16 KM dari Ibu Kota Singapura, Inilah Desa Terakhir yang Masih Bertahan di Tengah Gemerlapnya Kehidupan Modern

inNalar.com – Singapura termasuk negara terkaya yang menempati ranking kelima di dunia, berdasarkan PDB per kapita atau pendapatan rata-rata penduduknya. 

Hal itu tercermin dengan generlapnya gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan modern yang dapat ditemukan hampir di setiap sudut kota. 

Namun, ternyata dibalik kemegahan tersebut, tersembunyi sebuah desa asri dengan dedaunan hijau, kerap kali disebut sebagai desa terakhir. 

Baca Juga: BRI Perkuat Keamanan Digital dan Edukasi Nasabah untuk Lawan Cybercrime

Tak hanya menjadi ciri khas unik negara Singapura, desa ini juga sekaligus sebagai satu-satunya peninggalan sejarah tentang tradisi Singapura zaman dulu. 

Singapura dengan luas sekitar 728,6 kilometer persegi dan penduduknya sekitar 5,97 juta jiwa, desa tersebut hanya berjarak sekitar 16 KM dari pusat Ibu Kota. 

Tepatnya di Buangkok, Hougang, Singapura, sehingga dikenal dengan sebutan  “Lorong Buangkok,” atau Desa Terakhir di Singapura”

Baca Juga: Diketok 21 November, UMP Yogyakarta 2025 Diprediksi Naik 10 Persen: Cek Besarannya di Sini

Lantas, mengapa daerah pedesaan ini masih dilestarikan di gemerlapnya kemewahan Singapura? Yuk, simak selengkapnya di sini. 

Tanah Desa Terakhir Bukan Milik Pemerintah Singapura

Dilansir InNalar.com dari YouTube Jelajah Bumi, Lorong Buangkok telah ada sejak tahun tertentu dan awalnya didirikan oleh orang-orang PR (Permanent Resident) Singapura.  

Baca Juga: Telan Rp3 Triliun, Dua Bendungan di Aceh Ini Diklaim Mampu Menampung Air hingga 128 juta M3

Dahulunya, terdapat sekitar 220 kampung serupa yang tersebar di seluruh Singapura. Namun, sejak awal 1980-an, urbanisasi mulai menggusur desa-desa tradisional ini, 

Hingga saat ini, hanya Lorong Buangkok yang tersisa. Yaitu sekitar 25-28 rumah dengan agama beragam, dan setengahnya merupakan keturunan Muslim Melayu.

Menariknya, Dilansir dari YouTube Kacong Eksplorer, tanah di kampung ini, bukan milik pemerintah melainkan milik pribadi. Karena Pemilik tanah ini tidak mau menjualnya kepada pemerintah. 

Masyarakat di sana menyewa tanah dari pemiliknya dan membangun rumah di atasnya. Biaya sewanya sangat terjangkau, hanya 20 dolar per bulan.

Kepemilikan inilah yang menjadi salah satunya alasan, kenapa daerah ini masih melestarikan susana perkampungan hingga saat ini. 

Lorong Buangkok Diajukan Menjadi Situs Warisan Dunia

Alasan berikutnya yaitu berkaitan dengan keinginan masyarakat terkait suasana yang tenang dan nyaman di tengah hiruk pikuk perkotaan. 

Sebagaimana pedesaan di pedalaman pada umumnya, Lorong Buangkok memiliki udara sejuk, jalanan tanah berbatu, pepohonan di sisi jalan dan desain rumah zaman dulu. 

Dilansir InNalar.com dari Jelajah Bumi, meskipun bernuansa pedalaman pedesaan, penduduk Lorong Buangkok bukanlah orang-orang yang ketinggalan zaman maupun miskin. 

Justru beberapa keluarga memiliki mobil dan menjalani kehidupan layaknya rata-rata orang Singapura, yaitu bekerja sebagai pegawai kantoran atau di pabrik.

Kebanyakan memilih tinggal di sana, karena Apartemen di Singapura umumnya berukuran kecil, sementara rumah-rumah di desa ini lebih luas. 

Selain itu, perumahan di desa ini juga memiliki halaman belakang yang memungkinkan pemiliknya berkebun dan menikmati keindahan alam.

Sehingga pada tahun 2014, ketika pemerintah Singapura rencana untuk membangun jalan raya dan taman umum di sekitar desa ini tidak terealisasi.

Hal tersebut karena banyak masyarakat yang menolak, bahkan beberapa di antaranya mendorong agar Lorong Buangkok dimasukkan sebagai situs warisan dunia UNESCO. 

Mengingat pentingnya desa ini sebagai oasis hijau yang langka di salah satu negara terpadat dan paling urban di dunia. Sekaligus sebagai bagian sejarah Singapura. 

Terdapat Satu-Satunya Surau di Singapura 

Dilansir InNalar.com dari YouTube Kacong Eksplorer, di kampung luorong buangkok terdapat bangunan terkenal, bernama Surau Al Firdaus. 

Meskipin berukuran kecil dan fasilitas sederhana, bangunan tersebut menjadi satu satunya surau di Singapura, dan dipakai untuk beribau umat muslim di sana. 

Di tengah modernisasi Singapura, keberadaan Surau Al-Firdaus di Lorong Buangkok melambangkan semangat untuk mempertahankan identitas dan sejarah komunitas Muslim di Singapura.

Unik Karena Berada di Kemajuan Singapura

Berdasarkan laman Tripadvisor, beberapa penjelajah yang pernah mengunjungi Kampung Lorong Buangkok berbagi pengalaman mereka.

Beberapa dari mereka berpendapat bahwa keunikan desa ini karena berada di tengah kemewahan Singapura, lain hal nya jika berada di negara berkembang pada umumnya. 

Namun, karena desa luorong bukan dastinasi wisata dan tidak tercantum di buku-buku atau brosur, lokasi untuk mencarinya sedikit effort

Pasalnya, kampung ini juga tidak dilalui jalur MRT, yang merupakan salah satu moda transportasi umum utama di Singapura.

Namun, bagi wisatawan yang berkunjung ke Singapura, menjelajahi Kampung Lorong Buangkok cocok untuk mengisi waktu liburan singkat sekalipun. 

Dalam setengah hari saja, rasa penasaran akan terpuaskan karena seluruh area kampung terbilang sempit dan dapat dijelajahi. *** ( Gita Yulia) 

Rekomendasi