Kaisar Sambo dan Konsorsium 303 Seret Nama-nama Petinggi Polri, Ini Tanggapan Gus Baha

inNalar.com – Kaisar Sambo dan Konsorsium 303 diduga menyeret banyak anggota Polri bahkan para petingginya, Gus Baha ternyata pernah menanggapi persoalan ini.

Jauh sebelum perkara Kaisar Sambo dan Konsorsium 303 mencuat, Gus Baha menyampaikan kesamaan antara ahli fiqih dan hukum, dimana di Indonesia pihak berwajibnya adalah Polri.

Bermula dari kematian Brigadir J, Kaisar Sambo dan istrinya akhirnya ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan, kini kasus tersebut melebar serta menyeret anggota Polri lain.

Baca Juga: Fantastis! Anggaran Rp 252 Juta Hanya untuk Baju Dinas Bupati dan Wakil Bupati Lamongan

Tidak tanggung-tanggung ada petinggi Polri bahkan yang diduga berusaha menghalang-halangi proses penyidikan, kini Kaisar Sambo dan baga Konsorsium terkait judi viral.

Dilansir inNalar.com dari video yang diunggah di kanal YouTube Kata Kyai pada 8 Agustus 2022 Gus Baha mengutip ungkapan Gus Dur yang menyebut wajar ada kyai berbuat salah.

Gus Dur mengatakan bahwa ketika seorang ulama berbuat dosa tidak mengapa, karena akan tahu cara taubatnya, Gus Baha menjelaskan bahwa begitu pula pelanggatan hukum.

Baca Juga: Jalanan di Gunung Sawur-Kajar Kuning Lumajang Rusak Parah dan Banyak Lubang, Cak Thoriq Janji Begini

“Sama pelanggaran hukum itu ya harus pakar-pakar hukum, itu yang tau cara merekayasa, kalau kamu ya kena pasal, jadi kamu jangan meniru saya,” jelas Gus Baha.

Maksud Gus Baha dirinya memiliki sekian cara merekayasa fikih, sehingga tidak perlu diikuti dalam hal tersebut. Begitu pula adanya pakar hukum bisa saja berbuat demikian.

Kasus Kaisar Sambo dan Konsorsium 303 menjadi salah satu contoh, dimana menyeret banyak anggota Polri, ini menandakan ucapan Gus Baha ada benarnya, pakar hukum bisa merkayasanya.

Baca Juga: Siap-siap Pertalite Naik Jadi Rp10.000, Luhut: Mungkin Minggu Depan Presiden Akan Mengumumkan

Gus Baha kemudian melanjtkan pernjelasannya dalam hal fiqih, apabila ada seorang muslim pada sat Ramadhan, tidak mau berpuasa yang wajib, ini mudah saja dilakukan.

Kalau langsung makan tentu tentu tidak boleh, maka caranya yaitu dengan berniat safar, misalnya mau pergi sowan ke seorang kyai, maka status muqim berubah menjadi musafir.

Lalu jika tidak jadi atau nggak sampai maka bukan masalah, sebab mulai perginya sudah dihitung sebagai musafir, Gus Baha lalu bercanda menyebut dirinya kurang tahu.

Baca Juga: Persib Bandung Berhasil Kalahkan PSS Sleman, Ini Dia Profil dan Biodata David Da Silva, Instagram serta Umur

Apakah nantinya malaikat tertarik untuk mengurus sampai memukul atau tidak?, disitu terdapat hilah, ini diperboleh seperti diterangkan oleh Gus Baha, asalkan syaratnya harus sholeh.

Gus Baha lalu melanjutkan kepada pembahasannya yang hampir sama, tetapi kali ini melalui kisah Nabi Ayub as, ketika diasingkan kaumnya tidak memiliki makanan, istrinya sampai kerja.

Ketika mencati pekerjaan, ada permintaan istri dari sang raja saat itu mencari rambut, maka istri Nabi Ayub langsung memotong dan menjualnya, tetapi menurut sang suami mengurangi kecantikan.

Baca Juga: Kunci Jawaban Matematika Kelas 8 SMP Halaman 64: Posisi Garis Terhadap Sumbu X

Maka Nabi Ayub as marah dan megatakan akan memukul istrinya 100 kali dengan lidi, padahal yang dilakukan istrinya adalah untuk suaminya juga, maka Allah SWT memberi kebijakan.

Nabi Ayub as diperintahkan untuk mengikat 100 batang lidi, dan dipukulkan satu kali saja.***

Rekomendasi