Unik! Ternyata di Zambia Pernah Ada Proyek Afronaut, Ambisi Sebarkan Agama ke Mars dengan Modal Rp2 Ribu Saja

inNalar.com – Di tengah gemuruh perlombaan luar angkasa pada dekade 1960-an, di Zambia muncul dengan sebuah proyek ambisius yang dipimpin oleh seorang guru sains bernama Edward Makuka Nkoloso.

Proyek ini, yang dikenal sebagai Afronaut, tidak hanya bertujuan untuk menjelajahi planet merah, tetapi juga memiliki misi yang unik.

Yang tak lain adalah menyebarkan agama Kristen kepada penduduk Mars yang dianggap primitif oleh guru sains asal Zambia ini.

Baca Juga: Ada Perusahaan Nuklir Investasi Rp17 Triliun, Benarkah PLTN Pertama Indonesia Bakal Ada di Bangka Belitung?

Proyek Afronaut dimulai pada tahun 1960, saat salah satu dari negara di benua Afrika ini masih belum resmi merdeka dari Inggris.

Nkoloso, yang merupakan pendiri Zambia National Academy of Science, Space Research and Philosophy, memiliki visi yang jauh melampaui batasan-batasan zaman.

Yang percaya bahwa kehidupan mungkin ada di Mars dan merasa terpanggil untuk mengkonversi penduduk planet tersebut ke dalam ajaran Kristen.

Baca Juga: Biayanya Rp 1,47 triliun, Bendungan Mbay NTT Akan Jadi Infrastruktur Pengelolaan Air Termegah di Indonesia

Dalam pandangannya, misi ini bukan hanya tentang eksplorasi luar angkasa, tetapi juga tentang penyebaran nilai-nilai spiritual.

Misi utama dari proyek Afronaut adalah mengirimkan seorang astronaut dan misionaris ke Mars. Nkoloso berencana untuk menggunakan roket yang ia sebut D-Kalu 1 untuk mencapai tujuan tersebut.

Dalam benaknya, keberadaan kehidupan di planet merah ini menjadi alasan kuat untuk melakukan misi ini.

Baca Juga: Kemiringannya 40 Persen, China Punya Jalan Paling Ekstrim di Dunia: Babat Bukit Demi Berantas Kemiskinan

Sehingga dirinya ingin mendirikan kementerian Kristen di planet merah dan percaya bahwa tugasnya adalah membawa pesan iman kepada makhluk-makhluk yang mungkin ada di sana.

Salah satu aspek menarik dari proyek ini adalah desain roket D-Kalu 1 yang direncanakan akan meluncur pada tanggal 24 Oktober 1964.

Meskipun tidak memiliki teknologi canggih seperti program luar angkasa negara-negara besar, Nkoloso merancang roketnya dengan menggunakan bahan-bahan sederhana.

Baca Juga: Investasi Senilai Rp39,1 Triliun, Microsoft Bangun Pusat Data di Spanyol: Mampu Buka 2.100 Lapangan Kerja

Proyek ambisius ini tentu saja memiliki hambatan, bahkan pemerintah Zambia sendiri tidak mendukung dan menyatakan bahwa mereka tidak ikut andil apa pun.

Hal tersebut dikarenakan program ini menjadi bahan olok-olokan negara lain yang juga sedang mencoba untuk mengeksplorasi Mars.

Meskipun demikian Nkoloso tetap menjalankan program mengirim manusia ke Mars ini. Bahkan hingga mencoba mencari dana ke berbagai pihak.

Baca Juga: Pindahkan Laut ke Atas Gurun? Ini Dia Megaproyek Terbesar di Kuwait Senilai Rp76 Triliun: Mau Buat Apa?

Mulai dari Amerika, Uni Soviet, Liga Arab, bahkan hingga UNESCO. Dalam surat proposalnya guru sains ini meminta dana sekitar 20 juta hingga 2 miliar USD.

Tetapi semua pihak tersebut tidak ada satu pun yang mengabulkan permintaan bantuan dana tersebut. Adapun pihak yang membalas mereka hanya memberikan nasihat, harapan, dan doa saja.

Namun meskipun demikian proyek ini ternyata menarik banyak perhatian dan simpatisan asing yang mengirimkan banyak surat dukungan.

Dan di dalam banyak surat tersebut terdapat satu surat yang berisi uang sebesar 10 Rupee yang bila dirupiahkan menjadi sekitar Rp2.000 saja.

Atas semua tantangan berat tersebut akhirnya proyek ambisius yang bisa mengubah pandangan dunia ini harus gagal.

Karena pada tanggal yang sama dengan rencana peluncuran roket D-Kalu 1, Zambia resmi dinyatakan merdeka sepenuhnya dari Inggris.***

Rekomendasi