Pulau Morotai, Salah Satu Daerah di Indonesia yang Menjadi Saksi Perang Dunia Kedua

inNalar.com – Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang melewati sejarah panjang utnuk mencapai di titik sekarang ini.

Perjalanan panjang nusantara sudah melewati kejadian besar maupun kecil, hingga akhirnya Indonesia sudah merdeka ke-79.

Pencetus kemerdekaan Indonesia Bapak Ir. Soekarno, dan para pahlawan terdahulu yang dengan gagah berani melawan penjajah.

Baca Juga: Fantastis! Pendapatannya Capai Rp50 Miliar per Tahu, Desa Terkaya di Indonesia Ternyata Ada di Bali

Salah satu kejadian besar di dunia dan merupakan momentum penting dalam kemerdekaan Indonesia, yaitu perang dunia kedua.

Jepang yang pada saat itu menjajah Indonesia harus mundur karena mengaku kalah kepada blok sekutu pada perang tersebut.

Pada perang tersebut Jepang berada di blok poros yang berusaha menginvasi negara sekitarnya termasuk Indonesia.

Baca Juga: Jejeran Tiang Bernilai Rp193 Miliar Mangkrak, Proyek Monorel Ini Masih Jadi Sorotan

Sehingga salah satu negara dari blok sekutu, yaitu Amerika Serikat mengirimkan salah satu jenderal ke Indonesia, karena termasuk wilayah Jepang pada saat itu.

Daerah yang dijadikan pangkalan tersebut adalah Pulau Morotai di Maluku Utara.

Pada tahun 1944, sekutu mengirim 60 ribu pasukan dan 3 ribu pesawat tempur untuk menguasai Morotai.

Baca Juga: Giatkan Pemberdayaan, Kredit UMKM BRI Capai Rp1.105,70 Triliun per Triwulan III 2024

Alasan pasukan sekutu yang dipimpin oleh Jenderal Douglas MacArthur ke Morotai, karena untuk merebut kembali Filipina dari Jepang.

Letak geografis yang strategis yang dilengkapi 7 landasan di bandara Pitu sangat membantu bagi penerbangan militer sekutu.

Bukan hanya peninggalan dari pasukan sekutu, terdapat sirene milik tentara Jepang untuk alarm peringan serangan.

Selain sirene banyak peralatan perang lainnya, seperti selongsong rudal, senapan mesin, mortir, bahkan ada tank amfibi milik sekutu.

Sekarang barang peninggalan tersebut tersimpan di museum pribadi milik putra daerah Morotai yang mengumpulkan dan merawat peninggalan tersebut.

Peninggalan perang yang penuh sejarah tersebut dikumpulkan oleh putra daerah Morotai bernama Mukhlis Eso, yang sudah mengumpuylkan sejak usia 10 tahun.

Mukhlis tinggal dirumah sederhana di Desa Jobella, yang ia jadikan sebagai museum peninggalan militer di Morotai.

Sekarang rumahnya berisi artefak bersejarah dari masa perang. Dari identitas prajurit sampai peralatan perang milik Jepang dan tentara sekutu.

Ia berharap bahwa koleksinya dapat menjadi pengingat akan sejarah yang terjadi di Pulau Morotai.

Ada sebuah kisah menarik yyang terjadi di Morotai, yaitu prajurit Jepang bernama Teruo Nakamura.

Teruo yang tidak sadar bahwa perang sudah berakhir dan tetap bersembunyi di persembunyiannya selama 30 tahun.

Pada akhirnya warga lokal di Desa Pilowo menemukannya dan memberitahukan bahwa perang telah berakhir.

Dia menjadi cerita sejarah yang penting di Morotai. Dan dibangun patung dirinya di sebuah pertigaan jalan di Desa Dehegila.

Bukan hanya Teruo, patung jenderal Douglas juga dibangun di Pulau Zum Zum setinggi 20 meter menghadap Samudera Pasifik.

Patung Jenderal Douglas dan Teruo dibangun untuk merasakan langsung jejak sejarah di Morotai dan sebagai simbol kemenangan sekutu.

Morotai bukan hanya menjadi saksi sejarah perang dunia kedua tetapi memiliki keindahan bahari dan potensi wisata.

Morotai juga memiliki keindahan alam yang menarik. menyuguhkan pantai yang mempesona dan gugusan pulai kecil yang menawan.

Keindahan bahari Pulau Morotai menjadi destinasi wisata yang terkenal di Indonesia. Terdapat spot snorkeling, diving, dan panorama laut yang indah.

Dengan keindahan bahari yang indah dan banyaknya peninggalan sejarah yang penting, membuat Morotai menjadi destinasi wisata yang berbeda.

Mukhlis Eso berharap Pulau Morotai dapat lebih disorot dan dikenal oleh masyarakat Indonesia dan dunia sebagai destinasi wisata sejarah yang penting.

 

Rekomendasi