Unik! Masyarakat Sunda Punya Beas Perelek, Tradisi Membantu Orang Lain yang Kesusahan

  inNalar.com – Di tengah modernisasi yang terus berkembang, tradisi gotong royong masyarakat Sunda masih hidup dan melekat di beberapa daerah, salah satunya di Jawa Barat.

Tradisi Beas Perelek, yang berasal dari masyarakat Sunda, menjadi salah satu contoh bagaimana budaya berbagi tetap eksis sebagai wujud solidaritas antarsesama.

Beas Perelek yaitu tradisi pengumpulan beras secara sukarela oleh masyarakat Sunda untuk membantu warga yang kurang mampu.

Baca Juga: 6 Kebiasaan Unik Suku Himba di Afrika Selatan, No 2 Pasti Kamu Terkejut dan No 5 Siap Geleng Kepala

Kata “Beas Perelek” sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Sunda: “beas” yang berarti beras dan “perelek” yang menggambarkan bunyi “krek-krek-krek” saat butiran beras dijatuhkan ke wadah.

Dalam pelaksanaannya, setiap keluarga menyumbangkan sedikit beras ke wadah yang sudah disiapkan, yang kemudian dikumpulkan oleh petugas untuk didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan.

Tradisi ini serupa dengan “jimpitan” di Jawa Timur, di mana warga secara sukarela menyumbangkan beras atau uang receh sebagai bentuk gotong royong.

Baca Juga: Salah Satu Daerah di Jawa Tengah Ada yang Berjuluk Kota Cheater, Jangan-Jangan Kotamu?

Sejarah di Balik Beas Perelek

Menurut sejarah, awalnya, Beas Perelek bertujuan menjaga ketahanan pangan di desa, sampai menjadi budaya agraris masyarakat Sunda, sebagai bentuk kasih sayang. 

Dalam Beas Perelek, setiap butir beras yang dikumpulkan menjadi simbol kecil namun berarti dari persatuan dan solidaritas warga.

Sedikitnya, tradisi ini membantu mereka yang kehilangan tertimpa musibah, kelaparan, hilang pekerjaan, gulung tikar, dan sejenisnya. Untuk tetap bertahan hidup dan makan. 

Baca Juga: 150.000 Tomat Ludes! Begini Uniknya Festival Perang La Tomatina di Spanyol

Cara Melakukan Beas Perelek

Dilansir dari berbagai sumber, cara melakukan Beas Perelek cukup sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Bahkan berbeda, tergantung dengan kebiasaan setempat. 

Pada umumnya, setiap warga mengumpulkan beras atau uang receh di dalam wadah seperti cangkir atau kaleng, lalu menaruhnya di depan rumah mereka.

Setiap beberapa waktu sekali, petugas desa atau pengumpul yang ditunjuk akan mengambil beras tersebut dan membagikannya kepada warga yang membutuhkan.

Tradisi ini juga biasanya ada di sekolah-sekolah, yang dikenal dengan istilah Beas Kaheman. para siswa yang mampu secara ekonomi mengumpulkan beras untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar yang kurang mampu.

Manfaat Beas Perelek

Melalui kegiatan beas perelek, masyarakat termasuk generasi muda diajarkan mengenai pentingnya memiliki rasa empati, simpati, berbagi dan rasa solidaritas sejak dini.

Selain itu, beas perelek juga mempererat hubungan antarwarga, menjaga keharmonisan sosial, dan melestarikan budaya berbagi yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Beas Perelek mengingatkan kita bahwa gotong royong tidak memandang besar atau kecilnya sumbangan, tetapi lebih pada kesediaan untuk berbagi.

Dalam masyarakat modern yang cenderung individualis, tradisi ini membawa angin segar dan mengajak kita kembali melihat esensi dari kebersamaan. *** (Gita Yulia) 

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]