

inNalar.com – Khutbah Jumat singkat yang sesuai setelah beberapa hari 17 Agusttus 2022 dan jelang akhir Muharram, yaitu tema Pancasila dan Kebinekaan dalam Al Quran.
Materi semacam tema Pancasila dan Kebinekaan dalam Al Quran, sebenarnya bagus sekali dibuat untuk Khutbah Jumat singkat, bisa mencerahkan kaum muslimin serta memotivasi.
Setelah wasiat takwa, Khutbah Jumat singkat menjelaskan rasa syukur hidup di negara Indonesia yang berdasar tema Pancasila dan Kebinekaan dalam Al Quran, kitab suci Islam.
Indonesia merdeka dan aman hingga diperingati 17 Agustus 2022 lalu sudah 77 tahun lamanya. Khutbah Jumat singkat lalu menerangkan bahwa proklamasi tak lepas dari perjuangan.
Maksudnya gigihnya para pendiri bangsa daulu meletakkan dasar negara, inilah yang dibahas pada Khutbah Jumat singkat edisi kali yang cocok jelang akhir Muharram.
Sebagaimana dikutip inNalar.com dari laman NU Online Khutbah Jumat singkat kemudian mengupas lebih dalam hadits riwayat At Tirmizi yang menyebutkan keharusan bersyukur.
Khutbah Jumat singkat I
الْحَمْدُ لِلّٰه رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ،
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ،
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Menjadi insan yang bertakwa kepada Allah swt merupakan harapan dan keinginan setiap individu umat Islam.
Dengan ketakwaan, kita akan senantiasa terjaga dari segala hal yang dilarang Allah dan memiliki tekad kuat untuk selalu menjalankan segala perintah-Nya.
Oleh karenanya pada kesempatan yang mulia ini, mari kita senantiasa menguatkan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah.
Takwa merupakan indikator apakah kita akan dimuliakan oleh Allah atau tidak. Allah berfirman:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS Al Hujurat: 13).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Selain meningkatkan ketakwaan, kita juga diperintah untuk senantiasa mensyukuri anugerah yang telah dilimpahkan dalam hidup kita.
Alhamdulillah, kita hidup di Indonesia. Sebuah negara sejuk dan indah yang berada di tengah garis Katulistiwa.
Baca Juga: Profil, Biodata dan Kekayaan Elon Musk, Serta Rumor Beli Klub Bola Manchester United
Sebuah negeri yang sangat kaya dengan beragam suku, bangsa, budaya, bahasa, dan agama.
Syukur yang mendalam juga harus kita panjatkan kepada Allah swt karena di tengah keberagaman ini, kita juga masih bisa hidup damai.
Menjalankan segala aktivitas kehidupan sehari-hari serta dapat berbaur dalam perbedaan-perbedaan yang ada.
Ini semua merupakan karunia yang luar bisa dan tak ternilai harganya serta patut kita syukuri sehingga kita berharap Allah akan menambah lagi kenikmatan sebab kita mensyukurinya.
Semua nikmat damai yang kita rasakan saat ini, tidak terlepas dari perjuangan para pendiri bangsa yang telah meletakkan pondasi kuat.
Untuk menjadi landasan Negara kesatuan Republik Indonesia.
Oleh karenanya, kita juga harus senantiasa bersyukur dan berterimakasih kepada para pendahulu kita dengan berusaha sekuat kemampuan.
Untuk mempertahankan kemerdekaan dan perdamaian sehingga bisa terus terwujud di negara ini.
Ungkapan syukur kepada para pendiri bangsa ini selaras dengan hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi:
وَمَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللهَ
Artinya: “Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah.”
Baca Juga: Riesca Rose Dihujat Karena Isu Pernikahannya Dengan Sule, Ajak Ngobrol Nathalie Holscher Bertiga
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Di antara kado istimewa yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa Indonesia adalah hadirnya Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air.
Dengan ideologi yang menjadi dasar negara, Pancasila mampu menyatukan keragaman yang ada dengan lima sila yang ada di dalamnya.
Jika dipahami secara mendalam, kelima sila yang ada dalam Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip dasar agama Islam.
Bahkan sila-sila yang ada dalam Pancasila selaras dengan firman-firman Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an.
Sila pertama yakni “Ketuhanan yang Maha Esa” selaras dengan firman Allah yang menegaskan keesaanNya dan memuat kandungan ketauhidan atau At-Tauhid.
Baca Juga: Lirik dan Chord Gitar Lagu Ojo Dibandingke, Farel Prayoga: Di Hati Ini Hanya Ada Pak Jokowi
Hal ini selaras dengan Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas ayat 1:
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Artinya : “Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.”
Selanjutnya sila kedua “Kemanusiaan yang adil dan beradab” juga termaktub dalam Al-Qur’an yang berisi kandungan kemanusiaan atau Al-Insaniyyah.
Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 135:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَۚ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَاۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا وَاِنْ تَلْوٗٓا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah.
Walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.
Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya).
Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.
Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.”
Kemudian sila ketiga “Persatuan Indonesia” adalah sila yang memuat prinsip-prinsip integrasi dan persatuan atau Al-Wahdah.
Allah pun telah menegaskan persatuan di tengah perbedaan ini dalam Al-Qur’an yang termaktub dalam surat Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Baca Juga: Spesial HUT Kemerdekaan RI ke-77, Kemenkumham Berikan Remisi Kepada 2.725 Napi Untuk Langsung Bebas
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
Adapun sila Keempat “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” mengusung nilai-nilai kebersamaan dan musyawarah atau Al-Ijma’.
Terkait dengan permusyawaratan ini, banyak disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang salah satunya adalah dalam Surat As-Syura ayat 38:
وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ
Artinya :
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.
Baca Juga: Indonesia Darurat Terorisme? Densus 88 Tangkap 4 Orang Terduga Teroris di Jakarta, Sumsel dan Jambi
Dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka,”
Dan terakhir, sila kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” memuat misi untuk mewujudkan keadilan atau Al-Adalah.
Prinsip keadilan ini termaktub dalam surat An-Nahl ayat 90:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat.
Dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.
Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Dari apa yang sudah dipaparkan ini, sudah semestinya kita semakin mencintai Pancasila sebagai ideologi bangsa.
Yang telah menyatukan keragaman yang ada di Indonesia.
Kita harus bersama-sama mempertahankan eksistensi Pancasila dari upaya-upaya pihak yang ingin menggantinya dengan ideologi lain.
Dan bisa mengancam perdamaian dan kebinekaan Indonesia.
Kita pun harus terus menanamkan dan mewariskannya pada generasi penerus sehingga Indonesia akan senantiasa abadi.
Semoga Allah senantiasa melindungi Indonesia agar tetap damai dan selalu kompak menjaga kebersamaan dalam kebinekaan. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Baca Juga: Google Doodle Hari Ini, 17 Agustus 2022 Edisi Kemerdekaan Indonesia Pada HUT Ke-77 RI, Apa Maknanya?
Khutbah Jumat singkat II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
Khutbah Jumat singkat ini sebenarnya disusun oleh H Muhammad Faizin, Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung.***