terjadi di wilayah Sugapa. Sebelumnya, selama tahun 2022 sudah pernah ada beberapa kejadian lain yang serupa.
Dikabarkan, beberapa bulan sebelumnya pernah ada seorang warga yang juga membawa jenazah dengan motor dari Sugapa ke Homeyo.
“Kejadian seperti ini sudah sangat sering di sana. Karena kendaraan roda 4 terbatas. Kalau pun ada resikonya berat!,” lanjut Arnold.
Unggahan tersebut menuai berbagai tanggapan dari warganet, tak sedikit pula yang mengaitkan hal itu dengan kesenjangan sosial di Indonesia.
Ada pula yang menjelaskan bahwa Sugapa adalah daerah rawan konflik. Sehingga sulit dan sangat beresiko untuk dilalui akses kendaraan roda 4, termasuk ambulance. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi