Penjelasan Tentang Inflasi dan Jenisnya, BBM Pertalite Naik Rp10.000 Karena Adanya Inflasi, Simak Selengkapnya

inNalar.com – Publik dihebohkan dengan adanya kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Solar.

Kenaikan BBM Pertalite dan Solar disebapkan karena adanya inflasi di beberapa negara di dunia saat ini.

Namun, apa itu inflasi? ini dia penjelasan singkat dari inflasi yang menyebapkan BBM jenis Pertalite dan Solar ikut naik.

Baca Juga: Kunci Jawaban Matematika Kelas 8 SMP Halaman 64: Posisi Garis Terhadap Sumbu X

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu.

Namun, selain inflasi juga ada deflasi, yang merupakan kebalikan dari adanya inflasi secara umum.

Deflasi adalah penurunan harga barang secara umum dan juga terjadi secara terus menerus.

Baca Juga: Achmad Hermanto Dardak Meninggal Kecelakaan, Berikut Kronologi Singkatnya

Dalam Inflasi tentu kita harus mengenali tentang Classification of Individual Consumption by Purpose (COICOP) merupakan bahan pangan yang diperkirakan akan mengalami inflasi.

Seperti bahan makanan, makanan jadi, minuman, tembakau, perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan dan olahraga serta transportasi dan komunikasi.

Data tersebut didapatkan melalui survei Biaya Hidup (SBH) yang diperkirakan bisa terjadi inflasi dan deflasi.

Baca Juga: Presiden Joko Widodo Akan Menaikan Harga Pertalite, Luhut: Mungkin Minggu Depan Presiden Umumkan

Selain itu juga ada tentang disagregasi inflasi, yaitu dilakukan untuk menghasilkan indikator inflasi yang menggambarkan pengaruh dari faktor yang bersifat fundamental.

Di Indonesia, disagregasi inflasi IHK tersebut dikelompokan menjadi:

  1. Inflasi Inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten (persistent component) di dalam pergerakan ​inflasi dan dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti:
     
    1. Interaksi permintaan-penawaran.
    2. Lingkungan eksternal: nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang.
    3. Ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen.

  2. Inflasi non-Inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung tinggi volatilitasnya karena dipengaruhi oleh selain faktor fundamental. Komponen inflasi non-inti terdiri dari:

    1. Inflasi Komponen Bergejolak (Volatile Food): Inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun perkembangan harga komoditas pangan internasional.
    2. Inflasi Komponen Harga yang diatur oleh Pemerintah (Administered Prices): Inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) berupa kebijakan harga Pemerintah, seperti harga BBM bersubsidi, tarif listrik, tarif angkutan, dll.

Baca Juga: Achmad Hermanto Dardak Meninggal Kecelakaan, Berikut Kronologi Singkatnya

Inflasi timbul karena adanya tekanan dari sisi supply (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi.

Faktor-faktor terjadinya cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara mitra dagang.

Selain itu faktor penyebab demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya.

Baca Juga: Presiden Joko Widodo Akan Menaikan Harga Pertalite, Luhut: Mungkin Minggu Depan Presiden Umumkan

Dalam konteks makro ekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi permintaan total, lebih besar dari pada kapasitas perekonomian.

Seperti itulah sedikit pengertian dari inflasi ekonomi yang saat ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi di negara lainnya di dunia juga kena imbasnya.***

Rekomendasi