Habiskan Kas Negara Rp40 Miliar, Pembangunan Jembatan di Sumatera Utara Sampai Hancurkan Monumen Penting

inNalar.com – Pembangunan jalan di Sumatera Utara tuai kritik dari warga setempat.

Pembangunan jembatan kedua di Porsea, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, telah menjadi topik hangat yang menuai pro dan kontra.

Dengan anggaran sebesar Rp40 miliar, proyek yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini bertujuan meningkatkan konektivitas di wilayah tersebut.

Baca Juga: Menteri PKP Akan Siapkan Rusun di Jakarta Seharga Rp1,1 Juta untuk TNI/Polri dan ASN dengan Syarat Khusus

Pembangunan ini juga menghancurkan salah satu monumen tentang perang dunia ke 2 karena menghalangi pembangunan.

Jembatan Porsea lama adalah salah satu peninggalan sejarah yang penting. Dibangun pada masa kolonial Belanda, jembatan tersebut bukan hanya infrastruktur vital, tetapi juga saksi bisu peristiwa besar selama Perang Dunia II.

Monumen tersebut ada untuk memperingati peristiwa baku tembak antara tentara Belanda dengan Jepang yang terjadi tahun 1942.

Baca Juga: Andalkan Pipa Sepanjang 38 KM, Proyek Sepaku IKN Bakal ‘Sulap’ Air Keruh Menjadi Air Minum Modern

Sayangnya, proyek pembangunan jembatan baru justru mengorbankan monumen tersebut dan terpaksa untuk dihancurkan.

Namun nantinya monumen tersebut akan dibangun ulang demi mengingat peristiwa bersejarah tersebut. Pembangunan akan dilakukan di sebelah kanan jembatan nantinya.

Pemerintah beralasan bahwa pembangunan jembatan kedua di Porsea sangat diperlukan untuk mengatasi kepadatan lalu lintas dan meningkatkan akses menuju kawasan wisata Danau Toba.

Baca Juga: Petaka Uruk Tanah, Progres Proyek Tembakau Kudus Senilai Rp39 Miliar Diterabas Meski Diduga Ada ‘Main’

Proyek ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, terutama dengan meningkatnya jumlah wisatawan.

Selain mengahncurkan monumen penting, proyek ini juga menimbulkan berbagai masalah teknis yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Proses konstruksi menyebabkan kemacetan lalu lintas yang parah di Porsea.

Banyak warga mengeluhkan gangguan aktivitas harian, termasuk pelaku usaha yang mengalami penurunan pendapatan akibat akses jalan yang terganggu.

Meski pemerintah menjanjikan manfaat jangka panjang dari proyek ini, dampak negatif yang dirasakan selama pembangunan menimbulkan kekecewaan di kalangan masyarakat.

Kemacetan lalu lintas yang terjadi setiap hari menjadi keluhan utama.

Alat berat dan material konstruksi yang menumpuk di sepanjang jalan mempersulit akses, baik bagi kendaraan pribadi maupun transportasi umum.

Pengguna jalan harus menghadapi waktu tempuh yang jauh lebih lama, sehingga mengganggu aktivitas harian mereka.

Meskipun warga mengakui pentingnya pembangunan jembatan ini untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan pariwisata, mereka berharap pemerintah lebih responsif terhadap dampak sosial yang muncul.

Kebutuhan infrastruktur tidak boleh mengorbankan kenyamanan masyarakat yang selama ini mengandalkan akses tersebut untuk kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, pembangunan infrastruktur memang krusial untuk mendukung kemajuan daerah.

Namun, kenyamanan dan kesejahteraan masyarakat harus menjadi prioritas selama proses pembangunan berlangsung.

Warga berharap agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kemacetan, sehingga manfaat jangka panjang dari proyek ini bisa dirasakan tanpa mengorbankan kepentingan mereka di masa kini.***(Muhammad Arif)

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]