

inNalar.com – Gus Baha terbaru 2022 mengungkap latar belakang peraturan di pesantren yang didirikan oleh almarhum KH Maimoen Zuber.
Peraturan yang diungkap oleh Gus Baha terbaru 2022 yaitu KH Maimoen Zuber melarang santrinya mengenakan peci putih.
Sebagaimana diketahui bahwa peci putih merupakan khas atau biasa disebut Pak Haji, Gus Baha terbaru 2022 menerangkannya.
Banyak yang tidak tahu mengapa KH Maimoen Zuber malarang santri yang salah satunya Gus Baha terbaru 2022 mengenakan peci putih?.
Ternyata peraturan tersebut tidak dibuat asal-asalan, Gus Baha terbaru 2022 mengungkap sebab musabab dari lahirnya larangan itu.
Orang yang pergi haji dari desa-desa dilakukan dengan menjual tanah, sawah, tegal (kebun) atau dengan menabung selama belasan atau puluhan tahun.
Simbol yang mereka kenakan setelah pulang haji adalah dengan menggunakan peci putih. Hal ini dianggap tidak menghargai usaha mereka yang telah bersusah payah untuk menunaikan ibadah haji.
“Sementara simbul yang mereka pakai setelah pulang dari haji adalah peci putih. Kalau kamu memakai peci putih seharga Rp 5.000, apakah tidak menyakiti hati mereka?” kata Mbah Moen yang dikisahkan kembali oleh Gus Baha.
Sebagaimana dikutip inNalar.com dari artikel Mbah Moen Larang Santrinya Gunakan Peci Putih, Gus Baha Jelaskan Alasan Sang Guru Berikan Perintah Ini pada Rabu, 13 Juli 2022 apa maksudnya?.
Gus Baha juga mengatakan jika santri menggunakan peci putih bukan menjadi haram dalam kategori fiqh, tetapi dinilai haram dalam kategori akhlak.
Pasalnya orang-orang yang berhaji membutuhkan perjuangan yang hebat dengan mengorbankan harta benda yang dimilikinya.
Mbah Moen tidak ingin menyakiti hati mereka yang berangkat haji dengan merelakan sawahnya dijual dengan perilaku santri yang melecehkan dengan memakai peci putih.
Baca Juga: Harga Emas 1 Gram Hari Ini, Rabu, 13 Juli 2022 Turun!
“Bahkan dibela-belanin menjual sawah segala. Nah, Mbah Moen tidak ingin melukai perasaan orang-orang yang telah berangkat haji dengan perjuangan yang sangat berat tersebut dengan prilaku santri yang melecehkan,” kata Mbah Moen.
“Dengan cara memakai kopiah haji yang harganya cuma 5000 an itu. Jangan sampai, prilaku santri di pondok Mbah Moen itu men-‘downgrade’ makna haji,” ujar Mbah Moen yang dikisahkan oleh Gus Baha.
Menurut Gus Baha, fatwa tersebut hanya diberlakukan untuk lingkungan Pondok Pesantren Sarang, Rembang saja.
“Bukan santri yang lain, apalagi berlaku general ke ummat Islam seluruhnya,” tegasnya.
Gus Baha sendiri mengakui jika terkadang ada santrinya yang memakai peci putih sebab belum pernah melakukan ibadah haji.
“Saya tidak melarang mereka. Cuma kadang saya panggil, saya kasih tahu: Cung, nek iso aja nganggo kethu (peci,) putih wong kowe durung kaji…” kata Gus Baha sambil tertawa terbahak-bahak.
Gus Baha juga mengungkapkan perbedaan persepsi terkait orang yang memakai jubah dan bersorban.
Baca Juga: Bukan Marshel Widianto, Tapi Celine Evangelista yang Pertama Kali Menyatakan Cintanya, Ini Buktinya
“Tapi rata-rata di Jawa Tengah Pantura, orang berjubah itu dianggap sudah bisa dan ahli membaca kitab. Kalau sampai berani berjubah tapi tidak bisa membaca kitab dianggap aneh,” lanjut Gus Baha.
Secara hukum, Gus Baha membenarkan kebiasaan orang Jawa Timur yang menganggap orang berjubah dan bersorban itu sunah.
Namun, menganggap tepat kebiasaan orang Pantura, Jawa Tengah dari sisi kurasi orang alim.
Baca Juga: Teks Khutbah Jumat Singkat Tentang Menumbuhkan Rasa Cinta yang Besar Terhadap Rasulullah SAW
“Sebab nanti tidak ada bedanya antara orang yang alim dan orang awam. Antara orang yang menguasai berbagai kitab dengan orang yang baru belajar membaca kitab,” ujarnya.
Alasan inilah yang membuat Gus Baha mengenakan baju putih tapi mengenakan kopiah.
Gus Baha memakai baju putih, karena ingin menjalankan sunah. Sedangkan memakai hitam sebagai bagian untuk menghormati guru, sekaligus sudah terbiasa karena lama menjadi santri.***(Geger Siska Isterina Suharno/Media Purwodadi)
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi