

inNalar.com – Artikel ini akan berisi kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 9 SMP halaman 84 85 kegiatan 2 tentang melanjutkan cerpen Sepatu Butut.
Adanya kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 9 SMP halaman 84 85 kegiatan 2 tentang melanjutkan cerpen Sepatu Butut dalam artikel ini hanya bersifat sebagai referensi.
Sehingga, kebenaran dari kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 9 SMP halaman 84 85 kegiatan 2 tentang melanjutkan cerpen Sepatu Butut ini belum bisa dipastikan kebenarannya.
Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 9 Halaman 82 83: Uraian Cerpen Anak Rajin dan Pohon Pengetahuan
Jadi sebaiknya, sebelum menggunakan kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 9 SMP halaman 84 85 kegiatan 2 tentang melanjutkan cerpen Sepatu Butut ini, siswa kelas 9 mengerjakan terlebih dahulu secara mandiri.
Saat memutuskan untuk menggunakan kunci jawaban ini, pastikan untuk memastikan bahwa soal dan jawaban sudah sesuai.
Inilah kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 9 SMP halaman 84 85 kegiatan 2 tentang melanjutkan cerpen Sepatu Butut.
Baca Juga: Kunci Jawaban Tema 2 Kelas 4 SD Halaman 6 7 8 Subtema 1 Tentang Sumber Energi
Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP Halaman 85
Koda pada cerpen adalah bagian akhir cerita yang berisi penjelasan tentang sikap ataupun nasib-nasib yang dialami tokohnya setelah mengalami peristiwa puncak.
Tetapi tidak semua cerpen memiliki koda, tergantung kepada penulisnya. Ada cerpen yang penyelesaian akhir ceritanya itu diserahkan kepada imaji pembaca.
Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 9 Halaman 77 78 Kegiatan 5: Latihan Kata atau Kalimat Ekspresif
Pembahasan
Pada cerpen Sepatu Butut pada halaman 84-85, belum ada komplikasi atau peristiwa puncak.
Bagian terakhir yang dituliskan di buku adalah bagian rangkaian peristiwa yang dialami oleh tokoh.
Jadi, untuk menentukan kodanya, kita harus membuat puncak konflik dari cerpen tersebut.
Sepatu Butut (Cerpen Ely Chandra Perangin-Angin)
(Orientasi)
Entah sudah berapa kali aku mengatakan padanya untuk mengganti sepatu bututnya itu. Kalau sepatu itu masih layak pakai sih mungkin tidak apa-apa.
Tetapi sepatu itu sudah kelihatan sangat kumal, jauh dari kategori layak pakai.
Baca Juga: Hacker Bjorka Diduga Asal Indonesia, Ini Fakta Mengejutkan Mengenai Peretas Data Penting Pemerintah
Walaupun orang tua kami bukanlah orang yang kaya. Tetapi kurasa mereka masih mampu membelikan Andi sebuah sepatu baru yang lebih Iayak pakai.
Entah mengapa pula. hanya aku yang selalu memperhatikan sepatu bututnya Andi.
Sepatu butut itu begitu menggangu pandanganku. Orang tua kami tidak pernah protes kalau Andi menggenakan sepalu butut itu lagi.
Baca Juga: Punya 5 Anak dan 7 Cucu, Penyebab Utama Sang Pembantu Nekat Bobol Brankas Dara Arafah
(Rangkaian Peristiwa)
Pagi ini kami akan berangkat sekolah. Lagi-lagi sepatu butut itu Iagi yang kuperhatikan.
Tidak ada yang lain yang kuperhatikan dari Andi. Aku jadi malas bila berjalan dengannya. Aku malu bila harus berjalan dengannya. Seperti berjalan dengan seorang gembeel.
Baca Juga: Pasca Sentil Anies Baswedan Hingga Tito Karnavian, Bjorka Kini Bongkar Rahasia Ketua PSSI
Sepatu butut itu begitu mengganggu pikiranku kenapa Andi tidak minta sepatu baru saja biar keren seperti teman-temannya, si Ivan dengan sepatu ketsnya, atau seperti Dodi dengan sepatu sportnya?
Di suatu malam, aku berpikir untuk menyingkirkan sepatu butut itu. Aku berencana membuangnya di hari Sabtu malam, karena kutahu ia akan mencucinya di hari Minggu.
