Laga Arema FC vs Persebaya Berakhir Ricuh, Mahfud MD : Panpel Tolak Usulan Aparat


inNalar.com – Pertandingan Arema FC vs Persebaya yang dimenangkan tim tamu harus berakhir ricuh setelah laga berakhir.

Mahfud MD ikut beri tanggapan atas laga Arema FC vs Persebaya yang berakhir ricuh di Stadion Kanjuruhan sabtu malam.

Berdasarkan paparan Mahfud MD terungkap jika panpel sempat menolak usulan aparat keamanan yang sedianya akan bertugas.

Baca Juga: Tragedi Sepakbola Indonesia Kembali Terjadi, Kerusuhan Usai Laga Persebaya vs Arema FC Telan 153 Korban Jiwa

Hal ini diketahui Mahfud MD dari komunikasi bersama Kapolri, Jenderal Listyo Sigit serta koordinasi dengan Irjen Nico Afinta selaku Kapolda Jatim.

Secara tertulis Mahfud MD menjabarkan hasil komunikasi tersebut sebagaimana dikutip inNalar.com dari akun instagram @mohmahfudmd.

Dalam tulisan tersebut, awalnya Mahfud MD mewakili pemerintah turut mengucapkan rasa belasungkawa kepada korban yang terlibat dalam kericuhan tadi malam.

Baca Juga: dr Tirta Ikut Soroti Kerusuhan di Kanjuruhan, Singgung Kesalahan Penggunaan Gas Air Mata

“Kepada keluarga korban, kami menyampaikan belasungkawa. Kami juga berharap agar keluarga korban bersabar dan terus berkoordinasi dengan aparat dan petugas pemerintah di lapangan. Pemda Kabupaten Malang akan menanggung biaya rumah sakit bagi para korban,” tulis Mahfud MD.

Mahfud MD juga mengungkapkan usulan awal dari aparat keamanan sebelum laga Arema FC vs Persebaya digelar.

“Sebenarnya, sejak sebelum pertandingan pihak aparat sudah mengantisipasi melalui koordinasi dan usul-usul teknis di lapangan. Misal, pertandingan agar dilaksanakan sore (bukan malam), jumlah penonton agar disesuaikan dgn kapasitas stadion yakni 38.000 orang. Tapi usul2 itu tidak dilakukan oleh Panitia Pelaksana yang tampak sangat bersemangat. Pertandingan tetap dilangsungkan malam, dan ticket yang dicetak jumlahnya 42.000,” tulis Mahfud MD.

Baca Juga: Usai Kerusuhan Laga Persebaya vs Arema FC Korban Meninggal Bertambah 153 Orang, Pihak Arema FC Buka Suara

Selain itu Mahfud MD juga menegaskan jika tidak ada keterlibatan suporter Persebaya saat terjadi ricuh di Kanjuruhan.

“Perlu saya tegaskan bahwa tragedi Kanjuruhan itu bukan bentrok antar supporter Persebaya dengan Arema. Sebab pada pertandingan itu supporter Persebaya tidak boleh ikut menonton. Supporter di lapangan hanya dari pihak Arema. Oleh sebab itu, para korban pada umumnya meninggal karena desak-desakan, saling himpit, dan terinjak-injak, serta sesak nafas. Tak ada korban pemukulan atau penganiayaan antar supporter,” tulis Mahfud MD.

Di samping itu Mahfud MD menjelaskan jika sebelumnya pemerintah sudah melakukan perbaikan untuk sepak bola di Indonesia.

Baca Juga: Telan 153 Korban Jiwa, Tragedi Kanjuruhan Arema FC vs Persebaya Cetak Rekor Jadi Laga Maut Paling Besar

“Pemerintah telah melakukan perbaikan pelaksanaan pertandingan sepak bola dari ke waktu dan akan terus diperbaiki. Tetapi olahraga yang menjadi kesukaan masyarakat luas ini kerap kali memancing para supporter untuk mengekspresikan emosi secara tiba-tiba,” akhir tulisan Mahfud MD.

Tak bisa dipungkiri memang sepak bola menjadi salah satu olahraga favorit dengan animo yang besar saat ini di Indonesia.

Namun perlu kontrol dan tindakan yang tegas untuk membuat suporter lebih disiplin serta pembenahan kompetisi perlu dilakukan. ***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]