Kajian Gus Baha Terbaru 2022: Tanpa Disadari, Orang yang Melakukan Kesalahan Ini Justru Akan Disenangi Allah

inNalar.com – Simak kajian Gus Baha terbaru 2022 tentang orang yang melakukan kesalahan ini justru akan disenangi Allah.

Melalui kajian Gus Baha terbaru ini kita bisa mengetahui kesalahan apa yang justru akan disenangi Allah.

Gus Baha menyebut jika kesalahan ini biasanya dilakukan tanpa disadari oleh seseorang.

Mungkin saja kesalahan yang dimaksud Gus Baha juga pernah anda lakukan tanpa sadar.

Lantas apa kesalahan yang tanpa disadari justru disenangi Allah, simak penjelasan lengkapnya.

Baca Juga: Menyesal Balikan dengan Gangga, Awkarin: Nggak Usah Nyari Penyakit!

Sebagaimana dikutip inNalar.com dari Portal Sulut “Melakukan Satu Kesalahan Ini Sangat Disenangi Allah, Gus Baha: OrangSholeh Tidak Pernah Maksiat Saja Menyesal”.

Gus Baha mengungkapkan, soal Islam dikritik Allah, itu kritikan karena memang salah, tapi tidak sampai dikritik Allah, sebab tidak beriman.

“Jadi kritikan ini terbagi dua, begini saya jelaskan, agar jadi ahli ushul fiqih. Ada salah secara kuliyyah atau total, salah keluar dari jalur, semisal orang kafir, itu kan keluar dari Islam, itu salah kuliyyah, masuk ke dalam jalur nabi saja tidak,” jelas Gus Baha.

Menurut Gus Baha, kesalahan tersebut masih dalam jalur dan tergolong salah yang disukai Allah.

Bahkan kesalahan ini, membuat orang-orang sholeh yang tidak pernah maksiat menyesal.

“Karena kelak, ini penjelasan ulama, kelak kesalahan-kesalahan ini, akan diganti dengan kebaikan,” ucap Gus Baha.

Baca Juga: Buntut Kasus Penipuan Doni Salmanan, Rizky Febian Resmi Dipanggil Bareskrim Polri Usai Terima Rp400 Juta

Makanya kata Gus Baha, Ibnu Mas’ud berkata, sampai orang yang dulu tidak pernah salah, nanti akan menyesal.

“Sebab kesalahannya tidak bisa berubah, menjadi kebaikan. Saya berkali-kali mencontohkan dalam pengajian ini. Misalnya, saya punya ibu, karena saya satu kampung, satu kawasan dengan ibu maka saya yang rawat, misalnya saya punya kakak tinggal di Jakarta, atau satu di Sulawesi, maka tidak merawat karena jauh,” jelas Gus Baha.

Lanjut Gus Baha menjelaskan, maka tentu sering salah terhadap ibu adalah yang paling dekat.

“Misalnya waktu membuat kopi, malah tidak membuat kopi, salah. Saat ingin disuruh membeli obat, malah tidak ada, jadi salah,” kata Gus Baha.

Sehingga, sering dimarahi dan disalahkan ibu, padahal kita sudah merawat ibu dengan benar.

Baca Juga: Jokowi Luncurkan Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik, Berharap RI jadi Produsennya

“Apalagi, hidup satu kawasan yang membuat saya berpikir akan lebih mudah membantu ibu karena dekat,” tutur Gus Baha.

Sehingga, sering dimarahi dan disalahkan ibu, padahal kita sudah merawat ibu dengan benar.

“Apalagi, hidup satu kawasan yang membuat saya berpikir akan lebih mudah membantu ibu karena dekat,” tutur Gus Baha.

“Tapi justru karena dekat, kalau salah tetap salah. Kesalahan semacam ini kelak di akhirat, diganti menjadi kebaikan oleh Allah, sebab itu adalah salah dalam lingkaran kebenaran,” jelas Gus Baha.

Gus Baha kembali mencontohkan, orang yang tidak sholat, tidak mungkin meninggalkan tuma’ninah.

Baca Juga: 5 Tradisi Valentine Unik di Penjuru Dunia, Ada yang Letakkan Daun Salam Dibawah Bantal [Edisi Eropa 2]

“Makanya, jika saya ditanya, Gus, sholat tanpa tuma’ninah apakah sah? Setidaknya dia sholat. Tapi kan tidak tuma’ninah, ya tapi sholat kan?,” kata Gus Baha.

“Dia marah-marah, maksudmu bagaimana Gus? Orang yang tidak sholat, tidak bisa kau salahkan, karena tidak tuma’ninah,” sambung Gus Baha.

Lanjut Gus Baha menjelaskan, orang tidak sholat apa bisa dianggap meninggalkan tuma’ninah.

“Orang-orang yang di terminal, dan di jalan jalan tidak pernah ikut tadarus, kan tidak bisa kamu cela, bacaan Alquranmu tidak fasih,” kata Gus Baha mencontohkan.

Kata Gus Baha, orang tadarusan di masjid yang seharusnya kena kritik tersebut.

Baca Juga: 10 Quote dari Komik Detektif Conan yang Paling Terkenal

“Bacaan Quranmu tidak fasih, tapi setidaknya mereka tadarusan, hanya saja tidak fasil. Orang yang tidak tadarusan, justru tidak boleh kamu kritik. Bacaan Quranmu tidak fasih, orang tidak tadarusan bagaimana mau fasih?,” jelas Gus Baha.

Artinya, berhubung saya yang dekat dengan ibu, pasti yang paling disalahkan, karena dekat.

“Tentu cara Allah, paling benar. Bagaimanapun saya satu kawasan, kalau darurat saya bisa menolong, kalau yang jauh kan tidak bisa, tapi mereka tidak pernah salah, kan jauh,” terang Gus Baha.

Mereka yang jauh inilah, yang salah menurut Allah, sebab di luar jalur kebenaran.

“Itulah alasan, mengapa nabi disalahkan oleh Allah. Nabi menyambut tamu Quraisy dan mengabaikan Abdullah Ibnu Ummi Maktum, karena dia orang buta, disalahkan oleh Allah, tapi kesalahan yang berada dalam jalur,” jelas Gus Baha.

Baca Juga: Tips Membuat Daftar Riwayat Hidup yang Singkat dan Jelas, Auto Dilirik Perusahaan

Makanya salah itu ada dua, ada salah karena memang keluar dari dairotul amri dan ada yang di dalam jalur.

“Misalnya, kayak kalian ini yang ngaji pada saya, yang tidak ikut ngaji, tidak akan salah, justru yang mengajilah yang bisa salah, entah itu karena mengantuk atau tidak mendengarkan, tapi setidaknya ngaji,” ujar Gus Baha.*** (Randi Manangin/Portal Sulut)

Rekomendasi