

inNalar.com – Di tengah tantangan pembangunan infrastruktur, satu megaproyek di Indonesia ini menarik perhatian publik dan menjadi sorotan pakar konstruksi.
Dikenal sebagai salah satu proyek tersulit di Indonesia, jalan tol ini menelan biaya hingga Rp 16,7 triliun dan menghadapi tantangan geografi yang cukup kompleks.
Hal tersebut menyebabkan jalan tol ini harus menggunakan material berupa 10 juta bambu yang dirangkai secara khusus untuk beradaptasi dengan alam.
Baca Juga: Menjulang hingga 115 Meter, Mall Mewah di Jawa Timur Ini Sempat Dianggap Berbahaya, Ini Alasannya
Sejak pembangunan 2019, Jutaan bambu tersebut digunakan sebagai fondasi utama sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi para tukang bangunan.
Megaproyek tersebut adalah jalan tol Demak-Semarang, yang diproyeksikan untuk mengatasi kemacetan di jalur Pantura dan mencegah banjir di wilayah tersebut.
Jalan Tol Demak-Semarang Terbagi Dua Seksi
Baca Juga: Tanggap Bencana, BRI Peduli Sigap Bantu Warga Terdampak Erupsi Gunung Lewotobi Laki Laki
Dilansir dari kanal YouTube Rara TV, Jalan tol ini terdiri dari dua seksi. Seksi pertama menghubungkan Semarang hingga Sayung dengan panjang 10 km dan anggran Rp 10,8 triliun.
Sedangkan seksi kedua, bermula dari Sayung hingga Demak yang membentang sepanjang 16,3 km, dengan anggaran mencapai Rp 5,9 triliun.
Hal ini menunjukkan bahwa total anggaran sebesar 16.7 triliun, setiap kilometer dari proyek ini memerlukan biaya sekitar Rp 1 triliun.
Solusi Inovatif di Tengah Tantangan Tanah Lembek
Dilansir dari YouTube Joziya, salah satu tantangan yang menjadi sorotan dari pembangunan jalan tol ini adalah kondisi tanah yang lembek.
Yaitu jalur Semarang-Sayung karena melintasi area tanah lembek sedalam 60 meter, serta bagian dari jalur yang terletak di perairan Laut Jawa.
Oleh karena itu, metode pengurukan tradisional yang biasanya dilakukan dalam proyek pembangunan tol tidak dapat diterapkan.
Untuk mengatasi masalah ini, insinyur Andi Kurnia Karta Wirya, seorang lulusan ITB, mengusulkan penggunaan 10 juta batang bambu sebagai struktur dasar konstruksi.
Usulan tersebut disepakati, dilansir dari dalam YouTube Rara TV, Jutaan Bambu terbukti sangat efektif dalam mengatasi tanah lembek.
Rangkaian bambu digunakan dalam dua pola, yaitu satu untuk pancang dan satu lagi dirangkai seperti rakit untuk menjadi fondasi.
Batang-bambu diikat sedemikian rupa, yaitu tujuh batang diikat menjadi satu dan ditancapkan dengan jarak sekitar 1 meter.
Setiap matras bambu kemudian dilapisi dengan geotekstil berdaya 200 KN, sebelum ditimbun dengan tanah setebal 10 cm.
Proses ini terus diulang hingga membentuk 17 lapis dan menciptakan fondasi yang kokoh untuk jalan tol.
Bambu Dinilai Sebagai Material Ramah Lingkungan
Keputusan untuk menggunakan bambu bukan tanpa alasan. Material ini tidak hanya cepat tumbuh tetapi juga ramah lingkungan.
Dilansir dari YPM Journey, Dengan kecepatan pertumbuhan 3 sampai 10 cm per hari, bambu yang digunakan dalam proyek ini memiliki ukuran yang harus memenuhi syarat.
Yaitu batang bambu dipastikan harus setidaknya berumur 3 tahun, panjang 10 meter, dan diameter 10 cm. Tentunya untuk memastikan kualitas ketahanan.
Jalan Tol Berfungsi Atasi Kemacetan dan Banjir
Menurut informasi dari YoutubeYoziya TV, selain sebagai jalan tol, proyek ini juga berfungsi sebagai tanggul yang melindungi wilayah sekitarnya dari intrusi air laut dan banjir.
Dengan lebar dasar fondasi mencapai 150 meter, proyek ini menjadikan jalan tol seakan berada di atas segitiga terpotong.
Oleh karenanya, proyek ini dinilai sebagai solusi efisien untuk mengatasi dua masalah sekaligus, yaitu berupa kemacetan dan banjir.
Bahkan, pembangunan tol Semarang–Demak ini termasuk dalam Proyek Strategis Nasional yang diawasi langsung oleh pemerintah pusat.
Melansir YouTube Rara TV, pada bulan Februari 2023, seksi kedua dari jalan tol ini telah selesai dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.
Sementara itu, seksi pertama direncanakan akan selesai pada tahun 2025.
Dengan demikian pemanfaaatan 10 juta bambu dan biaya total mencapai Rp 16,7 triliun, menunjukan cerdas dalam pembangunan tol semarang-demak, meskipun prosesnya sulit. *** (Gita Yulia)