Jadi kalau di hari Minggu ia tidak menemukannya, masih ada kesempatan untuk membeli yang baru sehingga ia masih bisa masuk di hari Seninnya.
Baca Juga: Kaesang Pangarep Kesal Kecolongan Soal Kabar Nikah dengan Erina Gudono: Padahal Mau Ngumumin Sendiri
Untuk membuang sepatu butut tentu saja tidak memerlukan rencana yang rumit. cukup sederhana saja pasti aku bisa melakukannya, hanya tinggal menunggu Andi tidur di malam hari, dan kemudian aku tinggal menjalankan misinya.
Hari yang kunantikan pun tiba. Segera aku bersiap menjalankan misiku. Kulihat Andi sedang tidak ada di rumah.
(Komplikasi) – Menuju konflik (rising action)
Aku lupa kalau Andi pergi bermain sepakbola di lapangan dekat rumah. Sepatu bututnya pun tidak ada di rak sepatu.
Seandainya sepatu butut itu tidak dibawa, aku bisa membuangnya. Dan ketika Andi bertanya dimana sepatunya, aku bisa saja menjawab kalau sepatunya digondol tikus atau dipungut pemulung yang lewat.
“Ibu,” sapa Andi pelan dari belakangku. Terkejut aku mendengarnya karena sedang membayangkan skenario yang pas untuk membuang sepatunya.
Baca Juga: Kaesang Disebut Segera Nikahi Erina Gudono Desember Nanti, Malah Tanya Soal Hal Ini pada Gibran
“Baru pulang ya?” tanyaku setengah tergagap, sambil melihat sepatu butut yang sedang dipegangnya.
“Iya. Sepatu Dodi jebol, Bu. Bubar jalan deh,” katanya sambil membersihkan sepatunya dari tanah yang menempel.
Puncak Konflik (Turning Point)
Tiba-tiba ada rasa ingin bertanya kepada Andi, kenapa ia begitu sayang dengan sepatunya.
“Ndi, Ibu boleh bertanya? Kenapa Andi tidak meminta sepatu yang baru kepada Ibu dan Ayah? Sepatu yang ini sudah kusam warnanya. Sol sepatunya pun sudah tipis. Dan lapisannya juga sudah mengelupas. Apa Andi tidak malu memakainya?” tanyaku penasaran.
“Ah Ibu. Ibu lupa ya dengan sejarah sepatu ini? Ini kan sepatu yang dibelikan oleh nenek sebelum nenek meninggal. Waktu itu nenek pulang dari rumah sakit. Di perjalanan pulang, nenek mampir ke toko sepatu. Meski dengan susah payah, nenek masih saja memilihkan sepatu untuk Andi. Bagaimana bisa Andi bisa menggantinya dengan yang lain, Ibu?” katanya sambil menatap sepatu bututnya.
Seperti ada sesuatu yang menyesakkan dadaku. Hampir dua tahun yang lalu, ibuku membelikan sepatu ini.
Ibu berkata kalau ingin sekali membelikan sepatu karena sepatu Andi yang lama sudah tidak cukup lagi. Tanpa terasa ada genangan air di mataku.
(Resolusi) atau Penyelesaian (Koda)
Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 9 Halaman 77 78 Kegiatan 5: Latihan Kata atau Kalimat Ekspresif
“Kalau Ibu mau membelikan Andi sepatu yang baru, Andi mau saja kok, Bu. Tapi ijinkan Andi menyimpan sepatu ini setelah mencucinya ya, Bu. Andi tahu kok kalau Ibu risih melihat Andi memakai sepatu ini karena sudah butut,” pinta Andi.
“Iya, Ndi. Boleh. Boleh sekali. Nanti sepatunya dicuci yang bersih, kemudian disimpan di tempat yang kering. Agar tidak mudah berjamur,” kataku terharu.
“Terima kasih, Ibu,” kata Andi sambil tersenyum.
Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Inggris Kelas 8 Halaman 30, Observing and Asking Questions
Disclaimer:
Kunci jawaban yang ada di artikel ini belum pasti kebenarannya, karena hanya bersifat sebagai referensi.
inNalar.com tidak bertanggung jawab jika ada kesalahan jawaban. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi