

inNalar.com – Candi Borobudur merupakan contoh dari megaproyek yang dibangun dengan sangat baik sehingga dapat bertahan selama berabad-abad lamanya.
Terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur menjadi salah satu keajaiban arsitektur dunia dan merupakan monumen Buddha terbesar di dunia.
Dikenal sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO, Candi Borobudur tidak hanya menjadi simbol spiritual bagi umat Buddha tetapi juga daya tarik wisata.
Baca Juga: Proyek Turbin Pintar RI-China, PLTB Ini Bakal Pasok Listrik Hingga 200 MW Ke Daerah Timur Indonesia
Megaproyek ini dipercaya dibangun pada masa Dinasti Syailendra sekitar tahun antara 780 hingga 840 Masehi.
Raja Samaratungga, yang memerintah pada periode tersebut, diyakini sebagai sosok kunci dalam proses awal pembangunan candi ini.
Candi yang berada di Magelang ini dirancang sebagai tempat pemujaan dan ziarah bagi umat Buddha Mahayana, dengan tujuan untuk memuliakan ajaran Buddha.
Dengan proses konstruksi panjang yang melibatkan kerja sama masyarakat hingga berlangsung selama beberapa dekade.
Sebenarnya megaproyek yang telah menjadi salah satu bangunan bersejarah di Jawa Tengah ini sempat terlupakan dan tertutup oleh semak-semak serta debu vulkanik.
Hingga akhirnya ditemukan kembali oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814.
Penemuan ini membuka jalan bagi upaya restorasi yang lebih serius. Pembersihan candi dilakukan secara bertahap hingga akhirnya selesai secara keseluruhan pada tahun 1835.
Pemugaran pertama pada megaproyek dari zaman kuno ini dilakukan oleh Th. Van Erp antara tahun 1907 hingga 1911 untuk mengembalikan fungsi dan bentuk fisik candi.
Setelah itu, pemugaran lanjutan dilakukan dengan dukungan UNESCO dari tahun 1973 hingga 1983.
Dengan fokus pada membersihkan bagian bawah Arupadhatu dan mengembalikan kembali posisi struktur ke keadaan semula.
Upaya restorasi ini sangat penting untuk menjaga integritas salah satu candi milik Indonesia ini sebagai warisan budaya dunia.
Candi Borobudur di Jawa Tengah ini memiliki koleksi relief Buddha terlengkap di dunia dengan total 2.672 panel relief dan 504 patung Buddha dalam berbagai posisi meditasi.
Arsitektur candi memiliki makna mendalam terkait ajaran dan filosofi mandala yang mencerminkan alam semesta dalam kepercayaan Buddha.
Dan hal tersebut diaplikasikan menjadi 3 zona berbeda yang masing masing memiliki makan tersendiri, yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.
Pertama, adalah Kamadhatu yang merupakan zona paling bawah sebagai penggambaran dari kehidupan manusia di dunia yang penuh dengan nafsu dan dosa.
Pada bagian paling bawah ini terdapat 160 relief yang menjelaskan Karmawibhangga Sutra, yaitu hukum sebab akibat dalam ajaran Budha.
Kedua, adalah Rupadhatu yang merupakan penggambaran dari kehidupan manusia yang terbebas dari hawa nafsu namun masih terikat dengan hal-hal duniawi.
Pada bagian tengah ini terdapat berbagai relief yang menggambarkan kisah perjalanan hidup Sang Buddha.
Dan yang ketiga sekaligus zona teratas pada bangunan ini adalah Arupadhatu yang melambangkan pencapaian spiritual tertinggi.
Di bagian ini terdapat stupa-stupa berbentuk lingkaran tanpa ornamen, simbol kemurnian dan kebangkitan dalam ajaran Budha.
Lalu pada tahun 1991, Candi Borobudur resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.
Di mana hal tersebut menegaskan pentingnya candi ini dalam konteks global sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan.
Pengakuan ini membawa dampak positif bagi pariwisata Indonesia, menjadikan bangunan bersejarah ini sebagai salah satu tujuan wisata utama yang menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya.***