BRI Sukses Tekan NPL, Begini Strategi Cerdas BRI Turunkan Rasio Kredit Bermasalah


Jakarta, inNalar.com – Usai menerapkan sejumlah strategi, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berhasil menurunkan rasio kredit bermasalah.

Sebagai buktinya, tercatat perseroan berkode BBRI ini telah menyalurkan kredit sebesar Rp1.353,36 triliun.

Pencapaian tersebut mengalami pertumbuhan hingga 8,21% jika dilihat dari periode tahunan atau year on year (yoy).

Baca Juga: Bikin Geger Dunia! AS Bangun Kota Terapung di Kapal Pesiar, Sanggup Tampung 7.960 Orang

Bersamaan dengan itu, kualitas tata kelola aset perseroan juga mengalami peningkatan gemilang.

Hal tersebut dapat terlihat dari rasio Non Performing Loan (NPL) BRI yang terevaluasi terus membaik.

Selain itu, rasio NPL pada periode triwulan III 2024 pun terpantau sebesar 2,9%.

Baca Juga: Sempat Diisukan Salah Desain, Proyek Jembatan Longspan di Jakarta Selatan Ternyata Porot Dana Rp235,88 Miliar per KM

Cukup membaik apabila dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya yang menembus 3,07%.

Sementara rasio Loan at Risk (LAR) juga mengalami penurunan yang mencerahkan.

Pada triwulan III 2024, LAR berada di 11,66%. Rasio penurunan positif dari periode tahun sebelumnya yang mencapai 13,80%.

Baca Juga: Hanya di Kalimantan Barat, Isi Bensin ke SPBU Terapung di Laut: Pelanggannya dari Pulau Seluas 764.60 KM2 Ini

Keberhasilan dalam menekan rasio NPL tersebut tidak lain dikarenakan semakin apiknya strategi perseroan dalam mengelola kredit.

Hal tersebut dibeberkan langsung oleh Direktur Manajemen Risiko BRI Agus Sudiarto. Menurutnya, penurunan NPL tersebut tidak lepas dari sederetan strategi BRI dalam mengelola kredit Perseroan BBRI, mulai dari front-end, mid-end, hingga back-end.

“Baik di front-end pada saat kita underwrite kredit-kredit yang baru kemudian mensupervisi kredit-kredit yang ada di dalam buku kita,” beber Agus dalam Konferensi Pers di Jakarta pada Rabu, 30 Oktober 2024.

Baca Juga: Sudah Tahu? Pertamina Punya SPBU Terindah di Dunia: Lokasinya Terpencil di Atas Teluk Cantik NTT

Lebih khusus lagi sejak awal triwulan II-2024 memang kami memperketat di front-end-nya,” lanjutnya.

Lantas, strategi seperti apa yang diterapkan BRI sehingga rasio kredit bermasalah dapat menurun dan teratasi secara efisien dan efektif?

Pengetatan Seleksi Kredit bagi Debitur Baru

Secara gamblang, Agus mengungkapkan bahwa hal pertama yang menjadi perhatian perseroan adalah seleksi kredit bagi para debitur baru.

Baca Juga: RI OTW Saingi China! Jembatan Lengkung Terpanjang di Dunia Ada di Jakarta: Melintang 148 Meter Tanpa Tiang

Lebih lanjut, penyaringan debitur baru tentu disesuaikan dengan kriteria yang ditelah ditentukan oleh pihak perseroan sedari awal.

Sehingga dengan cara tersebut, debitur yang mengajukan kredit akan tersaring. Alhasil, NPL BRI pun mengalami penurunan.

“Kita tahu di kuartal 1 tahun ini kita sempat ada kenaikan di NPL ratio tapi dengan berbagai strategi yang kita lakukan, tidak hanya NPL sebenarnya yang turun, termasuk juga di LAR-nya juga kita mengalami penurunan,” tuturnya.

Baca Juga: Proyek Mandek 9 Tahun Gegara Kontroversi, Bandara Baru di Bali Utara Bangun dari ‘Mati Suri’ Berkat Prabowo

Disiplin dalam Pengelolaan Manajemen Risiko

Strategi selanjutnya diungkap pula oleh Direktur Utama BRI Sunarso. Menurutnya, keberhasilan penurunan rasio NPL dan LAR ini tidak lain dan tidak bukan dikarenakan adanya aplikasi tata kelola manajemen risiko yang disiplin.

Aktif Memantau Kualitas Kredit & Adopsi Early Warning System

Lebih dalam dari itu, perseroan pun secara aktif memantau kualitas kredit dan mengadopsi Early Warning System guna mengantisipasi persoalan kredit macet sejak dini.

Baca Juga: Habiskan Dana Rp195 Triliun Berujung Gagal, Proyek Uni Emirat Arab Ini Dinobatkan Sebagai Parodi Abad 21

Perkuat Tim Recovery dalam Kelola Kredit Bermasalah

Strategi lainnya yang dilakukan BRI adalah dengan memperkuat tim recovery. Hal ini dilakukan agar pengelolaan kredit bermasalah dapat teratasi dengan cepat dan efisien.

Di samping kualitas kredit yang kian membaik, BRI juga tetap mengupayakan pencadangan yang memadai dengan penyediaan NPL Coverage sebesar 215,44%.

“BRI telah mengimplementasikan berbagai langkah mitigasi risiko, mulai dari selective growth, pemantauan kredit secara proaktif, penguatan pencadangan, hingga penyelesaian kredit bermasalah yang dilakukan dengan pendekatan kolaboratif bersama nasabah,” kata Sunarso.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]