

inNalar.com – Sebagai salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia, Inggris rupanya tidak lepas dari jejak kelam bencana kilang minyak yang sempat menggoncang perekonomian bangsanya.
Tragedi bersejarah yang terjadi di sebuah anjungan minyak lepas pantai negara bagian Inggris, Skotlandia ini sampai dinobatkan menjadi bencana kilang minyak terbesar dan termahal di dunia.
Bagaimana tidak, kejadian tidak terduga tersebut sempat membuat produksi minyak Inggris merosot sebesar 10%.
Baca Juga: Sedot Dana Fantastis, Proyek Radial Road Surabaya Diramalkan Kurangi Pemborosan Rp5 Miliar per Tahun
Imbas lebih jauhnya, kala itu diperkirakan negara tersebut mengalami imbas kerugian ekonomi mencapai GBP 2 miliar setara Poundsterling.
Apabila diperhitungkan dalam mata uang rupiah, maka dapat diketahui kerugian negara akibat bencana tersebut mencapai Rp40,46 triliun (kurs terkini 1 £: Rp20.228,79).
Tidak hanya menjadi petaka finansial besar bagi Inggris, kejadian tersebut telah merenggut nyawa 109 pekerjanya melayang sebab tidak kuat menghirup kebulan asap.
Lebih lanjut, 13 pekerja lainnya meninggal dunia dikarenakan tenggelam. Hingga tersisa 4 jenazah yang hingga akhir tidak dapat teridentifikasi.
Ledakan hingga runtuhnya kilang akhirnya tidak dapat dihindarkan lagi. Sedikitnya 61 korban berhasil selamat.
“Para pria di ruang kontrol terjatuh dan terlempar ke lantai,” dikutip inNalar.com dari the Chemical Engineer. Demikian sedikit gambaran kedahsyatan bencana kilang minyak terbesar di Inggris ini.
Baca Juga: Semakin Diakui Dunia, Taman Kota di Jakarta Selatan Seluas 7,3 Hektare Ternyata Dulu Area Tercemar
Meski begitu para korban mengalami luka hingga trauma akibat peristiwa nahas tersebut. Begitulah sedikit gambaran dari kemalangan dan kepanikan para pekerja saat kejadian berlangsung.
Itulah mengapa kemalangan yang terjadi di sebuah oil platform di anjungan lepas pantai Inggris ini disebut sebagai bencana kilang minyak terbesar dan termahal di dunia.
Bahkan, peristiwa yang terjadi di sebuah anjungan minyak Piper Alpha ini disebut juga sebagai tragedi anjungan minyak terburuk sepanjang sejarah dunia pertambangan migas.
Baca Juga: Fitur Atur Limit di BRImo, Solusi Mudah Kendalikan Pengeluaran dengan Kartu Debit
Lantas, apa yang sebenarnya menjadi penyebab peristiwa bencana Piper Alpha ini terjadi? Lalu bagaimana detail situasi kepanikan dan keparahan yang diakibatkan oleh kemalangan tersebut? Simak artikel ini hingga akhir ya.
Jadi, terjadinya bencana kilang minyak Inggris ini bermula dari adanya miskomunikasi antar pekerja shift, setidaknya demikian dari sejumlah hasil investigasi yang diinformasikan oleh berbagai sumber.
Baca Juga: Pesisir Utara Jawa Terancam Tenggelam, Pemerintah Bangun Tanggul Raksasa Rp 164,1 Triliun
Tidak ada yang mengira bahwa petaka besar akan terjadi pada 6 Juli 1988. Sebuah anjungan minyak yang mampu memproduksi lebih dari 300.000 barel per hari (bph) menjadi salah satu tumpuan ekonomi negara setidaknya hingga hari itu.
Dengan kegagahan kilang minyak seberat 14.000 ton, Piper Alpha setinggi 200 meter menjadi salah satu oil platform terbesar di Inggris. Namun segalanya mulai berubah saat salah satu pompa injeksi kondensat mengalami kerusakan.
Pekerja shift pertama mematikan pompa yang rusak dan menumpukan operasionalnya pada pompa lainnya.
Namun tidak disangka, pompa tersebut pun juga bermasalah di saat pekerja shift kedua memulai operasional mereka.
Dengan itu, pompa yang sebelumnya dimatikan karena perbaikan tersebut kembali dioperasikan oleh pekerja shift selanjutnya tanpa mengetahui bahwa katup pengaman belum terpasang.
Alhasil, suara lengkingan hingga kilat gemuruh menyambar Piper Alpha pada pukul 22.00.
Tidak lama berselang, saluran kondensat yang menyambung ke jalur minyak utama pun pecah dan terjadi ledakan lanjutan.
Baca Juga: Viral Tagihan Pajak Lewat WhatsApp, BRI Imbau Masyarakat Tidak Terkecoh Modus Penipuan Perbankan
Kebakaran hebat tidak terhindarkan dan struktur bangunan kilang minyak pun hancur dan tengggelam ke laut. Kondisi tersebut menyebabkan sekitar 81 pekerja di dalamnya tidak terselamatkan.
Untuk memulihkan keadaan, negaranya membutuhkan waktu setidaknya lebih dari 3 minggu.
Menurut data yang dihimpun dalam ACS Chemical Health and Safety (2020), bencana besar ini telah menyebabkan kesengsaraan bagi 226 pekerja kilang, 61 di antaranya diklaim selamat.***